Setiap Cerita Punya Cerita

Semua cerita yang saya tulis, mempunyai cerita. Baik cerita anak, remaja atau cerita dewasa. Termasuk cerita anak berjudul "Rahasia Diriku".




Jadi ceritanya begini. Awal Januari, saya membaca pengumuman di Majalah Bobo. Ada Lomba menulis cerpen misteri 2007. Saya pun sangat antusias ingin ikut lomba tersebut. Saya pun sekilas membaca persyaratannya.

Tahun 2007 itu, saya belum punya komputer. Tapi saya pede saja ikut lomba. Masih ada mesin tik ini. Jadi, agar tidak salah tik dan hasil ketiknya bersih, saya menulis cerita di buku tulis dulu. Prosesnya tetap sama. Ada ide saya tulis. mentok disimpan dulu. Ada ide lagi tulis lagi.

Dua minggu menjelang penutupan Lomba, Jakarta diguyur hujan. Hampir setiap hari hujan turun. Tentu saja Jakarta banjir. Apalagi dapat kiriman air dari Bogor hehehe...

Walau daerah rumah saya tidak banjir, tapi tetap kena dampaknya. Mati listrik dan air PAM tidak mengalir. Bisa dibayangkan, hidup sulit tanpa listrik dan air. Maka saya pun bergelirya ke sana ke mari minta air kepada tetangga yang masih memakai sumur atau pompa tangan. Untuk mengakali biar tidak cuci piring, saya dan keluarga memakai kertas nasi. Benar-benar perjuangan.

Lalu bagaimana naskah lomba itu?
Tetap kepikiran, dong. Apalagi DL sudah dekat. Ditambah lagi saya belum menemukan ending yang menarik.
Saya ingat sekali, malam itu sehabis makan malam, saya tidur-tiduran. Apalagi listrik masih tetap mati. Saya terus memikirkan ending yang menarik, karena secara garis besarnya, alur cerita ini sudah biasa ditulis oleh penulis lain.
Tiba-tiba... cling. Ketemu ending yang menarik dan saya yakin akan jadi kekuatan cerita saya..
Besoknya, saya langsung tik. Tak..tik..tak..tik... Sejam kemudian kelar. Siap dikirim naskahnya.
Tapi... olala, kemarin saya lupa membeli majalah Bobo. Padahal harus menyertakan kupon lomba. Pusing, dong! Apalagi edisi majalah Bobo yang memuat kupon itu sudah lewat.

Tapi saya tidak mau menyerah. sudah separuh jalan ini. Hari itu juga, saya pergi mencari majalah Bobo. Saya datangi setiap lapak-lapak majalah. Dan hasilnya... majalah sudah habis. Gubrak.
Perjuangan kembali di lanjutkan. Tujuan saya adalah ke pasar senen. Doa pun saya rapalkan. semoga majalah Bobo yang memuat kupon lomba itu masih tersedia.
Menjelang siang, akhirnya saya tiba di sekitar terminal Pasar Senen. Tengok sana, tengok sini Nanya sana, nanya sini. Malah selalu teringat kejadian lucu. Saya cari majalah Bobo, malah ditawari majalah Playboy hahahaha.

Setelah bergerilya, akhirnya ketemu juga majalah Bobo yang saya cari. Saya ingat, majalah Bobo itu edisi 42. Gambarnya Bobo dan Coreng membuat puisi di komputer. Rasanya pengin koprol dan kayang, saking kesenangan. Tapi saya tahan, apa kata dunia.. hehehe.
Tanpa membuang waktu, saya segera menuju majalah Bobo. Di tempat parkir, saya keluarkan dulu peralatan tempur saya. Gunting, lem dan hekter, jadi senjata utama saya. Walau bepeluh keringat dan tanpa parfum Axe, saya dengan pedenya masuk ke kantor redaksi Bobo di jalan Panjang itu.

Seorang Mbak Repsesonis menyambut saya. Setelah mengatakan maksud kedatangan saya, Mbak manis itu memberikan saya kartu tamu. saya pun naik ke redaksi Bobo di lantai 4.
Di bagian depan redaksi, seorang Mbak (manis juga) menanti saya. Saya tahu itu Mbak Tasya, walau belum pernah berkenalan. Saya pun menitipkan naskah lomba ke Mbak Tasya. Dengan senang hati, Mbak Tasya menerimanya. Terima kasih, Mbak Tasya...

Lega rasanya karena naskah sudah masuk Bobo. Saya memutuskan mengantar langsung ke Bobo, karena selain waktunya sudah mepet, dijamin pasti sampai. malamnya, walau listrik dan air masih mati, saya bisa tidur dengan lelap.

Sekitar pertengahan bulan April, saya mendapat telpon dari Bobo yang mengkonfirmasi nomor rekening bank saya. Katanya saya masuk 10 pemenang harapan/ 10 naskah pilihan lomba menulis cerpen misteri Bobo. Wah.. senangnya. Perjuangan panjang saya tidak sia-sia.
Hal ini membuktikan, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Di tengah kesulitan, pasti ada kesempatan. Jadi.. terus berjuang dan berusaha.

Eh, teman-teman penasaran dengan cerita "Rahasia Diriku"?
Simak ceritanya di postingan berikutnya, ya.
Salam semangat menulis ^_^








Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Setiap Cerita Punya Cerita"

  1. 500ribu pada saat itu? Buseet. Lapang banget kamu mas hehehhe

    ReplyDelete
  2. keren! ^^

    izin belajar dari dirimu ya, mas'e :))

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Terima kasih. Salam semangat menulis.