Riri Adikku

                         
                                                Bambang Irwanto

Aku sedang mengerjakan PR matematika di kamarku. Tiba-tiba Riri, adikku masuk. Ia memegang selembar kertas dan spidol warna merah.
“Kak, ajarin gambar mawar,” pinta Riri.
“Nanti ya, Ri! Kakak kerjakan PR dulu!” jawabku lalu menyimak soal matematika di buku paket.
“Sekarang aja, Kak!” Riri menguncang-guncang bahuku
“Nanti aja ah, kakak lagi kerjakan pr,” tukasku sambil menepis tangan Riri dari pundakku.
Riri menghentakkan kaki kanannya keras-keras ke lantai kamar. Bibirnya maju beberapa senti. Ia menatapku tajam. Setelah itu Riri keluar kamarku.
“Uuh.. ngambek lagi, ngambek lagi,” kataku sambil meneruskan mengerjakan pr matematika. Namun kosentrasiku sudah sedikit terganggu.
Itulah kelakuan Riri. Adik perempuanku. Umurnya baru 5 tahun. Riri itu suka sekali ngambek. Mama telat bikin susu, Riri ngambek. Telat diputarkan film kartun, Riri ngambek. Kadang bikin aku kesal.
“Nia, Riri kenapa?” Tanya Mama yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.
“Itu, Ma! Riri minta diajarin gambar bunga mawar. Padahal aku lagi mengerjakan pr,” jawabku. “Riri pasti nangis di kamarnya ya, Ma?”
“Iya,” jawab Mama.
***
“Rania, hari ini jadi kan belajar di rumahmu?” tanya Meila saat bel pulang berbunyi.
Meila baru seminggu bersekolah di sekolahku. Ia pindahan dari Bandung. Anaknya manis dan baik. Aku senang sebangku dengannya. Karena itu, dengan senang hati aku membantunya mengejar ketinggalan pelajaran.
“Iya. Jadi. Tapi...”
“Kenapa? Kamu mau pergi?” kening Meila berkerut.
“Nggak. Bagaimana kalau belajar di rumahmu saja,” usulku. Aku takut Riri mengganggu saat aku dan Meila sedang belajar.
“Ehm, boleh, deh! Aku tunggu pukul dua siang, ya!”
Aku mengangguk lega.
***
“Nia, nanti kamu bantu Mama jaga Riri sebentar, ya! Mama mau besuk Bu Manda di rumah sakit,” kata Mama sambil merapikan meja dapur.
Aku kaget. “Wah.. aku mau belajar di rumah Meila, Ma!”
“Bagaimana kalau kamu ajak Riri saja,” usul Mama.
“Nggak deh, Ma! Pasti Riri akan mengganggu kami belajar.”
“Ayolah, Rania. Bantu Mama sekali ini saja. Mama nggak bisa mengajak Riri.”
Aku terdiam sejenak. Benar juga, sih. Aku pernah baca majalah anak, kalau anak balita itu gampang tertular penyakit. Kalau Riri sakit, Mama juga yang repot.
“Baik deh, Ma! Tapi Riri harus janji tidak boleh nakal!”
                                                          ***
Aku dan Riri berjalan bersama menuju rumah Meila. Kebetulan rumah Meila tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku deg-degkan, takut Riri nanti membuat ulah. Bagaimana kalau Meila menceritakan kelakuan adikku itu pada teman-teman di sekolah.
“Hai.. Rania!” Meila sudah menyambutku di depan pagar rumahnya.
Aku tersenyum. “Hei.. Meila!”
“Hei, ini siapa?” Meila menjawil lembut pipi Riri.
“Ini Riri, adikku. Aku terpaksa mengajaknya. Mamaku sedang membesuk temannya yang sakit.”
“Ih, manis sekali. Ayo, kenalan,” Meila mengajak Riri bersalaman.
Tanpa malu-malu Riri bersalaman dengan Meila. “Kakak bisa gambar bunga mawar nggak?”
“Bisa dong, memangnya kenapa?”
“Riri..” aku melotot pada Riri. Tapi Riri pura-pura tidak melihatku.
“Boleh minta gambarkan aku bunga mawar, Kak! Kak Rania tidak bisa menggambar bunga mawar.”
Meila menatap heran padaku. “Kamu kan jago gambar, Nia?”
Aku jadi kikuk. “Aku Cuma malas,” jawabku.
Melia lalu mengajak aku dan Riri masuk. Meila lalu mengambil selembar kertas dan mulai menggambar bunga mawar pakai spidol merah. Lima menit kemudian, Meila sudah selesai menggambar bunga mawar.
“Kak Meila pintar gambar bunga mawar. Tidak seperti Kak Rania,” Riri mengacung-acungkan kertas gambar bergambar bunga mawar.
Ehm.. gambar bunga mawar Meila tidak sebagus gambar bunga mawarku, Tapi Riri senang sekali.
“Terima kasih, Kak Meila,” kata Riri.
“Sama-sama, Riri!” jawab Meila. “Kak Meila dan Kak Rania belajar dulu, ya! Nanti kita gambar lagi. Sekarang Riri main dengan boneka Kak Meila,” kata Meila lalu berlalu sebentar. Tidak lama ia sudah kembali membawa boneka beruang dan barbie.
“Iya, Kak. Riri nggak nakal kok.”
Ternyata benar, selama kami belajar, Riri asik bermain boneka
“Adikmu manis sekali, ya!” kata Meila
“Biasanya dia menyebalkan kok,” tukasku. Aku lalu bercerita tentang Riri yang suka ngambek.
“Mungkin kamu belum tau cara mengambil hatinya. Kata Mamaku, anak umur 5 tahun memang gitu. Jadi kita harus tau cara mengatasinya. Kita juga pernah begitu.”
“Iya juga sih, kalau jauh aku suka kangen pada Riri.”
“Nah, itu. Aku anak tunggal. Pengin deh, punya adik selucu Riri. Bagaimana kalau adikmu aku pinjam aja?” canda Meila.
“Jangan dong, nanti aku yang menangis,” balasku sambil tertawa.






Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to " Riri Adikku"

  1. Ikutan baca buat belajar ya mas...!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan, mbak Gesang.
      Semoga bermanfaat.

      Delete
  2. Cerpen kamu selalu bagus deh, Mbang. Ajarin aku dong bikin cerpen yang ringkas tapi bagus. Karena sekarang aku sulit banget nulis cerpen di bawah 6 halaman, hehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo... terus bersemangat, Mas Pur.
      Pas Pur pasti bisa. Hanya perlu lebih banyak menulis lagi.
      Ibarat mesin, dipanasin terus, mas hehehhe

      Delete
  3. Dari ide sederhanaaa sekali bisa jadi cerita keren (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua ide keren, Mbak Tanti. Dan bisa diolah jadi cerita yang menarik.
      Ayo... terus bersemangat, Mbak.
      Karena ide-ide cerita Mbak Tanti sudah keren

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Terima kasih. Salam semangat menulis.