Tentang Vino

      Selain suka menulis cerita anak, saya juga suka menulis cerita remaja. Bahkan sebenarnya, awal saya melajar menulis itu, dari cerita remaja dulu. Makanya cerita pertama saya yang dimuat adalah cerpen remaja hehehe...
      Suatu hari, saya melihat postingan Mas Palris Jaya. Dia memposting cerpennya yang dimuat di website GOGIRL. Saya pun langsung meluncur, dan tertarik untuk mengirim. Saya cek bank naskah saya di laptop, Eh... Alhamdulillah ada naskah remaja. Naskahnya saya kirim 3 Januari 2017. 
        Sore itu, sabtu 25 Februari 2017, saya diinbox Mbak Leanita Winandari. Dia mengabarkan, kalau cerpen ini dimuat di website GOGIRL. Wow.. suprias sekali. Saya pun langsung meluncur ke sana. Benar, sampai jingkrak-jingkrak  kesenangan hehehe... Terima kasih infonya, Mbak Lea. 
        Lucunya, seminggu kemudian, Cerpen Mbak Lea juga dimuat di website GOGIRL. Nah, begitulah kalau berteman dengan mantan kaverboy, pasti ketularan kerennya wkwkwkw.. gayane saya ini. Selamat membaca, teman-teman.. Semoga suka dengan ceritanya.
        o, iya. Bagi teman yang ingin membaca ceritanya di website GOGIRL, bisa mampir  juga di sini, ya!
                                           
Dimuat di Website GOGIRL, Sabtu 25 Februari 2017

                                   Tentang Vino
                                                            Bambang Irwanto
  

   “Van, kita pacaran aja, yuk!”
    Aku kaget sekali. Untung saja bakso telur kegemaranku itu, sudah masuk duluan ke dalam tenggorokanku. Coba kalau belum, pasti wajah Vino sudah tersembur bulatan daging itu.
    Aku buru-buru menyambar es jeruk di hadapanku, lalu meneguknya dengan cepat. “Kamu tadi ngomong apa, Vin?” aku ingin memastikannya sekali lagi. Mungkin saja, tadi aku salah dengar. Apalagi diluar memang sedang turun hujan yang lumayan deras.
    “Kita pacaran aja,” ucapnya dengan berlahan.
    Tawaku langsung meledak. Lucu sekali anak ini.  Sungguh! Baru kali ini, aku mendengarnya berkata konyol seperti itu, sepanjang persahabatan kami yang sudah berjalan lima tahun ini.
    Aku dan Vino bersahabat, sejak ia pindah persis disebelah rumahku. Aku langsung akrab, karena Vino masuk SD yang sama denganku. Setiap hari, kami pergi dan pulang sekolah bersama.
    Sebenarnya, sifat aku dan Vino itu saling bertolak belakang. Vino orangnya serius dan tidakbanyak bicara. Vino hobi sekali olahraga. Setiap hari, sebelum berangkat sekolah, ia selalu menyempatkan diri lari keliling kompleks. Tiap minggu, Vino pasti pergi berenang di Tirta Mega.
    Beda dengan aku yang doyan ngobrol. Aku selalu menolak ajakan Vino lari pagi dan lebih memilih tidur dibalik selimut tebalku, sampai weker membangunkan aku. Aku lebih suka jalan-jalan ke mal dan menolak ajakan Vino untuk berenang bareng.  Mungkin persamaan kami hanyalah sama-sama sebagai anak tunggal yang doyan sekali makan bakso.
    “Kamu jangan tertawa, dong! Aku serius, nih!”
    “Abisnya, kamu lucu, sih! Ada-ada aja!” aku menghapus sudut mataku yang berair.
    “Emang kenapa, kalo kita pacaran?” tanyanya seakan-akan dia itu adalah makluk paling bego sedunia.
    “Ya nggak boleh aja.”  Jawabku asal sambil memandang keluar jendela warung bakso Mas Min langganan kami. Hujan belum juga berhenti.
    “Kenapa?” ia terus mendesakku, lalu meneguk teh hangatnya.
    Kenapa? Aku jadi terdiam. Iya ya, kenapa aku dan Vino tidak boleh pacaran? Vino cowok, aku cewek. Dia masih jomblo, aku juga jomblo. Dia tampan, aku cantik. Pasti kami serasi sekali.     
    “Ya, nggak boleh aja! Soalnya, kita sahabatan,” akhirnya aku menemukan jawaban yang pas untuk pertanyaannya yang konyol itu.
    “Emang kalo sahabatan, nggak boleh pacaran?”
    Aku mengangguk pasti. “Iya, dong! Soalnya kita udah saling tahu daleman masing-masing!”
    Vino tersenyum, memamerkan giginya yang berderet rapi. “Justru karena kita udah saling tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing, maka aku ngajak kamu pacaran. “
    “Udah ah, jangan dibahas lagi!” aku meneguk habis es jerukku yang tinggal setengah.
    “Aku serius, nih! Aku ingin, kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu,” Vino menegaskan.
    “kenapa sih, hari ini kamu tiba-tiba jadi aneh?”
    “Tau! Cuma akhir-akhir ini, aku  mikirin kamu terus. Aku merasa takut kehilangan kamu. Aku ingin, kamu selalu bersamaku,” mata Vino menerawang keatas. “Makanya, aku ngajak kamu pacaran, lalu nanti kita nikah dan punya anak.”
    Tawaku meledak lagi. Kali ini lebih keras, sampai semua pengunjung kedai bakso ini melihat padaku. Tapi aku sih, cuek saja. Mumpung di dunia ini belum ada larangan untuk tertawa.
    “Hari gini, udah mikirin soal nikah dan punya anak?!” ledekku. “Plis dong, ah! Hentikan pikiran konyolmu itu! Vin, kita ini masih kelas XI. Kita masih muda. Jalan kita masih panjang. Masih banyak cita-cita yang ingin kita raih,” ujarku. “Seharusnya, kita mikirin nilai semester kita! Baik apa kagak! Kita naik kelas apa kagak!”
    “Trus, gimana, dong?” Vino mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
    “Au ah, gelap!”
                                                      * * *
    Sampai dirumah, aku langsung masuk kamar. Kulempar tas selempang  merah jambuku keatas meja belajar, lalu kuhempaskan tubuhku diatas kasur. Aku lelah sekali. Tapi sebenarnya, hatiku yang merasa lelah. Acara hari ini jadi berantakan, gara-gara perbincangan konyol itu.
    Aku merasa, akhir-akhir ini kelakuan Vino makin aneh-aneh saja. Minggu lalu, tiba-tiba saja  sepulang sekolah, ia mengajakku ke studio foto untuk foto bareng.
    “Ih, apa-apaan, sih? Aku harus buru-buru pulang, nih!” tolakku.
    “Ayolah! Sebentar aja! Buat kenang-kenangan,” regek Vino sambil terus menarik tanganku.
    Aku melotot. Foto buat kenang-kenangan? “Emang foto kita yang beralbum-album itu, belum cukup buat kenang-kenangan?” tanyaku.
    “Itu kan foto-foto kita yang udah kadarluwarsa. Aku pengin foto kita yang paling gress.”
    “Nggak mau, ah! Wajahku lagi jerawatan, Nih!”
    “Nggak papa! Biar jerawatan, kamu tetap manis, kok!”
    Oh My Good! Baru kali ini ia memujiku. Tumben, anak itu mimpi apa semalam?
    “Emang kamu mau kemana, sih?” tanyaku penasaran.
    Vino tidak menjawab. Ia malah menarik tanganku dan memaksa untuk segera naik keatas motornya.
    Begitulah, siang itu kami habiskan dengan bermacam gaya di dalam foto box, sampai gigiku kering, karena Vino terus memaksaku untuk tersenyum.
    Ah, aku menghela nafas. Mungkin sehabis mandi, otakku bisa jadi lebih enteng, pikirku sambil menyambar handuk, lalu bergegas menuju kamar mandi. Tapi, baru beberapa langkah, hapeku berbunyi. Buru-buru aku menyambarnya dari atas tempat tidur.
    “Hey, kenapa lagi?’ tanyaku begitu tahu siapa yang menelponku.
    “Galak amat! Aku cuma tanyain kabar doang!” jawab suara diseberang sana. “Kamu lagi ngapain?”
    “Aku baru mau mandi! Emang kenapa?”
    “Sampe sekarang, aku masih aja mikirin kamu. Malam ini, aku boleh nggak nginap dirumah kamu?”
    “Apa…?  Kamar kamu kan, hanya lima meter jaraknya dari kamar aku.”
    “Tapi aku mau malam ini bobo sama kamu!”
    “Dasar sinting lo!” makiku lalu buru-buru mematikan hape dan membantingnya diatas tempat tidur.
                                               * * *
    Aku sedang menyisir rambutku yang sebahu. Tiba-tiba…
    “Suprais….!”
    Aku terkejut dan spontan menoleh kearah datangnya suara itu.  Wajah Vino tiba-tiba nongol dipintu kamarku.
    “Hey, ngapain pagi-pagi kamu udah kemari?”
    “Aku buatkan nasi goreng special untukmu. Nih…!” ia memamerkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi setengah mateng, suwiran ayam goreng, krupuk udang, irisan timun dan tomat, serta taburan bawang goreng. Benar-benar nasi goreng favoritku.
    “Kamu yang membuatnya?” tanyaku tidak percaya atas kejutannya yang tidak biasa ini. Ia mengangguk. “Ada apa, sih? Aku kan lagi nggak ultah?”
    “Cuma pengin aja! Aku pengin melihatmu senang.”
    Tentu saja aku senang sekali. Cewek mana sih, yang tidak suka mendapat perhatian dari seorang cowok. Ups, seorang cowok? Vino kan bukan cowokku, tapi sahabatku yang sudah aku anggap seperti saudara kandung.
    “Hey, dicobain, dong! Jangan bengong aja!”
    Aku terkesiap, lalu menyendok nasi goreng itu dan memasukkan kedalam mulutku.
    “Gimana rasanya? Enak?”
    Aku mengangguk cepat sambil terus mengunyah. “Enak, enak banget. Makasih ya!” jawabku sambil meringis. Soalnya nasi goreng Vino itu rasanya amburadul.
                                                   * * *
    Jam istirahat, aku sudah janjian dengan fadil untuk ketemuan di kantin sekolah. Fadil itu sekelas dengan Vino dan aku lihat mereka cukup akrab. Mungkin saja fadil tahu penyebabnya, kenapa Vino belakangan ini bersikap agak aneh.
    “Lho, seharusnya kamu yang lebih tahu, Van! Kalian kan bersahabat,” jawab Fadil.
    “Itulah yang aku herankan. Selama ini, Vino selalu cerita ke aku apapun masalahnya. Mungkin saja kali ini Vino mempunyai masalah yang berhubungan dengan masalah cowok dan ia sungkan bercerita padaku,” jelasku. Walau kami bersahabat, tapi kami kan beda  jenis. Tidak semua cerita bisa kami bagi.
    Fadil menggeleng. “Vino nggak pernah cerita apa-apa padaku. Setahuku, Vino bersikap seperti biasa saja. Nggak ada yang aneh-aneh.”.
    Kalau begitu, kenapa Vino hanya bersikap aneh padaku, ya? gumanku. Apalagi sikap-sikap anehnya itu sangat bertolak belakang dengan sikapnya selama ini.
                                                             * * *
    Pulang sekolah, tidak sengaja aku bertemu dengan Trisa, cewek yang  sudah dua bulan ini ditaksir Vino. Aku sudah berulang kali menyuruh Vino untuk segera nembak si Trisa. Aku bahkan rela berburu informasi tentang Trisa, mulai dari dimana alamat rumah Trisa, latar belakangnya sampai apa saja hal-hal yang disukai dan tidak dsukai oleh Trisa.
   Semua itu aku lakukan semata-mata untuk memperlancar jalan Vino mendapatkan Trisa. Jangan sampai si Vino keduluan dengan cowok lain. Cewek manis kayak Trisa, mana betah lama-lama dianggurin oleh cowok-cowok satu sekolah.
    Apakah mungkin si vino sudah nembak Trisa dan ternyata cewek itu menolaknya? gumanku. Mungkin Vino kecewa dan sebagai pelariannya, ia ngajak aku pacaran?
    “Hai, Risa! Boleh ngomong sebentar nggak?”aku mencegat Trisa, sebelum ia masuk kedalam mobil yang menjemputnya.
    “Boleh aja! Tapi jangan lama-lama, ya!”
    Aku mengangguk, lalu segera menyampaikan maksudku pada Trisa. Tidak lebih dari lima menit, aku sudah menceritakan semuanya.
    “Jadi si Vino itu naksir aku?” Trisa kelihatannya tersipu malu.
   Aku mengangguk. “Emang Vino nggak pernah ngomong?”
   Trisa menggelengkan kepalanya. “Nggak pernah tuh! Malah setiap kali  kami berpapasan, Vino sepertinya menghindar. Jadi, gimana aku bisa menolak cintanya, kalo sekedar ngobrol aja nggak pernah.”
    Ooh…. Mulutku hanya membulat mendengar penjelasan Trisa. Bego juga tuh anak, makiku dalam hati. Percuma saja aku mengajarinya trik-trik mengaet cewek. Sia-sia saja aku mengumpulkan informasi tentang Trisa selama ini. Uh, buang-buang waktu dan energi saja.
    “Bilangin deh, ketemanmu yang cakep itu! Jadi cowok jangan pemalu banget,” ucap Trisa. sebelum ia masuk ke dalam mobilnya. Aku hanya mengangguk sambil melambaikan tangan pada Trisa.
    Tiba-tiba hapeku berbunyi. Ternyata dari Mama.
    “Kamu lagi dimana, Van? Kenapa belum pulang?”
    “Vani masih di sekolah, Ma! Emangnya kenapa, Ma?”
    “Ya, ampun, Vani! Mama udah nungguin kamu! Bukankah siang ini kita harus segera ke Bogor?”
    Oh My Good! Aku lupa, besok Mbak Sita, kakak sepupuku akan menikah.
    “Iya ya, Ma! Vani segera pulang!”
                                                           * * *
    “Hey, pa kabar?”  sapaku begitu aku menemukannya sedang duduk di taman belakang sedang mengutak-utik motornya.
    “Vani…!” serunya dengan riang. Wajahnya menjadi ceria sekali.  Ia langsung menyongsong kedatanganku. Dan tiba-tiba saja, ia melakukan hal sama sekali tidak aku duga. Ia langsung memelukku. Aku kaget sekali. 
    “Aku kangen sekali padamu, Van!” bisiknya tepat ditelingaku. Aku bahkan bisa merasakan desahan nafasnya. “Kamu pergi lama sekali, Van!”
    “Kamu ini apa-apaan, sih?” Aku langsung melepaskan diri dari pelukannya. “Lagian, baru dua hari kita nggak ketemu.”
    Vino memandangku dengan tatapan mata yang aneh, seakan-akan kami ini baru bertemu kembali setelah sekian tahun lamanya berpisah.
     “Kenapa kamu pergi nggak bilang-bilang, Van? Aku sampai bingung mencarimu.”
    “Ceila…Vino! Aku tuh pergi bukan ke benua afrika atau ke kutub utara. Aku cuman ke Bogor, yang jarak tempuhnya nggak lebih dua jam dari Jakarta. Kamu makin lama makin norak, tau!”
    “Tapi, lain kali, kamu jangan menyiksa aku seperti ini lagi! Kamu tau, sehari aja nggak ketemu kamu, bisa membuatku uring-uringan.”
    Hahaha… kali ini tawaku membahana disekitar taman belakang rumah Vino. Lucu sekali. Sungguh lucu.
    “Kamu sekarang sering tertawa?”
    “Daripada kamu, sekarang sering aneh-aneh,” balasku.
    “Van, gimana keputusanmu? Kamu mau kan, jadi pacarku?”
    Aku melotot. Kenapa Vino membahas masalah itu lagi.
    “Plis, Van! Maukah kamu mengabulkan permintaan terakhirku ini?”
    Ih… aku jadi merinding mendengar perkataan Vino itu.
                                                   * * *
    Malamnya, aku tidak bisa tidur. Aku terus saja memikirkan ucapan Vino yang membuat bulu kudukku merinding. Apa maksudnya, Vino berkata seperti itu?
    Pikiranku kembali melayang-layang di udara. Aku mencoba mengingat-ingat kembali kelakuan-kelakuan Vino yang aneh-aneh itu. Vino yang tiba-tiba mengajak aku pacaran, Vino yang tiba-tiba ngajak foto bareng, Vino yang membuatkan aku nasi goreng, Vino yang selalu ingin dekat denganku, Vino yang takut kehilangan aku. Vino yang meminta aku mengabulkan permintaan terakhirnya.
    Aku mencoba mencari benang merah, antara kejadian yang satu dengan yang lainnya. Dan… Aku jadi merinding, sekaligus takut. Aku jadi ingat cerita temanku, biasanya orang yang mau pergi jauh, kelakuannya suka aneh-aneh. Apakah ini  tanda-tanda dari Vino? Apakah Vino akan pergi meninggalkanku?
    Tiba-tiba saja aku menangis. Tiba-tiba saja, aku merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Tidak! Vino tidak boleh pergi. Aku sangat sayang padanya dan takut kehilangan dia.
    Aku langsung menyambar hapeku. Dengan nafas memburu, kupencet angka-angka yang sudah aku hapal diluar kepala.
    “Halo? Ada apa, Van?”
    Aku lega sekali mendengar suaranya. “kamu baik-baik aja kan, Vin? Kamu nggak kenapa-napa?”
    “Iya, aku baik-baik! Emangnya kenapa?”
    “Ehm, aku mengkhawatirkan kamu,” jawabku jujur.
    Terdengar tawa dari seberang sana. “Sepertinya kamu udah mulai jatuh cinta padaku. Makanya, jangan sok nolak orang ganteng. Kualat jadinya, nggak bisa tidur.”
                                                * * *
    Akhirnya, hatiku luluh juga. Aku mau menjadi pacar Vino. Sebenarnya aku menerima tawarannya itu, bukan karena aku cinta padanya, tapi karena aku kasihan saja padanya. Aku tidak tega melihat tampangnya yang memelas itu. Aku risih dikejar-kejar terus dengan pertanyaan yang sama : Van, kamu mau nggak jadi pacarku?
    Sebenarnya, bukannya aku tidak cinta pada Vino. Cewek mana yang tega menolak cinta Vino, cowok tampan baik, pintar dan macho. Pasti nyaman sekali setiap kali berada didekatnya.
    Tapi… Mungkin sudah terlambat. Bertahun-tahun bersahabat dengannya, membuat hubunganku dengan Vino begitu sangat dekat, seperti saudara kandung. Cintaku padanya, sudah berubah menjadi perhatian dan sayang yang melebihi dari apapun. Rangkulan lengannya yang nyaman atau genggaman tangannya yang hangat, sama sekali tidak membuat hatiku berdesir.
    Jam setengah sebelas siang, Vino sudah menjemputku. Kali ini ia berdandan beda dari hari biasanya. Hari ini ia memakai kemeja putih yang lengannya digulung. Kancing atasnya dibiarkan terbuka, sehingga t-shirt putih didalamnya ikut terlihat.
    “Kenapa kamu pake baju gituan?” tumben ia memprotes dandananku.
    “Emangnya kenapa, sih?” aku balik bertanya. Aku rasa tidak ada yang salah dengan penampilanku kali ini. T-shirt pink, celana jins dan sepatu sandal teplek. Vino sudah tahu, kalau ini adalah dandanan andalanku.
    “Bajunya diganti dong, dengan baju warna putih juga! Biar kompakan!”
    Aneh, baru kali ini, Vino mempermasalahan warna bajuku. Padahal ia sudah tahu, pink itu warna favoritku. Biasanya juga ia tidak peduli.
    Aku segera kembali ke kamarku. Sebenarnya, aku tidak suka baju warna putih. Tapi entahlah, aku menurut saja. Tidak ada salahnya, sekali-kali menyenangkan hati Vino. Mungkin ini juga termasuk permintaan terakhirnya. Ups… Buru-buru aku memukul mulutku. Aku menyesal sekali, sudah berkata seperti itu.  Aku janji tidak akan berpikiran seperti itu lagi.
    Aku  begegas menemui Vino yang masih menungguku di teras depan. Ia tersenyum, begitu melihatku keluar.
    “Nah, gitu dong! Kamu malah terlihat lebih manis!” pujinya yang kedengaran diucapkanya dengan tulus.
    Aku sedikit tersipu. Cewek mana sih, yang tidak suka dipuji.
    “Hey, jangan bengong aja! Ayo, berangkat!”
    Sebenarnya aku ingin naik taksi saja. Tapi Vino memaksaku untuk naik motor saja.
    “Apa enaknya pacaran naik taksi,” lagi-lagi Vino protes. “Apa kamu nggak risih diliatin sopir taksi, saat kita pegangan tangan?”
    Entahlah! Lagi-lagi aku menurut saja. Padahal hatiku berontak. Untuk apa aku berdandan cantik, kalau nantinya berantakan.
   Mulanya motor Vino melaju dengan kecepatan sedang. Minggu siang begini, Jakarta tidak terlalu padat dengan kendaraan.
   Entah darimana ide itu muncul. Tiba-tiba Vino melajukan motornya dengan kencang.
   “Vin, bawa motor jangan kecang-kencang, dong!” aku mengingatkan Vino ditengah angin yang menderu-deru.
    “Tenang aja, Van! Aku udah bisa naik motor sejak kelas enam SD. Kamu pegangan yang kuat, ya!” teriak Vino sambil menggas motornya lebih dalam. Aku memeluk pinggangnya semakin erat.
    “Vin, hentikan!” teriakku ketika aku merasa motor Vino seperti terbang dan tidak menyentuh aspal. Aku  mulai ketakutan.
    Vino malah tertawa-tawa dan semakin mepercepat laju motornya. Ia tidak mempedulikan aku yang berteriak-teriak ketakutan. Hingga diperempatan jalan itu… Vino tidak bisa lagi mengendalikan motornya yang melaju dengan kecepatan tinggi dan langsung menghantam pembatas jalan.
    Cengraman tanganku dipinggang Vino terlepas. Tubuhku melayang di udara, lalu mendarat tepat menghantam aspal. Rasanya sakit. Sakit sekali.
    “Vaaanii…..!” jerit Vino. “Bangun, Van! Jangan tinggalin aku!” Vino menangis meraung-raung sambil terus menguncang-guncang tubuhku.
     Aku melihat wajah Vino dipenuhi darah. “Vin…” hanya itu yang mampu aku ucapkan, sebelum semuanya menjadi gelap. 

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Terima kasih. Salam semangat menulis.