Imajinasi Dongeng Saya

          Saat sedang sharing di kelas menulis Kurcaci Pos, saya sering mengajak Kurcacies melempar ide cerita. Biasanya saya menyuruh menemukan ide dari melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu.
          Biasanya, dalam kurang 1 menit, saya sudah menemukan ide. Sementara lainnya masih bengong manis. Padahal ide itu sudah ada di sekitar kita. Kurcacies pun ramai bertanya. Kok bisa, Mas? Wah, super sekali? Bagaimana bisa?
           Hehehe... saya jadi tersipu malu. Saya juga masih terus belajar kok. Dan saya hanya menjawab, terus kembangkan imajinasi, karena imajinasia adalah modal utama kita menulis cerita.
             Nah, teman-teman ingin tahu rahasianya tidak? Ini saya ceritakan untuk kalian semua.
          
 
Imajiansi Masa Kecil     
        Sejak kecil, saya sudah suka mendengarkan cerita dongeng. Walau dalam kelaurga saya, tidak ada tradisi membacakan dongeng sebelum tidur. Mungkin karena Bapak saya yang seorang tentara sering tugas keluar daerah. Sedangkan Ibu saya sibuk mengurus anak-anaknya, dan urusan rumah tangga hehehe.
       Tapi saya bersyukur. Kalau ada waktu, bapak saya selalu mendongeng untuk 5 anaknya. Jadi bukan di tempat tidur. Tapi di ruang tamu. Itu pun hanya malam minggu. Itu pun kalau bapak saya sedang ada di rumah.
       Nah, dongeng andalan bapak saya ada Jaka Tarub dan 7 bidadari. Entah sudah berapa kali dongeng itu diulang. Saya sampai hapal di luar kepala. Mungkin juga karena bapak saya hanya menguasi beberapa cerita saja.


                                                 Ilustrasi Istimewa : Pak Iwan Darmawan


Cerita yang cukup melekat di pikiran saya adalah cerita Kancil dan Buaya. Saya pertama kali membacanya di buku pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3 SD. Kalau tidak salah, di buku itu juga diceritakan Ayah sedang mendongeng untuk Arman, Wati, dan Andi.
            Saya semakin mengenal dongeng lewat acara Sanggar Cerita Di TVRI. Setiap minggu, saya selalu menantikan acara itu. Kurang puas menonton, saya pun merengek minta dibelikan kasetnya. Dan cerita yang paling seru adalah cerita danau Toba dan Pulau Samosir. Jadi jangan heran, kalau idola saya waktu itu Kak Hana Pertiwi dan Kak Novia Kolopaking hehehe.
          
Pelihara  Imajinasi
          Sejak saat itu, saya jadi suka berimajinasi. Misalnya saat melihat bulan bersinar penuh. Saya membayangkan ada kakek-kakek sedang bersemedi di sana. Kenapa dia ada di sana? Itu karena dia sedih melihat cucunya nakal dan tidak patuh pada nasihatnya.
            Lalu saat melihat kolong tempat tidur. Saya pun berimajinasi kalau di sana ada taman rahasia para kurcaci. Hanya anak-anak berhati baik, yang bisa melihat tempat bermain itu. Sementara yang anak nakal, hanya melihat tempat gelap dan kosong.
            Pernah suatu hari, saya dan teman saya pergi berenang bersama. Dia heran saat saya tersenyum-senyum saat berenang. Dia pun bertanya dengan kening berkerut. Saya pun menjawab, kalau saya sedang membayangkan sedang mandi di kolam 7 warna. Lalu tiba-tiba turun hujan permen.  Teman saya hanya tertawa dan menganggap saya tukang berkhayal. Saya pun meneruskan berkhayal. Enaknya mandi di kolam 7 warna, lalu berseluncur di perosotan es, sambil ngemut permen lolipop hehehe.


Kembangkan Imajinasi
            Saat saya cerita pada ibu saya, beliau menyuruh saja untuk menulis imajinasi-imajinasi saya di buku tulis. Sejak itulah, saya menghabiskan berlembar-lembar kertas, untuk menulis imajinasi saya itu. sambil terus menulis, saya juga terus membaca cerita-cerita dongeng, termasuk cerita di Majalah Bobo yang saya langgani.
            Waktu terus berlalu. Imajinasi-imajinasi saya waktu kecil, tetap saya bawa sampai sekarang. Alhamdulillah, kalau dulu saya hanya bisa menulis di buku tulis, kita bisa saya tulis jadi cerita. Cerita itu bisa saya kirim ke media anak atau penerbit.

                                                                 Koleksi Bambang Irwanto
                

             Saya tidak bisa memungkiri, kalau imajinasi saya berkembang dari dongeng-dongeng yang saya baca dan dengar. Begitu melekat kuat, sampai bisa merangsang syaraf-syaraf saya ikut berimajinasi. Kekuatan dongeng itu bagi saya sangat luar biasa.
           Saya percaya, segala sesuatu itu butuh proses, termasuk imajinsi. Jadi kalau sekarang saya cepat mendapatkan ide, itu karena dari imajinasi yang panjang. Jadi saat menulis cerita anak, saya tinggal ‘melempar diri’ saya ke masa lalu, dan menempatkan diri saya sebagai anak-anak.
           Percayalah, kalau kita terus mengambangkan imajinasi, maka proses menulis akan semakin mudah. Yuk, kembali menulis. Salam semangat menulis, teman-teman.

Bambang Irwanto

                                                                                                                                  

                                                                                                           Postingan selanjutnya :
                                                                                               Kekuatan Mendongeng Untuk Anak


           
     
                                                          http://indostoryfest.com/

                                                    Festival Dongeng Indonesia 2015

Subscribe to receive free email updates:

18 Responses to " Imajinasi Dongeng Saya"

  1. Wah, artikel yang bagus!
    Terima kasih sudah sharing,Mas Baim..Sekarang jadi tahu cara mengembangkan imajinasi itu supaya nggak terpaku di hal yang udah biasa.

    Sukses selalu, Mas Baim!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berkunjung, Mbak Eugenia.
      Iya, Mbak Nia. Jadi kembangkan terus imajinasinya.
      Jangan memandang lurus pada sesuatu. Tapi belok-belokkan.
      maka hasilnya akan berbeda.

      Terus semangat menulis, Mbak Eugenia.

      Delete
  2. info yang bermanfaat. Waaah senang banget tentunya ya didongengin dimasa kecil. menantikan artikel selanjutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah bila bermanfaat, Mbak Naqiyyah.
      Betul, Mbak. Itu masa indah yang tidak akan hilang, walau kini Bapak saya sudah pergi hehehe.
      Nantikan artikel selanjutnya ya, Mbak.

      Salam semangat menulis, Mbak Naqiyyah

      Delete
  3. Wah, saya kalau setiap melihat kolong tempat tidur hanya melihat gelap dan kosong, Mas Bambang. Berarti saya anak nakal dong. Hahaha

    Bagus artikelnya, Mas. Jadi tahu ternyata untuk mendapatkan ide sekejap itu prosesnya lama. Karena kemampuan itu kita perolah dari waktu dan kesukaan kita akan dongeng.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha....
      Tentu saja bukab dong, Mas Ganda.
      Itu kan imajinasi saya saja.
      Waktu itu Mas Ganda belum mengembangkan imajinasi saja hehehe

      Betul Mas. Semua ada prosesnya. Jadi nikmati semua proses dengan menyenangkan.
      Salam semangat menulis

      Delete
  4. tulisan yang sangat bermanfaat Mas Bambang, terima kasih :)

    ReplyDelete
  5. Wow keren!! Saya mau coba ah :)

    ReplyDelete
  6. hohoho saya ikut berterimakasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Ara.
      Ayo, semangat terus, Ara...

      Delete
  7. Salam kenal Pak Bambang, saya Faya. Suka sekali dengan cerpen dan tips-tips yang diberikan di blog ini. Alhamdulillah kemarin baru pecah telur,hehe. Setelah nunggu lumayan lama. Kemarin belum paham tentang tulis, kirim dan lupakan. Sekarang jadi paham. Intinya agar tetap konsisten dan terus berkarya. Jadi semangat lagi biar karyanya bisa bermanfaat seperti karya-karya Pak Bambang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal, Faya.
      Terima kasih sudah menyukai blog saya ini. Semoga isinya bermanfaat ya, Faya. Aamiin...

      Wah.. selamat ya, faya.
      Memang itulahnmaksudnya, Faya. Jadi kita terus bersemangat menulis.
      Semakin banyak menabur benih, semakin banyak harapan akan menuai panen, kan.

      Jadi ayo.. terus semangat menulis.

      Delete
  8. Imajinasi melahirkan banyak orang pintar. Para ilmuwan dan penemu juga menggarisbawahi pentingnya imajinasi. Einstein bilang, Ilmu tanpa imajinasi tidak bisa berkembang dan hambar seperti nasi tanpa sayur dan lauk.

    Semangat berkarya sepanjang masa ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, betul itu Mbak Fifa.
      Dan semua orang punya imjinasi.
      Tapi tergantung cara mengembangkan masing-masing

      Salam semangat menulis Mbak Fifa

      Delete
  9. Replies
    1. Terima kasih, Mbak Afrilla.
      Ayo, terus semangat menulis, Mbak

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.