Menulis Cerita Anak itu Mudah, Asal...


     Banyak teman yang curhat pada saya, kalau menulis cerita anak itu susah. Padahal kan ceritanya untuk anak-anak. Bahasanya juga simpel, dan ceritanya tidak terlalu panjang. Malah kata banyak teman, lebih bisa menulis cerita remaja atau dewasa dengan cepat.

      Memang, sekilas menulis cerita anak itu terlihat mudah. Tapi pas prakteknya, susah. Saya pun juga mengalami hal ini. Makanya proses menulis cerita anak yang saya lalui, lebih lama prosesnya dibandingkan saat menulis cerita remaja dulu.

    Tapi teman-teman tidak perlu galau dulu. Semua bisa dipelajari kok. Termasuk cerita anak. Dan kalau sudah tahu caranya, maka menulis cerita anak akan mudah. Yuk, simak tips berikut ini, yang saya susun berdasarkan pengaalaman menulis saya.


    

Niat Menulis Cerita Anak.

     Ini sangat penting dan merupakan hal utama. Apapun yang kita akan kerjakan atau lakukan, bulatkan dulu niatnya. Nah, apa niat kita menulis cerita anak?

      Kalau sekedar ingin coba-coba, karena melihat teman lain cerita dimuat di media, sebaiknya jangan menulis cerita anak Memangnya iklan, menulis cerita anak kok coba-coba?

      Jadi jangan meringis kalau hasilnya pun akan coba-coba juga. Coba-coba nulis, coba-coba kirim, dan coba-coba ditolak. Ah, tidak apa. Namanya coba-coba. Dimuat syukur, ditolak tidak apa-apa.

      Akan berbeda hasilnya, kalau kita memang niat menulis cerita anak. Ingi berbagi cerita kepada anak-anak. Ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada anak-anak lewat cerita.

     Jadi dari awal harus ada target. Saya semangat menulis cerita anak dan harus maksimal. Jadi pas belajar tidak setengah-setengah, tidak akan berhenti sampai bisa menulis cerita anak, lalu kalau sudah bisa, akan terus menulis cerita anak.

       Saat ditolak, tidak akan mudah menyerah. Kan sudah niat. Jadi akan cepat bangkit, belajar lagi, semangat lagi, sampai akhirnya dimuat atau diterbitkan naskahnya jadi buku.


Pahami dan Cintai Dunia Anak.

       Ini perlu, karena kita akan masuk dan terjun ke dunia anak. Dengan mengetahui dunia anak, apa yang disukai anak, apa masalah-masalah yang dihadapi anak, dan bagaimana cara anak mengatasi masalahnya. Kalau sudah paham semuanya, maka kita akan mudah menulis cerita untuk mereka.

      Untuk masuk ke dunia anak, tidak harus survai langsung. Bisa kok dilakukan sambil jalan. Mengamati tingkah pola anak-anak sendiri di rumah, anak-anak tetangga, teman sekolah anak, atau bisa juga saat duduk menunggu antre lalu mengamati seorang anak. Bisa juga kita dapatkan dari membaca buku anak, nonton film kartun dan film anak.

       Makanya saya bingung suatu ketika ada teman yang inbox sayadan bertanya, “Mas, saya ingin menulis cerita anak, tapi saya tidak terlalu suka anak-anak? Bagaimana ya?”

      Saya langsung jawab, “Jangan menulis cerita anak. Tapi tulis cerita yang Kamu sukai. Cerita remaja, atau cerita dewasa.”

       Kalau dari awal tidak suka apa yang akan ditulis, bagaimana ceritanya akan bagus? Kalau dari awal menulis karena terpaksa dan ingin mencoba, sebaiknya tidak menulis. Karena menulis itu indah dan menyenangkan.

       Saya meminjam ucapan Kang Emil, walikota Bandung. Kata Kang Emil, “Cintai apa yang kamu kerjakan, kerjakan apa yang kamu cintai.” Keren lah kang Emil ini.


Metamorfosis Menjadi Anak-anak.

      Sudah terjun kedua anak, sekalian saja basah. Jadi saat menulis cerita anak, usahakan menjadi seperti anak-anak. Itulah banyak cerita yang ditulis sangat dewasa gaya berceritanya, termasuk karakter tokoh anak-anaknya. Karena penulisnya masih menempatkan dirinya sebagai penulis dewasa. Seolah-olah roh orang dewasa masuk ke dalam tubuh anak-anak.

      Bila menulis cerita anak menggunakan POV 1 atau orang pertama tunggal, aku atau saya, maka menulisnya seolah-olah seorang anak yang sedang bercerita masalahnya sendiri pada temannya.

      Bila menggunakan POV3 atau orang ketiga tunggal, maka berlakunya seperti seorang anak  yang sedang menceritakan kisah temannya kepada temannya yang lain. Misalnya penulis seorang anak. Lalu temannya yang akan dijadikan tokoh utama dan akan diceritakan kisahna bernama Mira. Maka penulis adalah seorang anak yang menceritakan kisah si Mira.

      Makanya cerita anak yang ditulis oleh anak-anak, dan cerita anak yang ditulis penulis dewasa itu sangat bisa dibedakan. Cerita anak yang ditulis oleh anak-anak lebih natural gaya berceritanya. Apa adanya, dan tidak dibuat-buat. Malah kadang ide-ide mereka lebih ajaib dan brilian, dibandingkan penulis dewasa yang menulis cerita anak.


Banyak membaca cerita anak.
       Menulis itu pasangan sejatinya membaca. Jadi jangan hanya menulis cerita anak saja, tapi imbangi dengan banyak membaca cerita-cerita anak juga. Selain menambah referensi, kita bisa pelajari setiap cerita. Bisa juga termasuk menonton film anak-anak.

       Usahakan tidak menjadi pembaca atau penonton pasif. Yang hanya membaca buku atau menonton film dari awal sampai akhir. Selesai apa yang dibaca atau ditonton, paling bisa berkomentar, “Ceritanya bagus.” atau“Ceritanya kurang seru!”
      Jadilah pembaca dan penonton aktif. Amati semua elemen dalam cerita yang kita tonton atau kita baca. Mula dari idenya, konfliknya, tokohnya, alur ceritanya, sampai ending. Jadi kita bisa pelajari. Bagaimana penulisnya membentuk karakter tokohnya. Bagaimana meruncingkan konfliknya. Bagaimana mengatur alurnya, sampai bagaimana ending yang memikat.

Terus Semangat Menulis

      Nah, itu juga penting. Semangat itu modal utama juga seorang penulis. Dengan terus menulis, menulis dan menulis cerita anak, maka proses menulis cerita anak akan semakin mudah,cepat, dan menyenangkan.

       Jangan cepat puas, padahal baru satu cerita yang dimuat di media. Justru ini jadi langkah awal untuk terus menulis cerita anak. Segala sesuatu itu ada pasang surutnya. Kadang kita di atas, kadang di bawah. Begitu juga dengan dunia menulis. Sekarang cerita kita dimuat, besok lama lagi baru dimuat. Dan itu kadang membuat semangat menulis turun.

       Ingat kembali poin-poin sebelumnya, saat ingin jadi penulis cerita anak. Terus semangat, karena semangat terbesar itu ada dalam diri kita sendiri. Percuma seribu, seratus semangat dari orang lain, kalau dalam diri kita tidak semangat.

       Nah, sekian tips-tips dari saya. Semoga bermanfaat, ya. Salam semangat menulis.

Bambang Irwanto



Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

15 komentar:

  1. Masih belajar menulis cerita anak. Idenya bagus, kak. Ntar aku nulis cernaknya dari hasil ngamatin anak2 aja. Apa yg dia lakukan bersama teman2 atau keluarganya. Memang lbh bgs pas ngamatin langsung nulis biar ga lupa. Manajemen waktuku msh amburadul, perlu dibenahi nih biar bs konsisten nulis cernak. Makasih ide2nya, kak...manfaat banget buat aku..^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo, terus semangat, Mbak Nurcahyani.
      memang, Mbak. Kalau cerita yang ditulis dari pengamatan atau apa yang kita alami sendiri, justru lebih lancar dan mengalir.

      Sama-sama, Mbak Nurcahyani.

      Delete
  2. Terima kasih ilmunya Pak, sangat bermanfaat ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mbak Ratna.
      Ayo, terus semangat menulis, Mbak.

      Delete
    2. Siap Pak, semoga selalu semangat buat menulis. ^_^

      Delete
  3. Semakin semangat menulis. Hebat euy Pak Baim. Bener banget, meski ada beberapa point yang harus lebih didalami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rokhmat juga bisa jadi penulis keren. jadi semangat terus Rokhmat. Nikmati semua proses menulis.

      Terus semangat menulis, Rokhmat.

      Delete
  4. Tips-tipsnya, selalu keren, Mas Bambang. Saya jadi kembali semangat dan tetap ceria. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mas Ganda.
      Ayo, terus bersemangat menulis, Mas.

      Delete
  5. Siippp tipsnya, semangat menulis kembali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo, terus semangat menulis, Mas Anggar.

      Delete
  6. Bener bgt.. nulis dr hati itu lbh kerasa bahkan kebawa dlm hati pembacanya. Klo gak suka anak2 gmn mau nulis utk anak dgn membawa perasaan tsb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, Mbak Ruli Retno.
      Kalau kita suka apa yang kita tulis, maka hasilnya akan jauh lebih keren.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Terima kasih. Salam semangat menulis.