} Ketika Ibu Dirawat diRumah Sakit - Bambang Irwanto Ripto

Ketika Ibu Dirawat diRumah Sakit

 


Baru kemarin saya mulai membuka laptop lagi. Cukup berdebu karena hampir sebulan saya letakkan saja di meja. Untuk loding juga agak lelet. Butuh kesabaran mendekati level dewa hehehe

Saat kembali menulis setelah rehat cukup lama, Memang tantangan tersendiri bagi saya. Ibaratnya lama tak olahraga, dan harus mulai lagi..pasti harus pemanasan dulu karena badan lama tak bergerak. Apalagi untuk urusan menulis. Mengumpulkan mood  dan semangat menulis tak semudah membalikkan telapak tangan. Tak ada istilah sim salabim atau Abra kadabra.



Hampir sebulan ini saya memang vakum menulis. Tidak hanya berhenti ngeblog, tapi juga stop dulu job online apalagi job offline. Saya Memnag sengaja ga daftar. Kalau pun terpilih, sudah dipastikan saya ga bakal amanah dan maksimal menjalaninya.

Sebabnya ibu saya masuk rumah sakit. Ibu saya memang sakit. Tapi selama ini kondisinya masih stabil. Masih bisa ditinggal seharian kalau saya ada job.

Nah beberapa hari itu kondisinya ngedrop. Terlihat lemas sekali..apalagi ibu saya susah susah mengkonsumsi makanan. Bukan karena malas. Tapi Memnag saya kunyah sudah melemah. Bahkan bubur bayi yang sangat halus, termasuk minum air putih.

Nah. Hari itu kondisinya semakin melemah. Seharian tak ada apapun yang masuk. Akhirnya saya dan saudara putuskan dibawa ke rumah sakit. Takutnya terjadi hal yang tak diinginkan

Makanya sepulang adik saya kerja, kami pun segera membawa ibu ke rumahsakit Brimob.  Sayangnya alatnya yaitu CT Scan (Compoted  Tomography)  lagi ga tersedia. Jadi ibu saya belum bisa diterima. Padahal bukan November 2025, saat dirawat pertama, ibu saya langsung ditangani.

Akhirnya dokter memberi petunjuk untuk membawa ibu ke rumah sakit yang tersedia alatnya. Akhirnya kami sepakat membawa  Ibu ke rumah sakit UI karena jaraknya paling dekat dari rumah sakit Brimob termasuk tempat tinggal kami.

Alhamdulillah perjalan lancar dan kami pun. Segera sampai di IGD. Tenyata ibu saya tidak bisa langsung masuk kamar karena masih penuh. Jadi menunggu dulu di IGD. Ya mau gimana lagi. Setidaknya ibu saya mendapat bantuan infus dulu

Sampai pukul 10 malam, belum ada tanda-tanda ibu saya akan masuk kamar. Bahkan saya sempat pesimis karena pasien baru berdatangan juga.dua saudara saya juga sudah gelisah karena harus pulang. Tapi kalau nunggu sampai ibu masuk kamar, belum ada kepastian.

Akhirnya diputuskan lah. Kalau saya yang tingal menunggu. Secara logika saya Memang yang paling bisa dibandingkan dengan kakak atau adik saya.

Akhirnya saya pun menunggu kabar selanjutnya. Ngantuk mulai mendera. Saya pin terus berdoa semoga ibu saya segera mendapat kamar. Hanya saya sudah lebih tenang karena cairan infus mulai masuk ke tubuh ibu saya.setidak ya sudah ada cairan penambah yang masuk

Sekitar pukul 11 malam suster menghampiri saya kalau ibu harus ke rumang Foto rongsen dulu. Saya pun ikut membantu mendorong tempat tidur. Jaraknya juga Tidak jauh. Sebentar saja sudah selesai lalu kembali.

Masuk Ruang Transisi 

Jam 12 suster kembali menghampiri saya. Katanya ibu saya sudah bisa naik ke lantai 2. Wah.. leganya. Akhirnya dapat kamar juga pikir saya. Saya pun bersama.suater naik ke lantai 2. Jujur perasaan Aya lebih plong karena setidaknya, ibu saya sudah mendapatkan tambahan oksigen juga. Kemudian tidak lama.suster juga memasang selang makan NGT . Yang paling penting, saya pun bisa merem-merem.sejenak. istilah saya tidur-tidur ayam hehhe.

Dan benar saja. Saya sangat mengantuk makanya pukul 3, saya mulai menggelar tikar di kolong tempat tidur lalu zzzz... tidur.

Pindah ke Kamar

Rasanya baru sebentar merem, tiba-tiba terdengar suara suster membangunkan saya. pak-pak.. ibu mau dipindah ke kamar. Jadi tolong isi formulir ini.

Alhamdulillah lega hati saya. Masih terkantuk-kantuk saya mengisi. Dan alamak... Tulisan saya jelek. Anget. Ini efek jarang menulis tangan

Setelah isi formulir, tidak lama suster pun mulai mengajak saya membantu mendorong bag menuju lantai 10. Kami pun menyusuri lorong, lorong panjang.

Akhirnya ini saya mendapat kamar di lantai 10 depan kamar isi 5 tempat tidur.  Alhamdulillah saya kembali gelar tikar lalu tidur sebentar. Tidak lama , seorang suster membangunkan saya yang ternyata sudah datang Bersama dokter.

Begitulah.. akhirnya 5 selama 5 hari ibu saya dirawat di rumah sakit. Saya pun sendirian menunggu. Otomatis aktivitas menulis saya terhenti sejenak. Termasuk saya libur dulu ikut Blogwalking atau BW. Tak apa, setelah ibu saya sehat Kembali, Insya Allah semua aktivitas menulis bis saya kejar. Termasuk job lagi. Semangat… semangat..

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ketika Ibu Dirawat diRumah Sakit"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.