Putri Swasti

Dongeng ini, saya tulis sekitar tahun 2007. Ngetiknya pun masih pakai mesin ketik. Lalu seingat saya, saya kirim via pos.
Dongeng putri Swasti idenya, dari salah satu dongeng yang menang Lomba dongeng Bobo 2003, yaitu Putri yang Tidak Dikutuk, Karya  Mbak Maria Wiedyaningsih. Ceritanya tentang dua putri bersaudara. Sang kakak cantik, dan sang adik tidak cantik. Namun kenapa Pangeran malah memilih sang adik? Karena ada ada sesuatu yang dimiliki sang adik. Ceritanya sangat bagus, dan jadi referensi saya menulis dongeng.
Dulu saya hanya membaca karya-karya Mbak Maria. Tapi sekarang, kami berteman hehehe. Hidup facebook.



Nah, dari ide itu, saya mulai mengolah ide, dengan patokan 'Seorang Putri tidak harus cantik rupanya. Tapi bisa cantik lainnya". Tentu saja  saya harus bisa mengolah cerita yang berbeda. Jadi idenya saja yang kita pertahan.
Alhamdulillah, dongeng Putri Swasti dimuat di majalah Bobo edisi 29, bulan November 2003. Lalu dua tahun berikutnya dimuat di Kumpulan dongeng Pustaka Ola.
Penasaran dengan dongeng Putri Swasti?











Silakan dibaca cerita lengkapnya..


                                                       Putri Swasti 
                                                        Bambang Irwanto

      Hari itu, Putri Mirella sangat gembira. Ia diajak oleh kedua orangtuanya, Raja Antangin dan Ratu Umiran berkunjung ke negeri tetangga. Rencananya, hari ini mereka akan berkunjung ke kerajaan Kuning Wangi yang dipimpin oleh Raja Aryapada, sahabat Raja Antangin.
   Sepanjang perjalanan, Putri Mirella terus saja bersenandung riang. Apalagi kata Ratu Umiran, Raja Aryapada juga mempunyai seorang Putri yang bernama Putri swasti dan seusia dengan Putri Mirella. Putri mirella jadi tidak sabar untuk segera tiba disana.
   Tapi alangkah kecewanya putri Mirella setelah bertemu dengan Putri Swasti. Ternyata Putri Swasti sangat berbeda dengan Putri-putri Raja lainnya. Putri swasti sama sekali tidak cantik. Badannya kurus dan kulitnya berwarna gelap.
   “Badanku kurus, karena aku tidak suka makan dan minum susu. Kulitku coklat terbakar matahari, karena aku senang bermain di luar istana,” begitu kata putri Swasti ketika Putri Mirella bertanya padanya.
   Putri Mirella lalu mengajak Putri Swasti bermain. Pertama mereka bermain tebak-tebakkan. Putri Mirella bisa menjawab semua tebakan Putri Swasti. Tapi sebaliknya, Putri Swasti tidak satupun bisa menjawab tebakan yang diajukan Putri Mirella.
   Selanjutnya Putri Mirella mengajak Putri swasti adu lari menaiki sebuah bukit di belakang istana.. Tentu saja Putri Mirella yang menang. Dengan badan yang kurus seperti itu, bagaimana mungkin Putri Swasti bisa berlari kencang dan menaiki bukit yang tinggi.
   ”Ehm, benar-benar putri yang lamban,” gumam Putri Mirella saat melihat Putri Swasti tertinggal jauh di belakang.
   ”Kamu bisa menari, Swasti?” tanya Putri Mirella saat mereka sedang istirahat.
Putri Swasti hanya menggeleng, karena mulutnya penuh dengan makanan.
   ”kamu bisa memasak atau menyulam?” tanya Putri Mirella lagi.
 Lagi-lagi Putri Swasti hanya menggeleng.
     Ehm, Putri Swasti sama sekali tidak mempunyai kelebihan apa-apa, gumam Putri Mirella. Putri  Swasti tidak cantik, tubuhnya kurus, kulitnya coklat. Putri Swasti tidak pintar, tidak bisa menari dan juga lamban. Lalu apa kelebihan Putri Swasti? Sepertinya Putri Swasti samasekali tidak cocok menjadi Putri Raja, gumam Putri Mirella lagi.
   Sehabis makan siang, Putri Swasti mengajak Putri Mirella jalan-jalan keliling negeri. Putri Swasti membawa banyak sekali kantong-kantong yang berisi makanan.
   ”kenapa kamu membawa kantong-kantong makanan yang sangat banyak, Swasti?” tanya Putri Mirella.
   ”Oh, kantong-kantong makanan ini akan aku bagi-bagikan pada setiap rakyat yang membutuhkan,” jawab Putri swasti sambil tersenyum.
   Mereka pergi dengan kereta kuda. Sepanjang perjalanan, Putri swasti banyak bercerita tentang negerinya pada Putri Mirella.Tiba-tiba saja kereta kuda yang mereka tumpangi berhenti.
   ”Ada apa, Pak Toping?” tanya Putri Swasti pada kusir kereta kudanya.
   ”Ada seorang nenek yang terjatuh ditengah jalanan, Tuan Putri!” jawab Pak Toping.
   ”Ayo, kita bantu Nenek itu, Mirella!” ajak Putri Swasti, lalu segera turun dari kereta kuda.
    Sebenarnya Putri Mirella ingin menolak, tapi Putri Swasti terus saja memaksa.
    Putri Swasti dan Putri Mirella segera membantu wanita tua itu berdiri dan menuntunnya ketepi jalan. Tanpa ragu, Putri Swasti juga membantu mengumpulkan kayu-kayu bakar yang berserakan dijalan. Sementara Putri Mirella hanya memperhatikan saja.
   ”Kenapa Nenek terjatuh ditengah jalan?” tanya Putri Swasti.
   ”Nenek dari hutan mencari kayu bakar. Tiba-tiba kepala Nenek pusing dan akhirnya Nenek terjatuh. Mungkin karena dari pagi, Nenek belum makan,” jawab nenek itu.
   ”Oh, kasihan sekali,” Putri Swasti segera mengambil satu kantong makanan yang tadi dibawanya dari dalam kereta, lalu memberikan pada Nenek itu. Nenek itu langsung makan dengan lahap.
   ”Nenek tinggal dimana dan dengan siapa?”
   ”Di desa seberang, di ujung jalan ini,” tunjuk nenek itu. ”Nenek hanya tinggal seorang diri.”

   ”Kalau begitu, saya akan mengantarkan nenek pulang. Ayo Nek, naiklah keatas kereta kuda itu!”
    Sebenarnya Putri Mirella tidak setuju. Tapi Putri Swasti sudah membukakan pintu kereta dan mempersilahkan Nenek itu masuk kedalamnya. Bagaimana mungkin, seorang Putri Raja duduk bersama rakyat jelata dalam satu kereta? Sepanjang perjalanan ke rumah nenek itu, Putri Mirella terus saja menutup hidungnya. 
   Tidak beberapa lama, mereka sudah sampai dirumah nenek itu. Putri Swasti dan Putri Mirella
kembali menuntun nenek itu masuk kedalam rumahnya, lalu membaringkannya ditempat tidurnya yang mungil. Tanpa ragu, Putri Swasti pergi kedapur, memasak bubur dan air panas.
   ”Istirahatlah, Nek! Jangan bekerja dulu! bila nanti nenek lapar, saya sudah memasak bubur untuk Nenek!” pesan Putri Swasti sambil menyelimuti Nenek itu.
   ”Terima kasih, Tuan Putri! Tapi Putri, bila saya tidak bekerja, bagaimana saya dapat uang untuk makan?” kata Nenek itu sedih.
 Putri Swasti tersenyum  mengeluarkan kantong uang yang terselip dipinggangnya. ”Nenek jangan khawatir! Semoga uang ini cukup untuk makan dan membeli obat sampai Nenek sembuh,” Putri swasti memberi lima keping uang emas pada Nenek itu.
   ”Terima kasih, Tuan Putri! Uang ini banyak sekali!” kata Nenek itu sambil menangis terharu.
   Setelah itu Putri Swasti mengajak Putri Mirella untuk membagi-bagi kantong makanan pada rakyat yang membutuhkan. Putri Mirella masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Baru kali ini, ia melihat seorang Putri Raja mau menolong rakyat biasa.
   Putri Mirella merasa malu. Selama ini, ia tidak pernah melakukan seperti apa yang dilakukan Putri Swasti. Jangankan menolong rakyat jelata, berdekatan saja dengan mereka, Putri Mirella merasa jijik. Yang ia lakukan selama ini, hanya berdandan untuk mempercantik dirinya sendiri.
   Menjelang petang, Raja Antangin, Ratu Umiran dan Putri Mirella pulang ke kerajaannya. Dalam perjalanan pulang, Putri Mirella bercerita tentang pengalamannya bersama Putri Swasti.
   ”Sekarang kamu mengerti, anakku! Putri Swasti memang tidak cantik dan bertubuh kurus. Dia juga tidak pintar dan lamban. Tapi Putri Swasti mempunyai hati yang mulia. Kecantikan Putri swasti, terpancar dari dalam dirinya. Inilah yang paling penting dimiliki oleh seorang putri Raja, Karena Putri Raja adalah panutan bagi rakyatnya,” kata Raja Antangin sambil mengusap kepala Putri Mirella dengan lembut.


                                                                                                       

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Terima kasih. Salam semangat menulis.