Menulis itu adalah sebuah proses. Jadi nikmati semua proses menulis dengan senang hati. Jangan langsung ingin sampai ke anak tangga teratas. Bila semua proses menulis sudah bisa dilalui, maka menulis itu akan lebih mudah, cepat, dan menyenangkan. menulis akan membawa kebahagian untuk kita. Jadi... terus semangat Menulis. (Bambang Irwanto - Si Kurcaci Pos)

Pupi dan Tummi

       
                                                 

                                    Pupi dan Tummi
                                                                Oleh Bambang Irwanto


            Pupi si tupai mentawai sedang malas. Cuaca di kepulauan Mentawai Sumatera Barat, tempat tinggal Pupi sedang panas. Makanya, hari ini, Pupi ingin bersantai dan tiduran saja di rumah. Apalagi persediaan kenari Pupi masih ada.
          Toktoktok... tiba-tiba terdengar pintu Pupi diketuk. Dengan malas, tupai berjenis genus tupaia itu membuka pintu. Ternyata Tummi tupai yang datang.
          "Hai, Pupi. Aku kebetulan lewat sini! Makanya aku mampir," sapa Tummi ceria
          "Oh, begitu." Pupi menanggapi sapa Tummi biasa saja. Dengan enggan Pupi mempersilakan Tummi masuk. Uh.. Tummi mengganggu saja.  Kenapa sih, Tummi datang? Padahal aku kan ingin bersantai, gerutu Pupi dalam hati.
          Begitulah, dengan enggan, Pupi meladeni Tummi. Saat Tummi bercerita, Pupi hanya menanggapi seadanya. Pupi juga tidak  menyuguhkan Tummi kenari. Bahkan saat Tummi minta air minum, Pupi bilang sedang habis. Setengah jam kemudian, Tummi pamit pulang.
          “Aah.. senangnya! Akhirnya Tummi pulang!” sorak Pupi. Ia kini bisa bersantai
           Esoknya, hujan turun deras. Pupi bergegas ke tempat penyimpanan kenarinya.
         "Ya, ampun kenariku ternyata habis. Aduh bagaimana ini?"
          Pupi bingung sendiri. tidak mungkin mencari kenari, biji-bijan atau buah di tengah hujan deras. Tiba-tiba Pupi teringat Tummi.
          “Ah, aku malu, kemarin kan, Tummi ke sini. Aku tidak melayani dengan baik,” gumam Tupi.
         Pupi tidak jadi ke rumah Tummi. Ia akan menunggu saja. Pupi berharap, siang hari hujan akan reda
          Ternyata, sampai siang, hujan masih saja turun. Pupi semakin kelaparan.
         “Aduh, perutku sakit!” rintih Pupi.
        Akhirnya Pupi ke rumah Tummi. Dengan pelan, ia mengetuk pintu rumah Tummi. Beberapa saat kemudian pintu terbuka.
       "Hai, Pupi? Kenapa kamu hujan-hujanan?"
         Pupi tertunduk, lalu menceritakan maksud kedatangannya. Tummi mengangguk mengerti, lalu mengajak Pupi masuk. Tummi lalu memberikan Pupi kenari. Pupi pun makan dengan lahap.
         Tummi melayani Pupi dengan ramah dan baik. Saat pulang, Tummi memberikan kenari pada Pupi.
        "Maafkan aku ya, Tummi!. Kemarin aku tak acuh saat kamu ke rumahku.
        “Tidak apa-apa Pupi. Lain kali, kamu harus menghargai tamu, ya!” pesan Tummi.
        Pupi mengangguk.





Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Pupi dan Tummi"

  1. Selamat, ya, Mas. Idenya bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maturnuwun, Mbak Eni.
      Ayo, nulis juga ke NUbi, Mbak.

      Delete
  2. Wah, kok cepat sekali ya ceritanya selesai dibaca. Hehe. Memang, kalau penulisnya Mas Bambang, cerita jadi luwes, ringan dan tidak menggurui

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mas Ganda.
      Yang penting, saat mulai menulis, kita sudah sesuaikan akan menulis apa, Mas. Jadi porsinya sesuai.

      Ayo, terus semangat menulis, Mas Ganda.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Terima kasih. Salam semangat menulis.