Ide Cerita Itu Darimana Saja

   Ide cerita itu datang darimana saja’.
      Dulu sekali, saya pernah membaca kalimat itu. Saya lalu tercenung. Benarkah? Berarti kalau ide mudah didapat, akan gampang menulis, dong! Saya pun berusaha membuktikan kalimat itu.
      Saat awal-awal menulis, saya memangmasih kesulitan mencari ide cerita. Kadang saya memang duduk tampan untuk mencari ide. Kesalnya lagi, sudah lama bengong tampan, ide tidak muncul-muncul juga.
     
Ide dari Sapu digantung di balik pintu
     
        Lalu saya membaca di sebuah majalah, untuk awal menulis itu, lebih baik menulis hal-hal yang pernah kita alami. Jadi sebenarnya ide sudah ada. Cerita pun sudah ada. Tinggal kita saja yang menuangkan dalam tulisan.
      Akhirnya saya praktekkan hal itu. Saya mulai memikirkan hal-hal apa yang pernah saya alami. Dan benar, langsung dapat cerita, jadi saya tinggal menulisnya saja. Walau dalam proses menulis tidak mudah. Tulisan saya amburadul hahaha. Misalnya saat saya pergi rekreasi bersama keluarga, saat saya baru pindah rumah, atau saat saya akan menghadapi ulangan.
      
Ide saat melihat seekor kelinci
      
       Seiring proses menulis, saya mulai melangkah dari mengambil ide dari pengalaman pribadi, dan mulai mencari ide lain. Dan ternyata ide itu bisa didapat dari orang-orang sekitar kita. Ide paling dekat adalah saudara kandung, teman, atau sepupu.
       Maka saya pun menulis cerita-cerita mereka. Tentu saja saya ubah namanya dan sedikit ceritanya. Kalau semua sama persis, bisa dilempari bakso saya beserta kerupuk pangsitnya hehehe.
     Seiring proses menulis, maka imajinasi saya terus berkembang. Saya tidak hanya mendapatkan ide-ide cerita cerpen realis, tapi juga dongeng. Selama ini kan saya hanya memikirkan ide-ide nyata yang ada di kehidupan nyata. Nah, seiring waktu, ide-ide cerita dunia khayaln pun ikut bermunculan.
       Misalnya nih, dulu saat saya melihat sapu tergantung di balik pintu, maka pasti idenya sapu milik Ibu. Ibu membeli sapu baru, karena sapu lamanya patah. Atau ada kucing masuk rumah, dan tokoh anak mengambil sapu untuk mengusir kucing itu.
     
Ide saat membaca info lebah
     
       Nah, karena imajinasi cerita saya mulai berkembang, maka saya mulai berkhayal. Sapu itu milik seorang penyihir. Dia sengaja menyembunyikan karena kesal tidak bisa naik sapu terbang itu. Padahal karena dia tidak tekun berlatih. Maka saya tulis dongeng Sapu Terbang Ricca.
       Begitu juga saat saya melihat seekor kelinci. Dulu paling idenya seorang anak yang membeli dan memelihara kelinci. Atau bisa juga, seorang anak memberikan hadiah kelinci pada sahabatnya. Atau seorang anak kehilangan kelinci. Lalu siapa yang mencurinya?
      
Ide saat membaca tulisan jalur 3 in 1
      
        Sekarang saya mulai mengembang imajinasi. Seekor kelinci sedih, karena seekor anjing tidak mau berteman dengannya. Anjing itu sombong, karena merasa paling hebat. Padahal anjing juga punya kekurangan. Maka saya  tulis fabel si Bruno.
       Seiring waktu, secara berlahan semakin menguatkan saya, kalau ide itu darimana saja. Caranya, gunakan mata, telinga, dan hati kita. Apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasa, bisa jadi ide. Apa yang kita lihat ini masih bisa lebih dispesifik lagi. Apa yang kita baca dan apa yang kita tonton.
      Misalnya, saat saya membaca info di majalah, kalau lebah itu suka wangi-wangian, maka saya langsung mendapat ide. Langsung terbayang seorang Nyonya suka bersolek dan memakai parfum yang disengat lebah. Lalu saat saya membaca rambu lalu lintas jalur 3 in 1, maka terbayang kalau tulisan itu jadi 2 in 1. Maka saya tulis sepda 2 in 1.
       
Ide dari ucapan Ibu
       
       Begitu juga saat kita mendengar sesuatu. Misalnya saat Ibu saya nyeletuk,  “Ya sana, Bang!  ngetik cerita. Bikin uang hehhe.” Lalu terlintas mesin-mesin yang bisa mencetak uang.
      Saat kuda tetangga saya mati karena kelelahan, tetangga saa sedih sekali. soalnya kuda itu dipakai untuk mencari nafkah, saya menulis dongeng Pangeran Pelik yang sedih karena kudanya mati.
       
Ide dari kuda tetangga yang mati
       
       Jadi sudah terbukti kan, ide itu darimana saja. Jadi terus semangat menulis. Karena semakin lama, ide tidak perlu dicari lagi. Tapi ide sudah ada di sekitar kita, menyapa kita, bahkan sudah ada di depan mata kita. Jadi saat melihat, mendengar dan merasakan sesuatu, cliiing.... maka ide-ide keren segera bertebaran di kepala kita.
       Salam semangat menulis.

Bambang Irwanto

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Ide Cerita Itu Darimana Saja"

  1. Wah... luar biasa. Hal-hal yang sering terlewatkan oleh saya bisa menjadi ide cerita..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mulai sekarang pasang antena tinggi-tinggi, Mak Pelangi Salju.
      Karena ide-ide keren sudah ada di sekitar kita.
      Salam semangat menulis...

      Delete
  2. Iya deh saya praktikkan, karena ide sudah ada di sekitar kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laksanakan, Iis.
      Jangan sampai ide-ide kerennya didahului orang hehehe.
      Salam semangat menulis...

      Delete
  3. Wah keren ternyata sederhana saja ya... tapi harus terus dilatih. Terima kaisih mas Bambang Irwanto

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Asqarini.
      Jadi ide itu memang bisa datang darimana saja.
      Terus semangat, Mbak Rini.
      Terima kasih sudah mampir.

      Delete
  4. Kereeen.... saya belum beruntung di cernak... selalu ditolak saat kirim ke media.. udah lama ga nulis cernak lagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus semangat, Mbak Retno.
      Ditolak 1 kirim 10 naskah.
      Terima kasih sudah mampir, Mbak Retno

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Terima kasih. Salam semangat menulis.