Kirim Naskah Cerita Anak Ke Harian Solopos

 Alhamdulillah... hari minggu, 19 Maret 2017, cerita anak yang saya tulis, dimuat di harian solopos. Cerita berjudul ‘Uang Darmawisata” ini, saya kirim senin 13 maret 2017. Jadi hanya seminggu langsung dimuat.

Makanya saya sangat suprais, waktu minggu pagi, saya diinbox Mas Fauzi. Dia mengabari saya, kalau cerita ini dimuat di solopos. Senang, sudah pasti. Apalagi ini cerita saya pertama, yang dimuat di Solopos. Terima kasih kabarnya, Mas Fauzi.

Nah, masalahnya, di sekitar rumah saya, tidak ada koran Solopos. Saya coba sms teman saya yang agen majalah dan koran, katanya memang tidak ada. Duh, bagaimana ini? Bagi saya, kalau dimuat itu, tanpa bukti, kurang afdol. Seperti sayur tanpa garam. Seperti lele goreng tanpa sambal hahaha...

Dimuat di Solopos, Minggu 19, Maret 2017


Saya pun posting status di facebook. Sambil bertanya, siapakah teman yang domisili di Solo. Alhamdulillah. Banyak teman yang merespon. Mereka berjanji akan bantu carikan. Saya sudah lega. Dan bertambah lega saat Mbak Windri posting foto penampakannya.

Saya pun minta tolong pada Mbak Windri agar dikirimkan korannya. Nanti koran dan ongkirnya saya ganti. Alahmdulillah.. Mbak Windri bersedia. Bahkan gratis semua. Senangnya... Terima kasih, Mbak Windri.

Nah, beberapa teman langsung inbox saya, apa saja syarat mengirim cerita anak ke Solopos. Biar semua teman tahu, berikut saya sharing, ya. O, Iya. yang ingin membaca cerita Uang Darmawisata, bisa mampir ke sin, ya!

Bagaimana syarat naskahnya?
Untuk naskah, sama saja kok dengan Majalah Bobo. Naskah cerita “Uang Darmawisata” itu sekitar 750 kata. Jadi boleh kirim 650 – 750 kata.Untuk jenis huruf dan spasi, saya pakai standar saja. Saya pakai Times New Roman PT12, lalu spasinya 1,5. Boleh kok spasi 2.

penampilan naskah Uang Darmawisata


Lalu dikirim ke mana? Via email atau pos?
Naskah saya kirim via email. Yang pasti bukan kirim ke hatimu hahaha... Nah, kebetulan ada 3 email Solopos. Jadi saya masukan semua. Jadi jangan lupa CC dan BCC.


Email Solopos


Berapa lama dimuat?
Untuk masalah lama pemuatan, saya tidak bisa memastikan, ya. Mungkin rezeki naskah saya ini cepat. Jadi tanpa antrean langsung dimuat hehehe. Karena saya sangat percaya, setiap naskah yang saya tulis, ada rezekinya masing-masing. Ada yang cepat dimuat, ada yang lama juga. Tapi yang pasti, naskah ini adalah naskah tercepat yang dimuat, mengalakan rekor naskah sebelumnya, yaitu “Nenek Arita” yang hanya 2 minggu dimuat, setelah pengiriman.
Aah.. itu kan, karena mas Baim sudah terkenal. Jadi cepat dimuat.
Eits... jangan berpikiran seperti itu. Karena media tidak melihat nama penulisnya, tapi yang utama adalah ceritanya. Cocok apa tidak dengan media mereka. Kalau ceritanya bagus dan sesuai, pasti dimuat.

Lalu, bagaimana dengan honornya, ya? Ada tidak?
Alhamdulillah ada. Honornya 92 ribu. Dan saya terima, setelah 13 hari masa pemuatan. Langsung ditransfer ke rekening saya. Jadi saat kirim naskah, jangan lupa masukan nomor rekening.
Bagi saya, honor ini sudah sangat sesuai. Saya pribadi, melihat, bagaimana media mengapresiasi dan menghargai saya. Termasuk cepat dan mudahnya honor untuk saya.

Lalu selanjutnya apa lagi?
Selanjutnya menulis cerita dan kirim. Begitu ada ide, langsung eksekusi. Jangan tunda-tunda. Nanti idenya ditulis duluan orang lain. Siapa yang cepat mengeksekusi idenya, dialah yang akan tersenyum senang hehehe...

Salam semangat menuls, Teman-teman...

Bambang Irwanto


Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

14 komentar:

  1. Makasih sharringnya Pak Bambang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mbak Rita.
      Ayo terus semangat, Mbak Rita

      Delete
  2. Ini kelebihan Mas Baim; ada ceritanya di balik cerita, dan asyik pula bacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelebihan lain saya, suka makan coto makassar, Pak Pangerang hahaha...
      Benar, Pak. Di setiap cerita, pasti ada cerita.
      Ayo, terus semangat menulis cerita anak, Pak Pangerang.

      Delete
  3. Asyikkkk uang bakso mampir lagi. Selamat pak baim

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyiiik... Makan bakso lagi, Mbak Noer Ima hehehe
      Terima kasih, Mbak Ima.

      Delete
  4. Replies
    1. Sama-sama, Mbak Dian.
      Ayo, terus semangat menulis, Mbak Dian.

      Delete
  5. Asyiiik neh, masih ada media yang nerbitin cerpen anak, keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Kang Ali.
      masih ada wadah untuk terus berkarya.
      Semoga semakin bertambah terus media untuk anak, Kang Ali. Aamiin...

      Haturnuhun sudah mampir ya, Kang.

      Delete
  6. Betul banget mas, jangan menunda2 ide. Pantes saya blom senyum juga soalnya masih suka nunda2 sih.. makasih sharenya mas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia, Mbak Inke.
      Karena ide itu seperti udara. Siapa saja bisa merasakan. Jadi kalau ada ide, cepat eksekusi.
      Sama-sama, Mbak Inke.
      Salam semangat menulis, Mbak.

      Delete
  7. postingan seperti bikin saya kangen nulis tentang dunia anak2 lagi, share ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo, terus semangat menulis, Mbak Maria.
      Tulis cerita anak, lalu kirim lagi.
      Salam semangat menulis, Mbak.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Terima kasih. Salam semangat menulis.