} Lomba Nulis Kok Bayar? - Bambang Irwanto Ripto

Lomba Nulis Kok Bayar?

Lomba nulis kok bayar? Padahal salah satu motivasi saya ikut lomba menulis, karena ingin menang dan dapat hadiah uangnya. Makanya saya semangat untuk menulis naskah yang bagus biar menang.

Desain Canva

Saya jadi teringat beberapa teman yang pernah bertanya soal ini pada saya via inbox atau WA. Mas Baim (walau tidak pakai embel-embel penulis tampan rupawab lucu imut menggemaskan dan terus bersemangat sepanjang masa hahaha), saya mau tanya. Saya kan mau ikut lomba nulis, tapi berbayar. Bagaimana tanggapan Mas Baim?

Saya biasanya langsung menjawab, kalau saya, saya tidak ikutan lomba menulisnya. Sebabnya, saya memang tidak tertarik. Baru daftar kok sudah keluar uang. Karena salah satu tujuan saya ikut lomba menulis, untuk mendapatkan uang. Tujuannya saya ingin memberi reward kepada diri saya sendiri karena sudah berusaha menulis   naskah bagus.

Nah, biar lebih jelasnya, mari kita ulas soal lomba menulis berbayar ini, ya. Seperti biasa, tulisan ini saya susun berdasarkan pengalaman saya selama di dunia menulis. Jadi kalau ada perbedaan, tidak apa. Anggaplah warna-warni dalam dunia menulis.

Lomba Nulis Kok Bayar? 

Tujuan Lomba Menulis

Saat melihat sebuah lomba menulis, lalu melihat ada syarat misalnya, setiap peserta wajib membayar uang pendaftaran  sebesar 25 ribu, maka saya langsung skip lomba itu. Karena bagi saya, saya ikut lomba menulis bukan untuk mengeluarkan uang, tapi mendapatkan uang. Kalaupun hadiahnya bukan berupa uang, pastinya sesuatu yang saya inginkan. Misalnya naskah saya diterbitkan di penerbit yang mengadakan lomba menulis itu. Dan memang,  semua lomba menulis yang diadakan secara profesional, tidak pernah memungut biaya  pendaftaran sepeser pun alias gratis.

Kok Ada Biaya Pendaftaran? 

Lomba menulis berbayar, biasanya uang pendaftaran peserta  untuk hadiah lombanya. Dan menurut saya, bisa  untuk mencari keuntungan, ini menurut saya, ya. Jadi misalnya disediakan hadiah pemenang 1 - 500 ribu, pemenang 2 -  300 ribu, pemenang 3 - 200 ribu. Kalau misalnya yang daftar 100 orang dan harus bayar 15 ribu saja, kan  sudah  1,5 juta. Logikanya, orang ikutan dengan bayar 15 ribu, lalu menang, kan lumayan sekali.

Tapi... kalau ditotal semua, hadiah pemenang pemenang 1, 2, dan 3 kan hanya 1 juta. Nah, 500 ribunya bisa jadi keuntungan yang mengadakan lomba menulis. Jadi kalau biaya pendaftaran semakin besar, dan jumlah yang ikut sangat banyak, maka silakan teman-teman hitung sendiri.

Sekali lagi, perlu teman-teman ketahui, Lomba menulis yang digarap secara profesional, baik oleh sebuah penerbit, media, atau komunitas dan lainnya, sejak awal menyediakan hadiah untuk pemenang. Motivasinya seperti yang saya tuliskan dia atas, agar peserta yang ikutan bersemangat dan maksimal menulis cerita yang bagus, agar kesempatan menang semakin besar.


Hadiah Menerbitkan Buku

Tujuan lain dari lomba menulis berbayar biasanya itu menerbitkan sebuah buku. Jadi katanya naskah-naskah yang menang, atau yang masuk rekomendasi akan dibukukan. Pastinya, senang ya, tulisan akan dibukukan.

Tapi jangan senang dulu. Biasanya buku itu berbentuk antologi atau buku bersama, dan dicetak secara indie. Bahkan pernah teman cerita kalau bukunya ala kadarnya dan sangat tipis. Kemudian para peserta diminta untuk membeli buku itu sendiri.

Baca juga : Hal-Hal Seputar Menulis Buku Antologi

Mari kembali kita berhitung. Misalnya yang ikut 100 orang, dan tiap orang membayar 15 ribu, maka total ada 1,5 juta. Kemudian yang naskahnya lolos masuk antologi buku 25 orang. Jadi yang tidak lolos 75 orang.

Nah, karena bukunya dicetak secara indie atau sendiri, maka prosesnya kadang bisa ditentukan sendiri. Misalnya tanpa campur tangan editor. Jadi kadang ada ejaan kurang pas, atau masih ada kesalahan ngetik. Bahkan setahu saya, buku indie bisa dicetak bila sudah ada pemesan.

Kalau pandangan saya, kalau mau buat buku antologi boleh saja dengan biaya sendiri. Misalnya audisi naskah yang lolos. Setelah terpilih baru dibicarakan soal biaya cetak buku. Atau sejak awal saja kumpulin teman-teman yang mau ikutan. Setor naskah lalu rembuk biaya buku antologi. Jadi tidak ada yang dirugikan.

Sasaran Lomba Menulis Berbayar

Orang-orang yang mengadakan lomba menulis berbayar ini, pastinya sejaka awal mempunyai sasaran yang akan ikut lomba yang mereka adakan. Pastinya, mereka sudah mengetahui, apa saja yang membuat orang tertarik untuk ikutan.  Nah, siapa saja yang menjadi sasaran mereka?

Penulis Pemula

Pertama sasaran lomba menulis berbayar adalah teman-teman yang baru mulai terjun di dunia menulis. Mereka ini biasanya belum paham soal lomba-lomba menulis. Termasuk, sebenarnya lomba menulis itu yang bagus tidak berbayar.

Apalagi dengan embel-embel hadiah yang cukup mengiurkan bagi mereka. Seperti yang saya tuliskan di atas, modal 15 ribu, berkesempatan menang dan dapat hadiah 200 ribu, 300 ribu, bahkan 500 ribu. Apalagi diajak juga ikut dalam buku antologi

Penulis yang Ingin Segera Punya Buku

Sasaran kedua, adalah teman-teman penulis yang ingin buru-buru punya karya, termasuk dalam bentuk buku. Apalagi ada yang bilang, belum afdol jadi penulis, kalau belum punya buku, walau hanya dalam bentuk antologi atau menulis bersama.

Ungkapan itu, bisa benar juga. Ingin punya buku sendiri, bisa sangat memotivasi diri untuk terus semangat menulos. Tapi... jangan buru-buru. Nikmati proses menulis sampai menerbitkan buku itu sangat panjang. Jadi nikmati saja proses menulis. Jangan memaksakan ingin mempunyai karya, padahal hasil tulisan belum sesuai.

Ruginya Ikut Menulis Berbayar

Menurut saya, ada hal-hal yangmerugikan saat ikut menulis berbayar. Dan ini harus teman-teman perhatikan juga. Karena kalau bablas, bisa menghambat proses menulis, teman-teman juga.

Kemampuan Menulis Jadi Tumpul

Pertama, bisa menumpulkan kemampuan menulis. Karena pengamatan saya, lomba menulis berbayar, seleksi tidak seketat lomba naskah berbayar. Benar ya, secara logika. Misalnya saya saya mengadakan lomba cerita anak dan menyediakan hadiah. Pastinya saya mau naskah yang lolos bagus semua.

Berbeda dengan lomba menulis berbayar. Seleksinya tidak ketat. Makanya banyak naskah yang biasa saja, bahkan masih di bawah standar yang lolos. Ini menurut saya merugikan teman yang menulis naskah itu. Sebabnya dia merasa naskah sudah bagus, makanya lolos. Akhirnya dia memasang standar menulisnya seperti itu. Jadi kapan dia ikut lomba menulis yang tidak berbayar dan pasang standar tinggi, maka sejak awal dia sudah tidak lolos.

Nah, bandingkan perbedaannya kalau teman-teman ikutan lomba menulis yang benar, tidak berbayar, dan malah memberi hadiah. Karena mereka pasang standar tinggi, maka teman-teman bisa sekaligus mengukur kemampuan. Kalau belum lolos, kembali pelajari, kenapa naskahnya belum lolos. Bahkan saya, saat gagal di sebuah lomba menulis, otomatis saya pelajari naskah-naskah pemenang lomba. Jadi otomatis saya terus belajar dan meningkatkan kemampuan.

Memberi Harapan Abu-Abu

Hal kedua yang merugikan teman-teman saat ikut lomba menulis berbayar adalah memberi harapan Abu-Abu. Misalnya sejak awal dijanjikan menerbitkan buku bersama, tapi dengan standar yang belum sesuai. Akhirnya bukunya terbit, tapi dibeli sendiri. Dan karena naskahnya belum punya standar tinggi, maka saat dibaca dan dipelajari, tidak akan meningkatkan kemampuan menulis teman-teman.

Jadi kembali ke titik awal lagi. Nikmati proses menulis. Perkuat standar menulis kita dulu, karena akan mudah tulisan diterima di mana-mana. Jangan terlalu berambisi untuk segera mempunyai karya. Kalau standar menulis sudah kuat, maka lolos di media, lolos di penerbit sampai karya dibukukan itu lebih mudah.

Yang Harus Dilakukan Saat Ada Lomba Menulis Berbayar



Saat ada lomba menulis berbayar, sebaiknya teman-teman melakukan hal-hal berikut ini :

Pertama, jangan ikut. Karena kalau ikutan, maka akan terus ada peluang bagi orang-orang untuk terus mengadakan lomba menulis berbayar. Istilah, selagi masih banyak pembeli bakso, ya masih ada orang yang menjual bakso hehehe.

kedua Cari peluang lain lomba menulis yang lain. Sangat banyak sekali lomba menulis dari penerbit, media atau komunitas menulis bonafid. Apalagi zaman now lomba menulis banyak berseliweran di media sosial juga.

Ketiga, lebih semangat menjalankan proses menulis. Yakinlah, semua akan indah pada waktunya. Ikut lomba-lomba menulis yang benar dan tidak berbayar, justru akan semakin mengasah kemampuan menulis.

Nah, itu dia ulasan seputar lomba menulis kok bayar? Sekali lagi ya, tulisan ini saya susun berdasarkan pengalaman menulis saya. Tujuannya hanya berbagi pengalaman saya saja. Dan pastinya ingin membuat teman-teman semakin termotivasi terus semangat menulis.

Salam semangat menulis

Bambang Irwanto

Subscribe to receive free email updates:

56 Responses to "Lomba Nulis Kok Bayar?"

  1. Semua yang dituliskan diatas adalah BENAR! Meski bagi yang tetap mau mencoba mengikuti lomba menulis tak ada salahnya sebagai pengalaman tapi jangan banyak2 bisa pusing saat ditagih beli bukunya. Ya batasi paling 3 lomba sudah cukup. Lebih baik lagi kalau mau latihan menulis dengan masuk ke grup2 kepenulisan di FB yang memang baik ya (ada grup kepenulisan yang pilih kasih sama anggotanya juga). Kalau tetap mau menerbitkan buku buat sebagus mungkin karya kita, tawarkan pada penerbit mayr. Kalau kuat uangnya ya tawarkan ke penerbit indie.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, Mama Indri. Ini kan gup penulisan di media sosial sudah banyak. Ikut saja buat mempertajam kemampuan menulis. Setelah itu, baru ikut lomba menulis yang tak berbayar untuk mengukur dan mengasah kemampuan menulis juga.

      Delete
  2. Luar biasa nih mas pembahasannya. Dari dulu saya nggak tertarik buat ikut lomba yang berbayar, logikanya aama dengan yang mas Bambang jelaskan. Apalagi tujuan kita nulis kan buat menang yang artinya dapat uang he..he...

    Terima kasih mas untuk sharingnya... Foto2nya makin rupawan nih he..he...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Mas Erfano. Karena hadiahnya kan yang membuat kita semakin semangat menulis bagus ya, Mas. Jadi walau belum menang, kita sudah berusaha menulis naskah yang bagus.

      Delete
  3. Saya setuju dengan pendapat Mas Bambang ...

    Saya juga tidak ikut kalau mengatakan lomba menulis tapi berbayar. ANeh saja. KAlau memang mau patungan menerbitkan buku ya terus-terang saja sejak awal. Kalau berbayar sih kelihatan kalau penyelenggaranya juga sedang mencari uang.

    Sekarang banyak yang mau menerbitkan buku antologi, pikirannya karena pengen punya karya. Padahal dengan memaksakan menerbitkan buku secara indie tanpa seleksi, tanpa kesempatan mengasah kualitas tulisan ya, rasanya gimana ya ... akan sulit mempromosikannya. Jangan hanya keluar uang untuk sebuah karya tapi kualitas dipertanyakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, Mbak Niar. Jangan memaksakan diri menerbitkan buku, dengan kapasitas menulis belum memadai. Akhirnya hasil bukunya biasa-biasa saja, dan kemampuan menulisnya tidak terasah.
      Jadi nikmati saja proses menulis yang panjang dan biarkan semuanya indah pada waktunya.

      Delete
  4. Setuju Mas Bambang,, ada aja cara orang memanfaatkan kesempatan ya. Saya pribadi pernah melihat di linimasa medsos iklannya. Kesannya event lomba terbesar abad ini gitu haha... Gak taunya menjaring uang registrasi sebanyak²nya ya Mas. So, mestinya menikmati dulu proses menulisnya kan ya, step by step jangan mau karbitan. Tp jgn kaya saya juga Mas, kelamaan enjoynya, rencana nerbitin buku sejak 2011, eh realisasi 2020, tp 2 judul sih. Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Mia, dan kasihan teman-teman yang terjebak dalam lomba berbayar ini, Mbak. Akhirnya nanti akan kecewa yang mereka dapatkan.

      Delete
  5. Aku juga termasuk orang yang nggak tertarik ikutan lomba menulis kalau berbayar. Sama sih seperti Mas Baim yang tampan imut rupawan menggemaskan dan cukup sekian karena kepanjangan gelarnya ini, bahwa ikutan lomba menulis itu selain mengasah kemampuan menulis, juga mau dapat uang, bukan keluar modal uang dulu.

    Tapi, sepakat lah soal pertimbangan njenengan dalam hitung-hitungan itu. Ini malah nggak terpikir sama saya. Maklum biasanya kalau ada tagihan langsung dibayar, nggak dihitung lagi, wkwkwk ... Nggak bener. Jangan ditiru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. padahal itu gelar saya belum masuk semua, Mbak Melina hahaha.

      Iya, Mbak. Modal penulis saat ikut lomba adalah menulis naskah yang bagus agar menang. Jadi bukan belum-belum sudah keluar uang hehehe.

      Delete
  6. Saya pribadi gak banget deh ikut lomba nulis tapi bayar. Kalaupun misal mau beli buku mending konsepnya komunitas begitu. Jadi walaupun kita bayar buat bikin bukunya tapi bisa dapet ilmu juga. Kalau lomba blog ah, mending mundur ddeh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mak Dyah. Itu jauh lebih bagus, Mbak. Dalam komunitas, bikin saja buku sendiri, walau annti biaya sendiri. Jadi malah bisa saling dipelajari naskah-naskahnya dan saling memmberi masukan juga

      Delete
  7. Saya sama seperti Mas Bambang..enggak sreg dengan lomba nulis berbayar. Wong mau dapat hadiahnya kok pakai bayar segala. Dan alasan yang dikemukakan di sini benar adanya. Mending erbaiki kualitas tulisan, terus semangat berlomba (yang gratis pastinya) dan tunggu saat kemenagangan itu datang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar Mbak Dian.
      Kalau kemampuan menulis sudah sesuai standar, maka akan mudah masuk ke mana-mana ya, Mbak Dian. Akhirnya kesempatan menulis pun semakin terbuka lebar.

      Delete
  8. Sek ta.. kenapa kok istilahnya selalu lari ke Bakso ya hahha.. baikkk bapak.. saya ga bakalan ikut kalo berbayarr.. yang gak berbayar aja jarang ikutan hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena saya dan bakso tak bisa terpisahkan, Mbak Husnul hahaha.
      Ayo, semangat ikut lomba menulis yang tak berbayar. Jadi semakin terasah kemampuan menulisnya.

      Delete
  9. Kadang memang demikian. Ada yang ambil kesempatan dalam kesempitan bagi rekan rekan newbie. Rekan new nice harus lebih open dan jangan mudah terjebak. Pastikan tujuan ngeblog untuk apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas. Dan karena yang minat masih ada dan banyak, makanya terus membuka peluang orang-orang membuat lomba menulis berbayar. Jadi harus ada pemutus mata rantainya.

      Delete
  10. Saya juga kurang sepakat dengan lomba menulis yang ditarif begitu, Mas. Saya jadi teringat pengalaman pribadi beberapa waktu lalu. Saya dijapri WA oleh nomor tak dikenal. Katanya puisi saya bisa diterbitkan dengan ikut lomba yang mereka helat. Haha, lah emang bisa banget, kan sekarang banyak penerbitan indie, tinggal cari aja yang cocok, beres! Ngapain pakai ikutan lomba dengan bayaran yang wow. Lucunya, bayarannya ada tingkatan Mas, sampai 500 ribu dengan iming-iming fasilitas berbeda. Haha, saya yang pernah kerja di penerbitan ya ketawa aja. Lomba kok diskriminatif. Selain itu, NU sudah merilis fatwa tentang haramnya lomba yang mensyaratkan biaya jika biaya itu dipakai untuk hadiah. Makin males deh haha. Dasar ora nduwe duit wkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia, Mas Rudi. Ngadain lomba kok japri peserta, mau ikut apa tidak? hehehe. Terus kenapa juga beda bayar sesuai tingkatan. Nah, inilah tujuan saya menulis soal ini, agar tidak ada teman-teman yang dirugikan lagi, Mas.

      Delete
  11. Skip langsung kalau ada lomba tapi harus bayar dulu. Di email saya masih banyak seliweran ajakan lomba menulis puisi yang disuruh bayar dulu. Aduh kok ya ada ya panitia kerjaannya kaya gitu, dan aneh aja kalau sampai ada yang mau ikutan. Hedeh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini masih ada lomba berbayar, karena memang masih ada peminatnya, Mbak. Apalagi karena terobsesi ingin punya akrya yang dibukukan. Dan inilah yang harus disebar ke teman-teman. Menulis itu butuh proses.

      Delete
  12. Benar banget, saya sering curiga duluan kalau ada uang pendaftaran. Kecuali memang eventnya di kampus sendiri, ikhlas ajalah ngasih uang pendaftaran karena saya tahu cari duit buat bikin event kampus itu sulit haha. Lumayanlah tapi balik modal beberapa kali, bahkan sampai dijadiin antologi.

    Lucu juga sih pas dikasih bukunya (alhamdulillah dikasih gratis wkwk) kualitasnya jauh dari harapan dan memang penyuntingannya kurang bagus. Yang udah bagus ya naskahnya menyenangkan dibaca, tapi yang tidak.. skip XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, iya, Mbak Fira. Kalau event sendiri di kampus, kan ketahuan ya, Mbak. Jadi jelas juga dananya buat apa. nah, ini kalau tidak jelas dan disuruh bayar, kasihan juga teman-teman yang ikut.

      Delete
  13. Wah,dari atas sampai bawah setuju semua nih pak. Memang sasarannya empuk sih kalau penulis pemula. Tapi meski saya pemula, sejak terjun ke literasi entah ya pak, rasanya nggak tergerak kalau lomba nulis berbayar dan diterbitkan indie. Hihi

    Mending saya buat antologi langsung ssma teman2. Itu mikirnya kayak pak bambang di atas. Nah, pernah coba2 dan semnmangat banget ya ikut GLN itu. Wkwkkw

    Meski kalah tapi bangga bisa ikutan bersaing sama penulis bergengsi. Huhi

    Intinya mah pintar2 kita aja ya sebagai pemula buat nyaring informasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, sudah pas jalannya itu, Mbak Malica. Penulis pemula atau baru mulai menulis, jangan tergoda atau buru-buru ingin karyanya dibukukan. Nikmati saja prosesnya.
      Terus semangat menulis, Mbak.

      Delete
  14. Sebenarnya sih menurut aku pribadi, lebih suka yang gratis alias nggak bayar sama sekali.
    disitu membuat semangat ikut lomba nulis, soalnya kalau ikut yang berbayar pasti kebanyakan menggerutu deh.
    udah nggak menang lomba nulis ya,,, ehh udah keluarin duit pula.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang harusnya ikut yang tidak berbayar, Mbak Elva. Karena banyak diadakan oleh media atau penerbit yang bonafid. Hadiahnya juga jelas. Jadi semangat menulis bagus agar menang.

      Delete
  15. Aneh jg ya kl ada lomba menulis peserta suruh bayar, bs jadi kayak ulasan mas Bambang itu jdbladang bisnis semata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan lomba seperti ini banyak diadakan, Mas Joko. Jadi kasihan teman-teman yang ikut. seperti dimanfaatkan oleh mereka.

      Delete
  16. Ulasan lomba nulis yang berbayar yang sangat rinci. Saya jadi mengangguk-angguk mengiyakan ketika membaca hitung-hitungannya.
    Etapi, saya jarang ikutan lomba, sadar diri, kalau calon pemenang potensial banyak di luar sana yang ikutan. Apalagi kalau bayar, mending gunakan untuk beli bakso :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan batal ikutan lomba menulis tak berbayar, karena saingan penulis laoin, Mbak. Jadi semangat dna percaya diri. Justru dari lomba ini semakin mengasah kemampuan menulisnya. Ayo, semangat...

      Delete
  17. Dulu saya lumayan rajin ikut lomba menulis, beberapa kali menang juga tapi makin modern, terkadang ada ada beberapa penulis yang tidak hanya satu orang namun satu tim yang punya tugas dan fungsinya masing masing
    Belum lagi ada banyak lomba yang penuh drama. Jadi males juga akhirnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya ikut lomba, enaknya seorang diri saja, Mas Don. jadi kalau menang, hadiahnya tidak eprlu dibagi hahaha.
      Kalau lomba keren, semangat ikutan, Mas. Kecuali yang lomba berbayar, langsung skip hehehe.

      Delete
  18. Kalau aku sama sih Mas kayak poin di atas, ga bakalan ikut wkwkwkwkw. Ya kali masa ngeluarin duit, mana hadiahnya ga banyak lagi. Cuma takutnya sasarannya itu penulis pemula, takut malah uang pendaftaran disalah gunakan ya nggak sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Mei. memang sasarannya kebanyakan penulis pemula. Jadi kasihan juga mereka dimanfaatin. Bukannya mengasah kemampuan menulis mereka, malah keluar duit.

      Delete
  19. Setuju banget sama tulisan ini. Aku udah pernah ikut lomba menulis yang berbayar maupun yang ga berbayar. Tapi rasanya agak berat kalau ikut yang berbayar. Kalau ga terlalu siap dan yakin sama tulisan sendiri, aku milih untuk ga ikut daripada udah bayar tapi ga ada kemungkinan menang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebaiknya tidak ikut lomba menulis yang berbayar, Mbak Mutia. Mending fokus pada lomba menulis tak berbayar. Sayang uangnya bisa buat yang lain. Misalnya buat beli buku saja untuk menambah referensi menulis.

      Delete
  20. Saya pribadai belum pernah ikut lomba berbayar. Dan agak aneh juga, di era digital seperti sekarang, semuanya bisa dilakukan online kok. Mulai dari pendaftaran, pengiriman artikel, dsb. Jadi ya ngga perlu pake uang pendaftaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak Sam. Kalau tujuannya untuk meningkatkan kemampuan menulis atau karena kebutuhan naskah, pasti tidak perlu bayar.
      Kalau sudah bayar, perlu dicermati juga untuk apa uang pendaftarannya itu.

      Delete
  21. Wehehe...aku nggak pernah ikut lomba nulis berbayar. Lah wong aku nulis buat nyari duit kok. Masa kudu bayar. Sebelnya, guru2 di sekolah sering nggak peduli, Mas. Ada lomba berbayar tetap aja anakku disuruh ikut. Prestise kali ya kalo sekolah sering jadi juara. Akhirnya, aku ambil jalan tengah: anakku boleh ikut asalkan pihak sekolah yang bayarin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, iya, Mbak Eno. Kita menulis, ya harus dapat uang untuk menhargai jerih payah kita. Masa harus bayar.
      Dan harus pihak sekolah menyarankan murid ikut lomba nulis yang tak berbayar saja ya, Mbak Eno hehehe

      Delete
  22. Kalau ada lomba yang berbayar biasanya saya langsung skip, tapi dulu pernah keluar biaya buat beli buku hasil lomba. Pengen dapat buku yang ada namaku. Sekarang sih sudah malas lebih seneng jukis di blog saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau beli buku hasil lomba, itu mungkin sebagai pengganti ongkos cetak ya, Mbak. jadi menurut saya masih wajar. jadi jangan sudah bayar uang pendaftaran, masih ahrus beli buku sendiri lagi.

      Delete
  23. Ya memang ada beberapa penyelenggara yang mewajibkan bayar, ada pula yang harus beli buku yg udah pernah terbit di situ dengan mencantumkan struk pembelian bukunya.

    Daku pribadi malas ikutannya, belum tentu menang tapi uang melayang, ya Pak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau lomba menulis buku, tapi harus beli salah satu buku yang diterbitkan atau beli buku karena formulirnya ada di sana, saya rasa tidak apa, Mbak. Kan beli buku dapat buku yang jelas.
      Tapi kalau memang langsung bayar, ya lebih baik jangan ikut. Benar.. uang melayang hehehe.

      Delete
  24. Saya pun tak minat mas, kalo ada lomba nulis bayar. Hal sama juga berlaku kalo ada lomba foto atau kontes foto bayar. Itu gak lain cara orang muter uang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, iya saya setuju, Mbak Mutia.
      Kecuali kalau lomba foto sebuah produk, tapi harus beli produknya karena harus foto dengan produk itu. Selagi harganya terjangkau dan cocok dengan produknya, saya tidak keberatan.
      Tidak menang, kan bisa menikmati produknya hehehe

      Delete
  25. waktu baca di awal masih agak kurang setuju sih dengan statement dikatakan oleh mas admin tentang menulis berbayar, namun setelah baca dan baca lagi sampai ke bawah jadi berpikir "Oh iyayaa, bener juga yang dibilang si mas" wkwkwkwk
    BTW pembahasannya mendalam banget, thanks mas. Ini benar-benar memberikan pencerahan bagi para penulis pemula.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas Rizki. Karena semua yang saya tulis adalah sesuai pengalaman pribadi saya. Saya pun menempatkan diri saya di posisi penulis pemula atau teman-teman yang baru mulai menulis. Dan rasanya seperti itu. Kok baru mulai menulis dan ikut lomba harus bayar, ya?
      Makanya elbih bagus fokus meninkmati proses, pertajam kemampuan menulis, lalu semangat ikut lomba menulis tak berbayar dan jelas.

      Delete
  26. Hmm, masuk akal sekali nih ulasannya. Intinya kita harus memperhatikan sebuah standar lomba yang kita ikuti ya. Jangan sampai senang bisa masuk sbg pemenang tapi karena seleksinya tidak ketat jadi hasilnya ya kurang berkualitas jg. Noted.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, betul itu, Mbak Rindang. Kita menang, karena mungkin saja peserta lain masih belum sesuai standar, bahkan naskah kita sendiri belum sesuai, akrena standar awlanya tidak tinggi. Akhirnya tidak bisa mengukur kemampuan sendiri.

      Delete
  27. tips yang berfaedah ya , kalau saya skrang ikutannya ya nulis buku antologi tapi harus ikut pesan juga jadi nggak disaring gitu sih. tapi ya memang isinya nggak bisa dijamin bagis semua krwna semua tulisan ya pasti dibukukan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah kalau ikut buku antalogi, tapi tulisan tidak diseleksi, dan semua tulisan yang disetor masuk semua, nanti tidak ada peningkatan kualitas menulis, Mbak.
      Jadi misalnya yang tidak lolos, berarti harus belajar dan semangat menulis lagi.
      Kalau tidak begitu, dia tidak tahu sampai mana kemampuan dan progres menulisnya.

      Delete
  28. Di awal-awal saya menulis dulu, sudah pernah mengalami yang mas sampaikan semua itu. Termasuk lomba foto anak yang kerap ada di IG.
    Sekarang sudah ngerti soal beginian, kalau diajak lagi, ogah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Ria.
      mending fokus pada lomba-lomba yang tak berbayar.
      Jadi bisa sekaligus mengasah kemampuan juga.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.