} Risiko Seorang Penulis - Bambang Irwanto Ripto

Risiko Seorang Penulis

 


Tanpa terasa tahun 2026 adalah tahun ke 12 saya ngeblog. Semua bermula, saat saya iseng ikut kelas menulis novel bersama Kang Benny Ramdany. Waktu itu, setelah materi selesai, kami yang sekelas isinya 5 orang, ditugaskan menulis bab per bab novel. Bab itu harus diposting di blog.

Wah, tentu sayaa bingung. Apa itu blog? Selama ini saya hanya menulis cerita anak. Selbihnya saya main facebook hehehe. Padahal teman-teman penulis lainya sudah lama ngeblog. Saya ke mana aja ya? Hehehe. 

Karena tugas, maka mau ga mau, saya harus membuat blog. Saya sampai beli buku tentang cara membuat blog, walau akhirnya blog ini dibantu buat oleh adik saya. 

Tugas pun bisa diposting. Novel mandek dan ga selesai, tapi untunglah blog ini masih bisa jalan terus. Walau sempat lama terbengkalai dan saya balik fokus nulis cerita anak sambil buka kelas Kurcaci Pos. 

Tahun 2026 ini juga saya memasuki 22 tahun menyebut diri saya penulis cerita anak. Itu dimulai sejak dongeng pertama saya dimuat pertama kali tahun 2004 di Kumpulan dongeng Bobo.

Menulis Adalah Pilihan

Kalau ditanya, ya mneulis Adalah pilihan hidup saya. Menulis cocok dengan diri saya. Membuat saya nyaman melakukan, dan Bahagia menikmati hasilnya. 

Walau sudah banyak yan bertanya, apa bisa hidup dari menulis? Walau hasilnya memang tak menentu, tapi Alhamdulillah... Buktinya, saya masih bertahan sampai saat ini. Ada saja rezeki dari menulis. Kapan dibutuhkan, akan datang dari jalan yang sama sekali tak saya duga. 

Walau begitu, bukan berarti saya tak pernah melakoni pekerjaan lain. Sebagai hanya lulusan STM jurusan elektronika, pastinya persaingan  kerja berat dan kesempatan juga tak luas. Kerja di pabrik di Kawasan pulo Gadung pernah. Kerja antar galon sudah, Bahkan kerja di toko buku di sebuah mall di Bekasi pernah, dan sebagai penutupnya kerja di sebuah percetakan.

Coba-coba usaha juga pernah. Salah satunya jualan orek tempe dan sambal goreng kentang ati. Kacang disko juga yang saya bikin sendiri. Bahkan pernah juga jualan abon ayam dan kentang Mustofa punya tetangga. Hasilnya lumayan, dan teman-teman blogger banyak yang membeli.

Tapi saya Kembali lagi menulis. Faktor usia tak bisa bohong. Jual makanan itu jujur capek. Apalagi saya juga yang antar pesanan, karena sambal goreng kentang ati tak tahan lama.

Menulis pun Ada Resikonya

Segala sesuatu yang kita lakukan, pasti ada risikonya. Begitu juga dengan menulis. Dan pastinya banyak juga risiko sebagai penulis. Tapi semua itu adalah konsekuensi yang harus daya Terima dan jalani.

Finansial tak menentu

Sejak memutuskan jadi penulis, ini hal utama yang saya pahami. Sebagai pekerja freelance, pastinya penghasilan tak menentu. Kadang banyak, kadang sedikit, malah kadang zonk. 

Tapi semua tergantung pada diri sendiri. Bagaimana saat pemasukan banyak, wajib sekali langsung disisihkan. Yang paling penting sadar diri. Mendahulukan kebutuhan, dibandingkan keinginan. 

Tekanan Mental

Kalau masalah mental, saya rasa setiap pekejo juga ada tekanannya. Termasuk menulis. Tapi bagaimana cara kita aja. Semua dibawa enjoy. Saat naskah ditolak, anggap saja belum rezeki. Ditolak di penerbit A, kirim ka penerbit B. Yang penting terus semangat menulis.

Sering diremehkan

Kalau hal ini, saya memang. Soalnya pekerjaan menulis memang belum familiar di masyarakat. Saat ada orang bertanya apa. pekerjaan saya, dan saya menjawab penulis, kening mereka langsung  berkerut. 

Pengalaman nyata saat dulu pergi ke bank. Awalnya disambut ramah. Namun saat ditanya apa. Pekerjaannya? Langsung sikap tellernya berubah sedikit tak acuh. Psdahal ada. Juga penulis yang kaya raya. Dan tidak selamanya orang berpenampilan baik yang datang ke bank. Adalah orang kaya dan baik. 

Gangguan kesehatann fisik

Menulis itu memang banyak duduk. Iya kali ada orang ngetik berdiri hehehe. Makanya rentan sakit punggung. 

Makanya saya menyiasati dengan tidak terus menerus duduk menulis. Saya jeda juga peregangan, sambil minum air putih juga

Gaya hidup kurang Gerak

Kalau ini sih  bisa siasati. Makanya tiap. Pekan, saya sengaja jalan kaki. Dan ini saat membantu. Bukan saja badan saya segar, tapi pikiran dan mata saya juga enak. 

Gangguan mata

 Risiko terbesar sebagai penulis saya rasa adalah gangguan mata. Apalagi setiap hari terpapar sinar laptop dan hape. 

Makanya, saya sangat menjag kesehatan mata saya. Tapi walau begitu, saya tetap pakai kacamata karena faktor usia. 

Makanya yang bisa saya lakukan adalah mencegah mata jangan sampai kering. 

Dari risiko-risiko di atas, sesuai pengalaman semua berat. Tapi Insya Allah semua bisa diatasi. mIslanya soal finansial, saya percaya selalu ada rezeki asal semangat menulis. Allah SWT sudah mengatur segalanya. Saat media mulai turun dan kelas menulis saya sudah sepi, Alhamdulillah dari dunia blogger datang rezeki.

Begitu juga soal fisik, yang penting bisamengatur jam menulis, asal pikira tenang, hati senang, dibawa tidur sebentar juga langsung segar bugar lagi. Yang penting semangat. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Risiko Seorang Penulis"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.