} Kandang untuk Bugy - Bambang Irwanto Ripto

Kandang untuk Bugy

     
                          

Pelipe senang sekali. Sepanjang perjalanan pulang, ia bersenandung kecil. Sesekali Pelipe menoleh ke belakang, melihat Bugy yang berjalan di belakangnya.

Tidak lama, Pelipe, Papa, dan Bugy sudah sampai di di depan rumah. Pelipe melihat Mama berlari-lari menghampirinya.
“Ya, ampun, Peli! Mama cemas sekali!” ucap Nyonya Wirni. “Mama sudah mencarimu ke seluruh rumah, dan sekitar halaman.”
Pelipe kembali menundukkan wajahnya. Gadis cilik berambut hitam keriting itu merasa bersalah. Mama pasti cemas sekali, gumam Pelipe dalam hati.
“Maafkan aku, Mama! Aku janji tidak akan mengulanginya!”
“Baiklah, Mama memaafkanmu!” Mama mengelus rambut Pelipe. “Eh, siapa anak babi lucu ini?”
“Namanya Bugy, Mama!” jawab Pelipe lalu menceritakan semuanya pada Mama.
Nyonya Wirni mengangguk mengerti.
 “Bolehkan, aku memelihara Bugy, Ma?”
Nyonya Wirni melirik pada Pak Arlon. Papa Pelipe mengangguk. Akhirnya Mama pun ikut mengangguk sambil tersenyum.
“Horeeee.... Kamu boleh tinggal di sini, Bugy!” sorak Pelipe sambil mengelus punggung Bugy. Anak babi berwarna merah jambu itu mengangguk-angguk.
“Nah, sekarang Pelipe ganti baju! Lalu kita makan siang. Mama sudah buatkan daging kentang saus kacang kesukaanmu.”
“Horeee...!” Pelipe bersorak lagi.
Setelah makan siang, Pelipe bergegas melihat Bugy. Anak babi itu sedang duduk meringkuk di halaman belakang rumah dinas Papa. Pelipe mengeluarkan sebutir apel merah dari saku bajunya.
“Makanlah, Bugy!” Pelipe mendekatkan apel merah di tangannya ke mulut Bugy. Anak babi itu segera melahap apel merah itu. Pelipe senang sekali.
Setelah Bugy menghabiskan apel merahnya, Pelipe mengajak Bugy bermain. Pelipe melempar bola warna-warninya, lalu Bugy akan mengambilnya. Setelah lemparan bola ke sepuluh, Pelipe memutuskan untuk istirahat.
“Capek juga ya, Bugy! Tapi menyenangkan,” Pelipe menyeka keringat di dahinya. Bugy mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Peli, Papa kembali ke klinik hewan dulu, ya!”
Pelipe menoleh, dan melihat Papa berjalan keluar dari rumah. “Baik, Pa! Aku masih ingin bermain bersama Bugy.”
Pak Arlon mengacungkaan jempol tangan kanannya pada Pelipe. “Jangan lupa tidur siang, Peli! Bugy juga mungkin istirahat.”
“Baik, Papa!” jawab Pelipe. “Waaah... iya, Pa! Aku jadi ingat. Nanti Bugy tidur di mana?”
Pelipe melihat Papa mengelus-elus dagunya. Itu tandanya Papa sedang berpikir. “Bugy perlu kandang, Peli. Kita nanti akan membuatkannya. Tapi tidak sekarang, ya! Hari minggu kita akan ke kota membeli papan untuk rumah Bugy.”
“Waaah.. masih tiga hari lagi, Papa!” keluh Pelipe.
“Sudah ya, Peli! Papa harus segera kembali ke klinik!” kata Pak Arlon lalu mengecup pipi kanan Pelipe.
“Baik, Papa!” Pelipe melambaikan tangan pada Papa. Pak Arlon membalas lambaian tangan Pelipe. Tidak lama, Pak Arlon berbelok, dan tidak terlihat lagi.
“Bugy, kamu di sini saja, ya! Aku mau tidur siang dulu!”
Pelipe masuk ke dalam rumah. Ia masih memikirkan kandang untuk Bugy. Kalau menunggu hari minggu, kasihan si Bugy. Dia akan tidur di mana, ya? pikir Pelipe.
Pelipe menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya. Di ruang makan, Pelipe melihat Mamanya sedang melakukan sesuatu. Pelipe menghampiri mama.
“Mama sedang apa?”
“Oh, ini, Peli! Mama sedang mencungkil penutup kotak peti kemas barang masak Mama.”
Pelipe mengangguk mengerti. Ia memperhatikan, ada beberapa peti kemas itu yang dilektakkan di dapur. “Wah, Mama! Peti kemas ini bisa buat kandang Bugy.”
Mama memperhatikan lebih seksama peti kemas itu. “Ah, benar, Peli! Nanti tinggal kita buat pintu dan jendela. Lalu diberi atap. Biar cantik, nanti kita cat. Tunggulah Papamu, pulang jam tiga sore nanti!”
“Horeee... Bugy akan punya kandang!” sorak Pelipe. Ia melirik jam dinding yang digantung di dinding dapur. Masih pukul satu siang. “Aku akan tidur dulu, Mama!”
Ternaya Pelipe tidur siang agak lama. Mungkin karena ia kelelahan bermain bersama Bugy. Pukul 4 sore, Pelipe baru bangun.
“Waaah... aku bangun kesorean. Padahal aku ingin membuatkan kandang untuk Bugy!” kata Pelipe panik sambil bangkit dari tidurnya.
Pelipe segera berlari keluar kamar. Ia mencari Mamanya di dalam rumah, tapi tidak ada. Kemana Mama, ya? Apa Papa sudah pulang? Tanya Pelipe dalam hati.
Pelipe bergegas keluar rumah. Ia melihan tampak di kejauhan Papa dan Mama. Di dekat situ ada Bugy juga. Pelipe segera berlari ke sana.
“Kamu sudah bangun, Peli? Kamu tidur siang lelap sekali!” sambut Mama. “Tadi Mama mengajak Papa membuat kandang Bugy. Untung masih ada sisa cat pagar juga.”
“Waah.. Papa dan Mama sudah membuat kandang untuk Bugy!” seru Pelipe saat melihat kandang Bugy sudah jadi.
“Selesai, Peli!” seru Papa sambil meletakkan kuas cat.
“Terima kasih Papa! Terima kasih, Mama!” ucap Pelipe. “Bugy... Ayo, masuk ke kandangmu!”
“Eh, nanti dulu, Peli. Catnya kan belum kering!” tahan Mama.
Pelipe langsung tersipu malu.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kandang untuk Bugy"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.