} Hal-Hal Seputar Menulis Buku Antologi - Cerita Bambang Irwanto

Hal-Hal Seputar Menulis Buku Antologi


Hal-Hal Seputar Menulis Buku Antologi -  buku bersama atau disebut juga dengan antologi itu sudah sering dilakukan. Buku antologi itu bisa diartikan kumpulan tulisan dari beberapa penulis yang disatukan dalam sebuah buku. Jadi kalau ada beberapa tulisan dalam satu buku, tapi hanya ditulis satu orang, itu bukan buku antolgi, tapi buku solo.
Desain Canva
Buku antologi itu bisa beragam tulisan dan ada satu tema atau benang merahnya. Baik fiksi maupun non fiksi. Buku antologi non fiksi misalnya kisah-kisah kehidupan nyata yang menginspirasi. Kisah jalan-jalan seru. Atau cerita sukses membangun usaha. Sedangkan buku antologi fiksi bisa berupa kumpulan cerpen. Untuk bukuu anak bisa lebih luas lagi selain kumpulan cerpen, yaitu kumpulan dongeng atau kumpulan fabel.

Buku antologi ini bisa jadi jalur bagus bagi teman-teman untuk ikutan. Termasuk bagi yang ingin sekali tulisanya ada dalam buku. Ini bisa jadi langkah awal, teman-teman nantinya menulis untuk buku solo.
Nah, bagi teman-teman yang berminat ikut menulis buku antalogi, bisa disimak tulisan berikut. Tulisan ini saya susun berdasarkan pengalaman menulis saya yang masih seuprit, ya. Jadi bila ada belum sesuai, tolong dimaafkan.

Inilah Hal-Hal Seputar Menulis Buku Antologi


Jalur Ikut Menulis Buku Antologi

Ada dua jalur yang bisa teman-teman lalui bila ingin ikut menulis buku antologi.
Pertama, jalur buku antologi yang diadakan oleh penerbit. Jadi penerbit akan membuka pengumuman resmi, lalu dishare ke website resmi, juga sosial media. 
Setelah itu, ada tahapan saringan naskah. Jadi penerbit menerima naskah-naskah sampai batas tertentu. Misalnya sebulan. Kemudian lanjut tahap seleksi. Setelah didapat naskah-naskah yang sesuai, penulis yang terpilih dihubungi, sampai tahap akhir cetak, lalu terbit buku.
Untuk jalur pertama ini, bisa saja penerbit bekerjasama dengan sebuah lembaga atau komunitas. Jadi komunitas yang menentukan tema dan persyaratannya, nanti setelah seluruh tahapan naskah selesai, baru diserahkan ke penerbit.
Terkadang juga, lembaga atau komunitas tidak bekerjasama dengan penerbit. Bukunya dicetak secara indie atau self publish. 
Jalur kedua adalah buku antologi yang diterbitkan dari kumpulan orang-orang. Misalnya saya dan 2 teman kepikiran mau membuat buku kumpulan cerpen anak. Biar seru, kayaknya bagus kalau ceritanya minimal 15 cerita. Maka kami mengajak 12 teman lagi untuk menulis bersama. Jadi tiap orang menulis 1 cerpen.
Bisa juga ceritanya ditambah jadi 20 cerita. Jadi setiap orang akan menulis 2 cerpen. Jadi kami hanya tinggal mencari 7 orang lagi. Pokoknya bisa fleksibel.
Untuk jalur ini, tentu saja masalah naskah ditangani oleh orang-orang terlibat dalam buku antologi ini. Setelah naskah selesai, baru dikirim ke penerbit yang pas.

Hasil dari Menulis Buku Antologi

Segala sesuatu yang kita kerjakan, pasti ingin mendapatkan hasil kan? Nahh, untuk buku antologi ini, hasil yang didapat sesuai dengan buku antologi yang kita buat. Jadi sangat fleksibel sesuai ketentukan.
Buku antologi yang murni dari penerbit, biasanya sejak awal di persyaratan sudah dijelaskan, apa saja yang akan didapatkan oleh penulis yang berkontribusi di buku antologi tersebut. Misalnya, setiap kontributor akan mendapatkan dua buku terbit, atau setiap kontributor akan mendapatkan uang senilai 500 ribu. 
Jadi setelah mendapatkan hak-nya, penulis tidak akan mendapatkan apa-apa lagi, termasuk bila buku antologi itu jadi best seller atau justru kurang terjual. Ini istilah hak penulis sudah dibayarkan duluan.
Untuk buku antologi jalur penerbit, saya pribadi belum pernah mendengar ada sistem royalti. Mungkin dari segi keribetan juga, ya. Bayangkan saja, kalau buku antologi ada 20 tulisan dengan 20 penulis. Setiap turun royalti, harus dibagi 20 orang. Iya, kalau royaltinya besar. Kalau sedikit, bahkan bisa jadi tidak mungkin untuk dibagi. 
Sistem dibayar di depan ini, bisa juga berlaku bagi lembaga atau komunitas yang membuat buku antalogi ya, baik bekerjasama dengan penerbit atau tidak. Termasuk bila buku antologi itu dari hasil sebuah lomba. Jadi hadiah sudah termasuk honorarium. Paling hanya dikirimkan bukti buku terbit.
Nah, kalau untuk sistem royalti bisa diterapkan, kalau memang penulis dalam buku antologi itu tidak terlalu banyak. Misalnya 5 orang. Dalam satu kali penerimaan royalti,  dapat 1 juta. Nah, 1 juta itu dibagi 5. Jadi tiap penulis dapat 200 ribu.
Ada juga sejak awal membuat buku antologi untuk sesuatu. Misalnya sebagai bentuk kepedulian bagi anak-anak penderita kanker. Jadi royalti dari buku itu, sepernuhnya diberikan kepada yayasan. Para penulis tidak menerima apa-apa lagi.

Tips Ikut Menulis Buku Antologi

Ikut berkontribusi di buku antologi itu menyenangkan. Jadi kalau teman-teman ingin tulisannya lolos dan mengisi buku itu, harus maksimal. Berikut tips sederhana dari saya.
Pertama, teman-teman harus menyimak dulu persyaratan yang diberikan. Usahakan semua syaratnya dilaksanakan, karena semua itu termasuk penilaian. Baik dari tema, berapa halaman, jenis uruf yang digunakan dan sebagainya. Termasuk apa menguasai bahannya. Karena banyak naskah yang masuk, maka biasanya penilaiannya lebih ketat dan acuannya dari persyaratan. Misalnya diminta 1,5 spasi dan maksimal 10 halaman, teman-teman malah pakai 2 spasi. Beda spasi, maka akan beda halaman.
Kedua, teman-teman harus disiplin saat proses menulis dan waktu kirim naskahnya. Usahakan ditulis lebih awal, biar ada waktu proses pengendapan dan self editing juga. Kalau nulis menjelang deadline, pasti buru-buru. Belum lagi kalau ada kendala lainnya. Misalnya hari ini hari terakhir kirim naskah. Eh.. kok malah mati lampu seharian. Mana laptop batterainya lowbat. Atau bisa juga seharian itu hujan turun, jadi inet lelet. Akhirnya lewat batas kirim.
Soal disiplin ini juga wajib diterapkan saat diajak menulis buku antologi. Jangan mentang-mentang yang ngajak teman sendiri, nulisnya nanti-nanti saja.  Soalnya satu saja teman telat menyetor naskah, maka proses akan tertunda. Yang harusnya naskah sudah selesai direkap, harus nunggu teman lagi. Harus sudah diproses cetak atau dikirim ke penerbit, harus tertunda lagi.
Yang ketiga ini tambahan, khususnya yang menulis buku antologi indie. Biasanya saat membuat buku antologi, maka biar lebih mudah dibuatlah grup bersama pula. Bisa di grup facebook, inbox facebook atau whatsapp. Tujuannya agar para penulis bisa saling akrab, termasuk untuk info baru.
Ini sebagai tambahan juga, ya! Jadi teman-teman jangan tergiur mengikuti audisi buku antologi abal-abal. Ini biasanya diadakan oleh sekumpulan orang atau bahkan perorangan yang tujuannya untuk keuntungan sendiri. Dan ini sasarannya adalah teman-teman yang baru menulis, dan ingin sekali tulisannya ada dalam buku.
Misalnya mereka membuka pengumuman audisi buku antologi. Setiap penulis yang mau ikutan, wajib membayar biaya pendaftaran 50 ribu. Setelah itu diseleksi dan akhirnya dipilih para kontributor. Nanti kontributor ini diminta membeli buku yang dicetak sangat tipis dengan kertas buram.
Jadi saran saya, teman-teman nikmati proses menulis. Jangan mau cepat menikmati hasil. Punya buku, dapat uang dari menulis dan sebagainya. Menulis adalah sebuah proses. Nikmati proses itu dengan senang hati, dan biarkan indah pada waktunya. Jadi ikutlah audisi antologi yang jelas tujuannya dan membawa hasil. Salam semangat menulis.

Bambang Irwanto


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hal-Hal Seputar Menulis Buku Antologi"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.