Tips Menulis Ulang Sebuah Cerita




Menulis ulang sebuah cerita atau menceritakan kembali sebuah cerita, salah satu bagian dari dunia menulis. Termasuk cerita anak. Dan ini sah-sah saja dilakukan, asalkan sesuai aturannya.

Teman-teman pasti pernah membaca cerita yang ditulis ulang atau diceritakan kembali. Untuk cerita anak, biasanya ini cerita-cerita yang ditulis oleh penulis luar dan sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, kemudian ditulis kembali. Lainnya adalah cerita rakyat atau legenda Indonesia. Jadi cerita yang memamg sudah jadi domain publik. Termasuk kisah para Nabi dan Rasul, Sahabat Rasul, dan lainnya.

Makanya cerita yang belum domain publik, belum bisa ditulis ulang secara bebas. Kenapa? Masih ada hak cipta penulisnya. Harus ada izin resmi dari penulisnya langsung. Jadi kalau teman-teman nekat, bisa dituntut penulis aslinya hehehe.

Nah, berikut Ini saya susun tips singkat menulis ulang sebuah cerita berdasarkan pengamatan dan pengalaman menulis saya. Jadi maaf, kalau masih ada kekurangan.

Bukan Copas
Saat menulis kembali sebuah cerita, bukan artinya kita ‘menulis kembali cerita’ dari A sampai Z, dari awal sampai akhir cerita. Sampai titik komanya juga sama. Kalau seperti itu, sama dengan menyalin, bukan menceritaan kembali. Tapi ini bukan plagiat. Karena itu tadi, cerita yang ditulis ulang sudah domain publik atau milik umum.

Jadi, saat menulis kembali sebuah cerita, baca ceritanya dari awal sampai akhir. Lalu pahami isi ceritanya. Jadi bacanya pelan-pelan saja, biar mudah diresapi ceritanya. Bila masih kurang jelas, baca kembali.

Setelah itu, tutup cerita, lalu menulis dengan gaya bercerita sendiri. Jangan terpaku pada kalimat-kalimat dari cerita yang sudah dibaca. Yang penting, pokok isinya sama.

Menggunakan Sudut Pandang Lain
Menceritakan kembali sebuah cerita, tidak harus berpatokan dari satu sudut pandang saja. Misalnya saat ingin menceritakan kembali kisah Cinderella. Kalau selama ini kan, kamera ceritanya dari Cinderella. Maka bisa dari si tikus, Ibu Peri, bahkan labu yang jadi kereta.

Misalnya lagi ada kisah saudagar kaya yang pagi itu tiba-tiba didatangi oleh pengemis minta sedekah. Nah, kebetulan saat itu, anak saudagar kaya juga ada di situ. Maka bisa diceritakan dari sudut saudagar, pengemis, atau anak saudagar itu.

Sebenarnya, dari sini, kita bisa kembangkan jadi ide cerita, lho. Saya menyebutnya Twist Ide. Jadi dari membaca cerita lain, kita bisa mendapatkan ide baru untuk cerita kita. Bukan hanya dari cerita orang lain, tapi juga dari cerita sendiri.

 Misalnya, dari cerita Cinderella, saya menulis Cecilia yang kisah hidupnya hampir mirip dengan Cinderella, tapi saya utak-atik alurnya. Bisa baca cerita bisa dibaca di sini, ya!

Hampir sama dengan ide buku “I Was a Rat” karya Philip Pullman. saya rasa itu idenya dari Cinderella. Hanya sudut pandangnya diubah dari si tikus, dan tikus inilah yang jadi tokoh utama dan memang itu kisahnya salam buku ini.


Pengembang Cerita
Menulis ulang sebuah cerita biasanya dengan jatah kata atau halaman yang disediakan. Misalnya 1 cerita yang ditulis ulang ada yang jadi 100 kata, ada yang 700 kata. Jadi di sini kita perlu mengembangkan sedikit ceritanya.

Memangnya bisa? Bisa kok dikembangkan. Kalau saya, pengembangan itu bisa dari narasi dan dialog. Deskrisi tentu saja ikut menunjang. Tapi tetap patokannya, tidak mengubah inti cerita, termasuk mengubah alur.

Misalnya, diceritakan tokohnya sedang bersedih dan duduk di tepi pantai. Kalau untuk jatah 100 kata, mungkin bisa ditulis :
Tampak Putri Gayatri sedang menangis di tepi pantai. Ia sedih karena ayahnya belum pulang dari berlayar.

 Nah, kalau jatahnya 700 kata, pasti bisa lebih dikembangkan. Misalnya :
Putri Gayatri menghapus air mata yang menetes di pipinya. Kedua matanya menutup lurus ke arah pantai. Namun tidak satu pun kapal yang tampak merapat. Ia sedih, karena sudah dua hari ayahnya belum pulang dari berlayar.
“Kenapa Ayah belum pulang?” gumam Putri Gayatri sendiri.



Bukan Sebagai Penulis Cerita
Bila menulis kembali sebuah cerita, otomatis cerita itu bukan milik kita. Walau sudah ditulis dengan gaya bercerita sendiri, sudut pandang bercerita diubah, tetap milik penulis aslinya, dan mencantumkan penulis aslinya. Kalau legenda atau cerita rakyat, tetap mencantumkan sumbernya.

Misalnya, teman-teman menulis kembali cerita Gadis korek Api karya Hans Christian Andersen. Tetap tidak boleh ditulis : Oleh : Bambang Irwanto atau penulis : Bambang Irwanto. Tapi ditulis : Diceritakan kembali oleh Bambang Irwanto atau Ditulis Ulang Oleh Bambang Irwanto.

Soalnya, saya pernah membaca di lembaran koran anak. Jelas-jelas itu cerita rakyat yang ditulis ulang, tapi seakan-akan tulisan asli penulisnya, karena ditulis seperti di atas.

Demikian tips dari saya. Semoga bermanfaat dan membuat teman-teman semakin semangat menulis. Salam semangat menulis.

Bambang Irwanto

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Tips Menulis Ulang Sebuah Cerita"

  1. Makasih tipsnya, jadi dapet ilmu baru neh

    ReplyDelete
  2. Aku paling sering menulis ulang terutama cerita rakyat.
    Thanks ilmunya mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Astrid, karena memang cerita rakyat itu termasuk cerita yang ditulis ulang, termasuk dongeng dunia.
      Sama-sama, Mbak Astrid.

      Terus semangat menulis, Mbak Astrid.

      Delete
  3. Cuma mau berterimakasih aja. Lagi belajar dan coba-coba nulis. Dapet penjelasan seperti ini. Informatif sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Ayo, terus semangat menulis.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.