Jangan Ikut-ikutan Saya Jadi Penulis

                       
Foto : Bambang Irwanto - Lokasi Museum Bank Mandiri Jakarta

Menulis itu sesuatu yang menyenangkan. Jadi kalau dijalanin dengan enjoy, senang hati, maka hasilnya akan bahagia. Soalnya sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas tulus dari lubuk hati yang paling dalam, hasilnya akan maksimal cieee.. gaya benar bahasanya hehehe.
Banyak teman yang bertanya pada saya, Mas Baim, kapan waktu menulisnya, di mana tempat favotir menulisnya, dan sebagainya.  Bahkan ada yang minta difotokan tempat menulis saya. Katanya pengin lihat ruangan yang membuat saya produktif menulis hehehe.
Sebenarnya, teman-teman tidak usah ikut-ikutan meniru saya dalam dunia menulis ini. Soalnya kalau asal ngikut saja, bisa bahaya, dan hasilnya tidak akan maksimal. Lho kok gitu? Kalau penasaran, saya jelaskan saja, ya. Cekkidot...

Jangan Ikut-ikutan Saya Menulis
        Ini hal utama dan penting, ya! Saat melihat karya saya dimuat di media, atau ada buku saya terbit, maka jangan langsung ikut-ikutan saya. Mau jadi penulis juga, atau setidaknya langsung pengin menulis. Lalu ikut-ikutan apa yang saya tulis. Wih... enak tuh dapat honor. Wih.. enak tuh nanti dapat royalti.
        Menulis itu bukan ikut-ikutan atau coba-coba, ya. Menulis itu memang niat dan ingin menulis. Senang menulis, dan karena ada sesuatu yang ingin dibagikan pada orang lain. Seperti yang saya tuliskan tadi, menulis itu memang harus datangnya dari lubuk hati yang paling dalam ciyeeee lagi... hehehe.
        Jadi mantapkan dulu hatimu. Kamu ingin menulis memang niat menulis, atau hanya coba-coba atau ikut-ikutan saja. Jangan karena kamu tergoda saja melihat keberhasilan penulis lain. Padahal mereka sampai tahap itu, karena proses yang panjang.

Jangan Ikut-ikutan Menulis Apa yang Saya Tulis
       Kalau memang sudah niat menulis dan suka menulis, maka boleh deh, lanjut ke tahap berikutnya. Pokoknya sudah oke ya, di bagian pertama tadi. Nah, sekarang tentukan, teman-teman mau menulis apa.
      Tidak usah ikut-ikutan mau menulis cerita anak seperti saya, kalau teman-teman memang tidak suka dengan cerita anak. Ada teman yang bertanya, “Mas Baim, saya ingin nulis cerita anak, tapi saya tidak suka dunia anak?” maka jawabannya,  “Jangan menulis cerita anak, tapi menulis sesuatu yang kamu sukai. Suka dunia remaja, tulis cerita remaja. Suka nulis artikel, tulis saja artikel.”
       Tapi kalau kamu tetap keukeh dan suka ikut-ikutan kayak saya, maka kamu harus belajar. Saya kasih tau resepnya nih. Pertama, cintai dan sukai apa  Lalu banyak baca apa yang akan kamu tulis terus pelajari. Lalu tulis deh dengan semangat. Segala sesuatu di dunia menulis ini bisa dipelajari kok. Jadi kalau semangat belajar, maka bisa menulis banyak jenis tulisan.
 
Jangan Ikut-ikutan Waktu Menulis Saya
        Saya suka menulis di pagi hari. Menurut saya, karena pagi hari, pikiran saya masih fresh. Jadi ide-ide cerita yang sudah ada, bisa dikembangkan dengan cepat. Makanya, setelah sarapan dan mandi, saya langsung buka laptop.
       Tapi tidak ada keharusan kok. Kalau kebetulan saya ada urusan di pagi hari, atau bahkan seharian, maka saya buka laptop dan menulis setelah sampai rumah. Kalau ada ide, saya langsung catat di hape dulu. Biar tidak lupa. Nanti saat sampai di rumah, baru dieksekusi.
      Jadi teman-teman tidak usah mengikut waktu menulis saya., seperti juga saya tidak mengikuti waktu menulis penulis lain. Karena tiap penulis mempunyai kesenangan waktu menulis berbeda-beda. Ada yang suka menulis di pagi hari seperti saya, ada yang siang, malam, sore, atau malah dini hari. Jadi tentukan sendiri waktu yang pas denganmu. Karena cocok untuk penulis lain, belum tentu cocok untuk teman-teman.
      Saya sesekali pernah mecoba menulis dini hari. Hasilnya, esok harinya kepala saya pusing 10 keliling. Makanya saya mengatur dan menentukan waktu menulis saya sendiri. Tapi waktu ini tidak jadi patokan atau harga mati. Waktu menulis saya tetap bisa saya fleksibelkan sesuai aktivitas saya.

Jangan Ikut-ikutan Tempat Menulis Saya
      Menulis itu sebenarnya bisa di mana saja. Apalagi sekarang perangkat sudah mendukung. Ke mana-mana bisa bawa laptop, tablet atau bahkan hape. Kebayang kan, zaman dulu harus nenteng monitor dan CPU komputer hahaha.
     Hanya memang, ada tempat favorit setiap penulis. Semacam sugesti, kalau nulis di tempat itu, ide-ide lebih mengalir, dan menulis lebih lancar. Makanya banyak teman yang suka di kafe, mall, perpustakaan, bahkan di kamar setrikaan hehehe.
      Kalau saya suka menulis di meja tulis di kamar saya. Meja tulis itu peninggalan Bapak saya. Terbuat dari kayu jati dengan 3 buah laci di sebelah kanannya. Kalau kursinya sudah beberapa kali ganti. Soalnya patah terus hahaha.
      Saya nyaman menulis di sana. Jadi laptop juga tidak pernah pindah ke mana-mana. Yang pindah-pindah saya hahaha. Maksudnya kalau mau ke belakang ambil cemilan. Saya pun bebas mau ngetik sambil angkat kaki hahaha.
     Saya pernah mencoba ngetik di perpustakaan. Hasilnya, saya malah asyik membaca buku. Saya pernah iseng bawa laptop ke mall. Nulis kagak, punggug pegal manggul laptop hahaha. Saya pernah coba ngetik di spot wifi. Kayaknya asyik juga kalau ngetik sampi wifi. Ternyata listriknya anjlok melulu. Ngetik gagal, batterai bisa rusak hehehe. Jadi cari dan tentukan, teman-teman sukanya nulis di mana.

Jangan Ikut-ikutan Proses Menulis Saya
      Proses menulis di sini, maksudnya  proses saat menulis cerita, ya. Kalau saya prosesnya sekarang begitu ada ide, saya ketik langsung ceritanya dari awal sampai akhir. Selesai saya endapkan, baru kemudian saya edit kembali.
     Teman-teman tidak usah mengikuti proses menulis saya, juga penulis lain. Temukan sendiri proses menulis yang menyenangkan. Misalnya, kalau nyaman pakai kerangka karangan atau draf dulu juga bisa. Bahkan masih nyaman menulis dulu di buku tulis atau hape, baru dipindahkan ke laptop juga tidak masalah. Pokoknya apapun caranya, tujuannya naskah harus selesai hehehe.


Jangan Ikut-ikutan Gaya Menulis Saya
     Setiap penulis itu, pasti punya gaya menulis yang berbeda-beda. Hampir sama seperti penyanyi,  punya gaya sendiri saat bernyanyi, dan itu membedakan dengan penyanyi lain. Vina Panduwinata, Krisdayanti, dan Rossa, saat diminta menyanyikan lagu Almarhum Chrisye, pasti cara menyanyi berbeda.
       Sampai saat kita memejamkan mata, dan hanya mendengarkan suaranya, kita tau siapa yang menyanyi. Sama dengan gaya tulisan. Walau misalnya saat kita membaca sebuah cerita, namun tidak ada nama penulisnya, maka dari gaya bahasanya, kita bisa tau siapa penulisnya.
     Pernah cerita saya dimuat di Majalah Bobo. Judulnya Tuan Garam dan Nona Gula. Kebetulan Bobo lupa mencantumkan nama saya. Tapi Mbak Tuti Sitanggang SMS saya. Saya heran kenapa Mbak Tuti tau itu cerita saya? Mbak Tuti jawab, gaya menulisnya khas Mas Bambang.
      Untuk awal menulis, tidak apa-apa meniru gaya penulis lain. Tapi seiring waktu, akan muncul gaya menulis sendiri. Seperti gaya berbicara kita sehari-hari saja. Jadi kalau sudah punya gaya sendiri, tidak perlu mengikuti gaya penulis lain. Dan itu yang saya alami. Proses menulis, ternyata membuat saya punya gaya sendiri dalam menulis.

Jangan ikut-ikutan Pendukung Menulis Saya
      Kalau yang ini soal boster untuk tubuh agar semangat menulis, ya. Misalnya teman penulis ada setiap menulis pasti menyediakan kopi atau apa, biar mata tetap melek.
      Kalau saya sih, biasanya sedia cemilan, air putih, juga stell radio. Jadi saat mengetik, saya sambil ngemil dan dengar radio. Saya juga tidak lupa minum air putih. Tidak ketinggalan, ngetik sambil angkat kaki hahaha. Pokoknya tubuh saya harus selalu sehat. Soalnya modal penulis itu sehat. Kalau sehat, ide-ide apa saja bisa lancr dieksekusi.
     Tapi teman-teman tidak usah mengikuti cara saya. Sesuaikan dengan diri teman-teman saja. Jangan ikut-ikutan menyetel radio atau musik, padahal sukanya menulis di keheningan hehehe. Jangan ikut-ikuta minum kopi, padahal kurang cocok.

       Nah, jadi jelas ya, teman-teman tidak usah ikut-ikutan saya. Teman-teman cari dan temukan sendiri apa yang sesuai untuk teman-teman. Biar menulis itu jadi menyenangkan dan membawa kebahagiaan. Salam semangat menulis...

Bambang Irwanto

       

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Jangan Ikut-ikutan Saya Jadi Penulis"

  1. Setuju, Mas. Setiap orang memiliki cara sendiri dalam menulis. Baik itu pemilihan waktu dan kebiasaan lainnya. Jadi nggak usah tiru-tiru. Nulis aja sesuai kata hati. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak Ratna.
      Jadi kalau mengikuti penulis lain, kadang malah beban ya, Mbak.
      Kok saya tidak seperti dia? kenapa saya belum belum seperti dia?
      Padahal kalau nulis dengan gaya sendiri, akan enjoy.

      Delete
  2. Kalau ngikuti orang lain susah, gk bisa bebas. Tapi kalau sebagai sumber inpirasi ya gk masalah ya..

    ReplyDelete
  3. Iya, benar sekali. Karena setiap penulis, mempunyai gaya menulis sendiri-sendiri. Kalau sumber inspirasi tidak apa-apa. Bahkan dari penulis lain, kita bisa termotivasi untuk terus semangat menulis, Kak Rianda.

    ReplyDelete
  4. Akk aku mau ikutan dirimu yang produktif, Daeeeng..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kalau ini boleh, Mbak Mbak Dedew.
      Tapi yang pasti, Mbak Dedew tidak bisa ikut-ikutan ketampanan rupawan saya hehehe.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.