Ternyata, saya langsung disambut kata-kata
mutiara
oleh ibu saya, “Ya, beda warna beda rasa, walau mereknya sama.
Anak kembar saja beda. Ayo, cari lagi!” Saya pun langsung ngacir lagi berburu teh.
Ibu
saya sangat suka minum teh. Setiap pagi dan sore, teh pasti tersedia di rumah. Wajar saja,
kalau 3 dari 5 ‘titisan darah merahnya’, jadi ikut-ikutann suka minum teh. Siapakah
mereka?
Mereka adalah Saya si anak ke
tiga,
kakak perempuan saya yang nomor dua, dan adik saya yang nomor 4. Kakak laki-laki pertama saya tidak suka
minum teh,
sedangkan
adik saya yang anak ke 5 alias bungsu, selalu menolak minum teh. Alasannya teh bikin pipis-pipis hehehe. Halah..
saya nggak tuh hehehe..
Padahal dari artikel yang pernah
saya baca minum teh itu sangat bermanfaat. Bisa membuang racun dalam tubuh,
meningkatkan imunitas tubuh, mengobati sakit kepala, menurunkan kadar
kolesterol, sampai membantu perawatan gigi.
Nah, lanjut soal minum teh di
keluarga saya. Ibu saya itu termasuk tipe-tipe setia pada satu merek produk.
Termasuk merek teh
tehnya pun spesial. Ibarat syair lagu, tidak bisa pindah ke lain hati. Itu tuh, yang ada merek botolnya. Terus
maunya yang warna hijau, padahal ada juga yang warna biru
Pernah ibu menyuruh saya
membeli teh
kebanggaan itu. Pas di supermaket, ternyata yang ada cuma yang warna biru. Saya pun nekat
beli. Pikir saya, sama saja kan. Paling beda warna. Apalagi kan satu pabrik.
![]() |
| foto : Shoppe |
Ternyata, saya langsung disambut
kata-kata mutiara oleh ibu saya, “Ya, beda warna beda rasa, walau
mereknya sama. Anak kembar saja beda. Ayo, cari lagi!” Saya pun langsung ngacir lagi berburu teh.
Bukan hanya soal merek teh, soal penyajian teh juga, ibu saya punya cara tersendiri. Jadi teh ditaruh dulu
di teko, lalu kasih gula sesuai takaran. Baru ditambah air mendidih. Ingat air
yang saat mendidih. Karena kata ibu saya, kalau airnya
panas-panas kuku apalagi panas-pamas manja, tehnya tidak akan
merah. Setelah itu didiamkan 20 menit, ditutup lap makan bersh baru
disaring ke gelas-gelas atau cangkir.
Makanya, kalau di rumah, jangan
coba-coba ada yang menbuatkan teh untuk ibu saya. Dijamin tidak akan sesuai seleranya. Tehnya
kebanyakan lah, kurang manislah, kuang merah lah, dan lainnya lainnya, Jadi mending cari aman. saja Ibu yang bikin tehnya, saya numpang minum saja hehehe.
Mungkin karena sudah tertancap di hati dan jiwa ibu saya,, maka soal teh ini sudah
dipakemkan. Makanya ibu saya suka mengeluh kalau minum teh di tempat lain. Misalnya saat ke rumah bude saya. Bude saya juga suka teh, cuma cara
penyajiannya berbeda.
Bude saya, teh diseduh dulu dalam
teko. Sedangkan gulanya di gelas. Baru dituangkan tehnya ke dalam gelas
itu. terakhir baru diaduk. Kalau mau tambah, maka lakukan lagi cara dari awal
hehehe...
Pernah juga Ibu ke rumah saudara lain. Kebetulan
mereka tidak terlalu suka minum teh. Jadi hanya sedia teh celup. Ibu saya langsung loyo. Dan begitu
sampai rumah, langsung buru-buru bikin teh, sebagai tindakan balas dendam
hahaha...
Di lain waktu, ibu saya ke suatu tempat yang tidak ada teh merek kebanggannya itu. Sudah mutar nyari, tidak ketemu. Akhirnya coba teh lain, dan
hasilnya, bukan selera hehehe
Makanya ibu saya paling sedih kalau
nginap di rumah lain. Apalagi penyebabnya kalau bukan soal teh. Dari masalah
beda merek, beda penyajian dan kurang puas minumnya.
Suatu hari ibu saya telpon.
“Mbang antarin ibu ke rumah febri, ya!” Febri itu
adik bungsu saya.
“Siap, Bu!” saya pun segera meluncur ke rumah ibu.
Sampai di sana saya langsung
terkejut. “Wah,
Ibu mau nginap sebulan. Itu bawaan banyak banget?” tanya saya.
Ibu saya hanya tersenyum. Kasihan deh,
saya dicuekin hehehe.
Sampai di rumah Febri, saya terbelalak saat ibu saya
mengeluarkan barang-barang bawaannya dari tas. Ada teko teh, gula, cangkir
khusus teh ibu, dan tentu saja beberapa bungkus teh kebanggaannya.
“Yuk, kita segera acara teh!” ajak
ibu saya.
Walau ribet, ternyata ibu saya
sudah menemukan caranya.




Wah, Ibu nya beneran maniak teh banget dan spesifik ya. Sudah punya satu teh kesukaan bahkan tidak mau ganti warna. Tapi emang sih teh cap botol warna hijau itu aroma dan rasanya enak.
ReplyDeleteMantap, Ibu beneran all out dalam menyiapkan diri misal mau nginap, perbekalan teh nya pun dibawa. Salah satu cara supaya tetap enjoy saat menginap ya.
Seruuuuuu.... Master of tea nih Ibunya.... Eh tapi bener sih saya juga kalo kalo minum eh harus teh cap Dandang, terus tingkat ke coklatannya medium, sedangkan istri saya harus cuma 2 celupan, suka minumteh tapi warnanya bening, ga mau terlalu coklat.
ReplyDeleteini yang di sebut seni meminum teh kali ya...
Tambah gula batu enaaakkkk
Ternyata menjadi maniak minum teh itu bukan sekadar hobi ya, tapi sudah jadi gaya hidup yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk rutinitas. Diriku sangat setuju kalau ritual menyeduh teh punya filosofi mendalam, mulai dari aroma yang bikin rileks sampai rasa hangat yang mengalir di tenggorokan.
ReplyDeleteaaahhhhh Jadi ingin langsung menyeduh secangkir teh hangat sambil lanjut baca tulisan blog yang lain
Aku sangat mengerti sikap Ibu yang begitu dengan Teh. Soalnya aku juga termasuk diantaranya. Hanya memang aku sudah belajar lebih flexsibel dan adaptasi dengan perubahan termasuk soal rasa teh.
ReplyDeleteMemang beda soal rasa jika prosesnya tifak sama. Apalagi soal suhu air. Buatku teh itu memiliki arti khusus, terutama saat mendengar cerita.
Kapanlah yuk ngeteh 😅🫢
Ahahahaha, tadinya aku baru mau komen "Kalo ke luar kota/negeri, Ibu wajib bawa bekal teh botol warna hejoo dari rumah,"
ReplyDeleteEhhh ternyata dah dilakukan 💪🤣 memang klo dah fanatik teh dan cara penyajian tertentu, ya pakemnya kudu begituu
Wah, kurang lebih sama kayak saya nih Pak Bambang.
ReplyDeleteJadi Ibu saya tuh duluuu yak, kalo di Kampung pun tiap pagi pasti selalu menyajikan teh buat anak-anaknya. Nikmat betul lah pokoknya ngeteh sembari nyemil gorengan, hihihi.
Dan saking istimewanya ni teh buatan mamake, sampe termosnya pun dibedain. Jadi satu termos tuh udah pasti isinya teh, dan itu tuh teh tubruk!
Sayangnya saya lupa merk teh tubruknya apa, heuheu. Padahal legendaris banget lho kalau di Kuningan sana.
Yha meskipun teh cap botol pun gak kalah enaknya yaaa
aku pernah juga bikin teh yang bentuknya daun begini, mas dan memang kalau airnya nggak panas banget itu nggak keluar warnanya. kalau di sini tehnya sudah semi halus gitu jadi tinggal ditaruh di saringan dan dikoyor air panas atau pakai teh seduh sekalian
ReplyDeleteWah kebayang nih pak Bambang ngacir ketika ibu menolak teh yang dibeli wkwk pastinya jadi bolak balik ya pak, tapi gpp demi ibu tersayang.
ReplyDeleteDaku gak engehin Pak Bams, soal beda rasa antara teh, kayak cap botol itu warna hijau dan biru. Tahunya ya mereknya aja, dan wanginya ya sama.
ReplyDeleteTernyata kalau memang pecinta Teh, paham banget pastinya ya sama cita rasa hingga aromanya
Beberapa orang memang sensitif masalah selera ya. Nggak bisa diganti-ganti apa yang sudah dia suka. Kalau ibuku peminum kopi. Dan ya sama, sukanya kopi merk itu. Ditawari yang lain jarang mau. Trs airnya juga harus sekian-sekian, gulanya sekian 😅
ReplyDeleteSepertinya orang-orang tua suka banget acara ngeteh gini
ReplyDeleteMamaku klo main ke rumahku ya bawa barang barang buat bikin teh
Mulai dari teko sampai teh favoritnya