Tante Rian

Bambang Irwanto


Dimuat di Majalah Gils Edisi 24, 2 Juli 2014 

Namanya Riani Anjasari. Tapi dia lebih suka dipanggil Tante Rian. Mungkin karena Tante Rian itu agak tomboy. Seingatku rambut Tante Rian selalu pendek. Tante Rian juga lebih suka pakai celana panjang dibandingkan pakai rok. Tante Rian jarang merias wajahnya yang manis.
Tante Rian itu adik bungsu Mamaku. Usianya 25 tahun dan sudah bekerja di sebuah bank swasta.
“Tante kok nggak suka berdandan sih?” tanyaku suatu hari.
“Tante suka praktis, nggak suka ribet,” begitu jawab Tante Rian.
Bagiku sih tidak masalah. Yang penting Tante Rian baik dan perhatian banget padaku. Hampir setiap minggu, Tante Rian pasti main ke rumahku. Tentu saja, Tante Rian selalu membawa oleh-oleh. Salah satunya kue mochi kesukaanku.
Bila habis gajian, Tante Rian akan sengaja menginap di hari sabtu. Lalu besoknya, hari minggu,  kami akan pergi jalan-jalan. Biasanya kami ke toko buku mencari buku baru. Kebetulan aku dan Tante Rian sama-sama suka membaca. Anehnya, Tante Rian juga masih suka membaca majalah dan buku anak-anak.
Setelah puas di toko buku, Tante Rian akan mengajakku ke toko asesoris cewek. Bukan untuk Tante Rian, tapi untukku. Aku kan, modis. Tidak tombay seperti Tante Rian. Jadi jangan heran, kalau koleksi asesorisku banyak dan kebanyakan dibelikan oleh Tante Rian dibandingkan dibelikan Mamaku.
Setelah itu, kami nonton film terbaru di bioskop dalam Mall. Biasanya sih, aku yang memilih filmnya. Aku suka nonton film animasi.
Sebagai penutup acara jalan-jalan, kami mampir makan dulu sebelum pulang. Lalu mencari box photo untuk foto bersama. Ah.. menyenangkan sekali. Dan acara jalan-jalan inilah yang paling aku tunggu.

                                                 * * * 

Sudah hampir 3 minggu ini Tante Rian tidak datang. Aku kangen sekali. berkali-kali aku menelpon Tante Rian, tapi henponnya tidak aktif.
“Tante Rian sehat-sehat aja kan, Ma?” akhirnya aku bertanya pada Mama.
Mama tersenyum. Kali ini senyum Mama kok penuh misteri. “Tante Rian sehat kok. Mungkin cuma sibuk dengan kerjaannya saja,” jawab Mama sambil terus mencuci piring.
“Besok aku mau ke kosan Tante Rian ah, Ma!”
“Eh, jangan,” Mama menoleh padaku.
“Kenapa, Ma? Aku sudah tau tempatnya kok, Ma! Nanti aku minta antar Pak Jaya,” tukasku. Pak Jaya itu sopir keluargaku.
“Tante Rian sibuk. Pokoknya lagi sibuk. Nggak boleh diganggu.”
Aku memandang Mama. Mama kok aneh begitu? Masa keponakan mau ketemu tantenya kok nggak boleh, gumamku lalu menuju kamar. Aku pandangi foto-fotoku bersama Tante Rian di dinding kamar.
Tante kemana sih? Aku kangen banget, nih, gumamku sampai menghapus air mata.
                                                    *
“Rania...!”
“Tante, Rian...” teriakku girang. Aku suprais sekali saat baru pulang sekolah.
Aku langsung berlari menyongsong Tante Rian yang duduk manis di sofa ruang tamu. “Tante kemana aja, sih. Aku rindu banget tau?”
Tante Rian memelukku erat. Setelah sekian lama, Tante Rian melepaskan pelukannya. Eh, Tante Rian kok agak beda. Rambutnya mulai panjang. Tante Rian juga memakai bedak dan lipstik. Aku ingin bertanya, tapi rasanya kurang sopan.
“Maafin Tante, ya! Tante Rian sibuk.”
“Sibuk sih, sibuk, Tan! Tapi jangan lupain keponakan yang manis, dong!”
Tante Rian tertawa terbahak. “Nih, hadiah untukmu!”
“Wow.. isinya apa, Tante?” tanyaku penasaran sambil menerima kado mungil berpita merah jambu itu.
“Buka aja. Kamu pasti suka,” jawab Tante Rian berahasia.
Pelan-pelan aku membuka kado itu. Wow.. isinya kalung perak dengan liontin huruf R. Aku suka sekali.
“Terima kasih, Tante!” aku mengecup pipi Tante Rian.
“Sama-sama, anak manis,” Tante Rian mengucek rambut sebahuku.
“Tante, kapan kita jalan-jalan lagi. Kangen, nih. Hari ini Tante nginap, kan?” tanyaku penuh harap.
“Maaf ya, Nia! Tante nggak nginap. Ini aja udah mau pulang.”
“Yah.. Tante!” aku kecewa sekali.
                                          *
Beberapa hari ini, aku lihat Mama sibuk sekali. Mama suka pergi tanpa mengajakku. Kadang Mama pulang larut malam.
“Pa, Mama kok pergi terus,” tanyaku pada Papa yang sedang membaca koran pagi sambil minum kopi di teras belakang rumah. Itu kebiasaan Papa setiap hari minggu.
“Mungkin Mama lagi sibuk,” jawab Papa.
“Ah, biasanya Mama kalau minggu di rumah kok, Pa. Kayaknya minggu ini kita nggak makan makanan baru buatan, Mama.”
“Jadi Mamamu belum cerita.”
“Cerita apa, Pa?”
“Tante Rian dua minggu lagi menikah. Makanya Mamamu sibuk membantu menyiapkan pestanya.”
Aku sangat terkejut. Tante Rian mau menikah? Kok aku tidak dikasih tahu? Gumamku kecewa.
Saat Mama pulang, aku segera menghampiri Mama.
“Ma, Tante Rian mau nikah ya?”
“Papa yang kasih tahu, ya?”
“Iya. Abis Mama dan Tante Rian nggak ngasih tahu,” jawabku kesal.
“Sebenarnya kami sengaja, biar suprais untukmu.” Jawab Mama sambil menepuk pipiku. “Sudah, ya! Mama mau mandi dulu.”
Uuh.. apanya yang suprais. Aku malah kecewa. Rasanya ingin menangis saja.
                                                         *
Gedung Serba Guna Widiatama sangat ramai. Tante Rian dan Om Bimo duduk bersanding di pelaminan. Seperti raja dan ratu. Semua bergembira. Tapi aku tidak. Aku memilih duduk sendiri di sudut ruangan.
Aku sedih. Setelah menikah, pasti Tante Rian  akan semakin jarang main ke rumahku. Tante Rian pasti memilih jalan-jalan dengan Om Bimo, dibandingkan aku. Aku kehilangan Tante Rianku yang tomboi dan baik.
Aku memegang liontin pemberian Tante Rian. Tiba-tiba airmataku jatuh. Buru-buru aku menghapus air mataku di pipi.
“Kenapa kamu menangis?” tiba-tiba seorang anak laki-laki bertanya padaku. Tanpa disuruh, dia duduk di sebelahku.
“Bukan urusanmu,” jawabku ketus.
“Semua orang senang, kamu malah menangis.”
Aku kesal sekali dengan ucapan anak itu. Apa dia tidak tahu aku sedang sedih.
“Aku Miko. Om Bimo itu omku. Adik bungsu Ibuku. Sejak kuliah sampai bekerja, Om Bimo tinggal bersamaku. Ayahku sudah meninggal. Om Bimo juga yang membiayai sekolahku.”
Aku terkejut mendengar cerita Miko. Kok sama dengan yang aku rasakan?
“Kamu juga sedih, dong!”
“Tadinya aku sedih. Om Bimo itu sudah aku anggap seperti Ayah kandungku. Tapi Ibu bilang, Om Bimo tetap omku. Dia akan tetap menyayangiku. Jadi kalau aku sayang om Bimo, aku harus bahagia juga. Lagian, aku akan dapat Tante Baru yang baik. Yaitu Tante Rian.”
Aku mengangguk. Iya juga ya, seharusnya aku tidak boleh bersikap egois. Tante Rian kan berhak bahagia. Aku juga akan dapat Om baru. Lagian aku masih beruntung dibandingkan Miko. Aku masih punya Papa dan Mama.
“Kamu nggak sedih lagi?” tanya Miko.
“Masih. Tapi tinggal sedikit.”
“Bagaimana kalau kita berteman saja. Aku punya banyak cerita lucu. Sedihmu pasti hilang,” Miko mengulurkan tangannya.
Malu-amalu aku menjabat tangan Miko. “Namaku Rania.”
“Yuk, kita ambil makanan, lalu kita keluar di taman. Di sini banyak orang dewasa.”
Aku mengangguk setuju. Kini ada perasaan bahagia menyusup ke hatiku.



   Bambang Irwanto




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tante Rian"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.