Baru kemarin saya mulai membuka laptop lagi. Cukup berdebu karena hampir sebulan saya letakkan saja di meja. Untuk loding juga agak lelet. Butuh kesabaran mendekati level dewa hehehe
Saat kembali menulis setelah rehat cukup lama, Memang
tantangan tersendiri bagi saya. Ibaratnya lama tak olahraga, dan harus mulai
lagi..pasti harus pemanasan dulu karena badan lama tak bergerak. Apalagi untuk
urusan menulis. Mengumpulkan mood dan
semangat menulis tak semudah membalikkan telapak tangan. Tak ada istilah sim salabim atau Abra kadabra.
Hampir sebulan ini saya memang vakum menulis. Tidak hanya
berhenti ngeblog, tapi juga stop dulu job online apalagi job offline. Saya
Memnag sengaja ga daftar. Kalau pun terpilih, sudah dipastikan saya ga bakal
amanah dan maksimal menjalaninya.
Sebabnya ibu saya masuk rumah sakit. Ibu saya memang sakit. Tapi selama ini kondisinya masih stabil. Masih bisa ditinggal seharian kalau saya ada job.
Nah beberapa hari itu kondisinya ngedrop. Terlihat lemas sekali..apalagi ibu saya susah susah mengkonsumsi makanan. Bukan karena malas. Tapi Memnag saya kunyah sudah melemah. Bahkan bubur bayi yang sangat halus, termasuk minum air putih.
Nah. Hari itu kondisinya semakin melemah. Seharian tak ada apapun yang masuk. Akhirnya saya dan
saudara putuskan dibawa ke rumah sakit. Takutnya terjadi hal yang tak diinginkan
Makanya sepulang adik saya kerja, kami pun segera membawa ibu ke rumahsakit Brimob. Sayangnya alatnya yaitu CT Scan (Compoted Tomography) lagi ga tersedia. Jadi ibu saya belum bisa diterima. Padahal bukan November 2025, saat dirawat pertama, ibu saya langsung ditangani.
Akhirnya dokter memberi petunjuk untuk membawa ibu ke rumah sakit yang tersedia alatnya. Akhirnya kami sepakat membawa Ibu ke rumah sakit UI karena jaraknya paling dekat dari rumah sakit Brimob termasuk tempat tinggal kami.
Alhamdulillah perjalan lancar dan kami pun. Segera sampai di
IGD. Tenyata ibu saya tidak bisa langsung masuk kamar karena masih penuh. Jadi
menunggu dulu di IGD. Ya mau gimana lagi. Setidaknya ibu saya mendapat bantuan
infus dulu
Sampai pukul 10 malam, belum ada tanda-tanda ibu saya akan
masuk kamar. Bahkan saya sempat pesimis karena pasien baru berdatangan juga.dua
saudara saya juga sudah gelisah karena harus pulang. Tapi kalau nunggu sampai
ibu masuk kamar, belum ada kepastian.
Akhirnya diputuskan lah. Kalau saya yang tingal menunggu.
Secara logika saya Memang yang paling bisa dibandingkan dengan kakak atau adik
saya.
Akhirnya saya pun menunggu kabar selanjutnya. Ngantuk mulai
mendera. Saya pin terus berdoa semoga ibu saya segera mendapat kamar. Hanya
saya sudah lebih tenang karena cairan infus mulai masuk ke tubuh ibu
saya.setidak ya sudah ada cairan penambah yang masuk
Sekitar pukul 11 malam suster menghampiri saya kalau ibu
harus ke rumang Foto rongsen dulu. Saya pun ikut membantu mendorong tempat
tidur. Jaraknya juga Tidak jauh. Sebentar saja sudah selesai lalu kembali.
Masuk Ruang Transisi
Jam 12 suster kembali menghampiri saya. Katanya ibu saya
sudah bisa naik ke lantai 2. Wah.. leganya. Akhirnya dapat kamar juga pikir
saya. Saya pun bersama.suater naik ke lantai 2. Jujur perasaan Aya lebih plong
karena setidaknya, ibu saya sudah mendapatkan tambahan oksigen juga. Kemudian tidak lama.suster juga memasang selang makan NGT . Yang paling penting,
saya pun bisa merem-merem.sejenak. istilah saya tidur-tidur ayam hehhe.
Dan benar saja. Saya sangat mengantuk makanya pukul 3, saya mulai menggelar tikar di kolong tempat tidur lalu zzzz... tidur.
Pindah ke Kamar
Rasanya baru sebentar merem, tiba-tiba terdengar suara suster membangunkan saya. pak-pak.. ibu mau dipindah ke kamar. Jadi tolong isi formulir ini.
Alhamdulillah lega hati saya. Masih terkantuk-kantuk saya
mengisi. Dan alamak... Tulisan saya jelek. Anget. Ini efek jarang menulis
tangan
Setelah isi formulir, tidak lama suster pun mulai mengajak saya membantu mendorong bag menuju lantai 10. Kami pun menyusuri lorong, lorong
panjang.
Akhirnya ini saya mendapat kamar di lantai 10 depan kamar
isi 5 tempat tidur. Alhamdulillah saya
kembali gelar tikar lalu tidur sebentar. Tidak lama , seorang suster
membangunkan saya yang ternyata sudah datang Bersama dokter.
Begitulah.. akhirnya 5 selama 5 hari ibu saya dirawat di rumah
sakit. Saya pun sendirian menunggu. Otomatis aktivitas menulis saya terhenti
sejenak. Termasuk saya libur dulu ikut Blogwalking atau BW. Tak apa, setelah ibu
saya sehat Kembali, Insya Allah semua aktivitas menulis bis saya kejar. Termasuk
job lagi. Semangat… semangat..


0 Response to "Ketika Ibu Dirawat diRumah Sakit"
Post a Comment
Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.