Selalu Ada Sebuah Proses

                                 

Kemarin saya membuat kripik pisang lagi. Kalau di sini namanya sriping.Kebetulan di belakang dan samping rumah saya ada pohon pisang kepok. Daripada Cuma digoreng, mending bikin sriping. Selain tahan lama, bisa juga buat cemilan hehehe.

     Keluarga suka sriping buatan saya. Orang yang pernah coba juga suka. Tapi ini kata mereka ya, saya bukan memuji diri sendiri. Tapi pas saya makan, memang lumayan sih, tidak kalah dibandingkan sriping yang dijual.

      Selain rasanya pas, sriping saya juga ada nilai tambahannnya. Pertama, sesuai dengan selera saya. Kedua kebersihan terjamin, dan saya menggunakan minyak yang bagus. Pokoknya pas lah hahaha...

     Tapi untuk sampai bisa membuat sriping yang pas sesuai saya, butuh juga waktu yang panjang. Saya tidak langsung sekali bisa membuat. Butuh berkali-kali.

    Awalnya, saat saya mengupas pisang itu, susah sekali. Karena pisang yang belum kuning, itu getahnya masih banyak. Tangan dan pisau saya penuh dengan getah, dan bisa berhari-hari baru hilang.

     Setelah dicuci, pisang itu saya potong-potong kecil pakai pisau. Selain capek, juga lama. Saya membutuhkan waktu beberapa jam untuk memotong semua pisang yang ada. Pisang juga jadi berubah warna agak kecokelatan. Akhirnya pas digoreng, jadi kurang renyah.

     Lanjut soal bumbu. Dulu, saya pakai ulekan bumbu bawang putih, garam, juga kemiri biar maksudnya renyah. Tidak lupa saya tambahkan gula sedikit dan penyedap rasa ayam. Biar tambah mantap. Setelah itu, potongan pisang dimasukkan ke dalam bumbu.

     Tapi pas digoreng, itu bumbu lengket semua di wajan. Mungkin karena bumbu mengandung kemiri dan gula. Akhirnya minyak jadi hitam. Pisangnya juga digoreng lama, karena pisangnya tadi sudah terendam bumbu.

     Nah, setelah melalu proses dan juga bertanya sana-sini, akhirnya saya tahu cara membuat sriping yang benar, cepat, dan enak rasanya.

     Jadi saat mengupas pisang, jangan lupa tangan dan pisau dilumuri minyak kelapa. Bisa juga pakai ampas kelapa, kalaua ada. Dan benar, tangan dan pisau tidak terlalu lengket dan banyak getah. Kalau masih ada getah sedikit, wajar lah. Tapi tangan dan pisau akan mudah dibersihkan. Mengupas pisang juga jadi cepat.

    Lanjut soal bumbu. Ternyata bunbu sriping itu sederhana, alias tidak usah neka-neko. Bumbunya cukup bawang putih, garam, dan sedikit penyedap rasa. Beres... tinggal dikasih air sesuai takaran.

    Nah, soal memotong sriping, ini dia tekniknya. Jadi saya menggunakan alat untuk memotong (bahasa sini meret) pisang. Terus, saya memeretnya langsung di atas minyak mendidih. Jadi pisang itu langsung masuk ke minyak, dan akan renyah.

    Lalu soal bumbunya, ternyata tidak dicampur langsung pisangnya sebelum digoreng. Tapi setelah pisang masuk ke wajan, baru dilumuri di atasnya. Lalu aduk-aduk sampai rata. Begitu juga soal penggorengannya. Tidak perlu diaduk-aduk terus. Cukup sesekali saja. 

     Saat pisang sudah terasa ringan, bisa diangkat. Bumbu tidak ada yang melengket, minyak tetap bersih dan hemat. Bahkan minyak masih bisa digunakan untuk mengoreng bahan makanan yang lainnya. Dan Taraaaa.... sriping buatan saya sudah siap dinikmati. Yang ingin tahu resepnya, ditunggu, ya...



     Proses sriping ini, hampir sama dengan proses menulis saya. Bila teman-teman melihat saya sampai tahap ini, bukan saya capai dalam waktu sebentar. Saya mengalami proses menulis yang panjang. Apalagi saya belajar menulis secara otodidak.

     Lelah?

     Tidak boleh lelah. Karena setiap proses ada pembelajarannya juga. Jadi nikmati semua proses dangan senang hati. Kelak kita akan tersenyum bahagia menikmati proses yang panjang itu. Jadi tetap kobarkan semangat membara dalam dada.
Salam membuat sriping.. eh, salam semangat menulis.


Bambang Irwanto

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Selalu Ada Sebuah Proses"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Terima kasih. Salam semangat menulis.