} Goresan Hati - Bambang Irwanto Ripto

Goresan Hati

 


Aku nggak percaya dengan keajaiban," kata Prabu sambil tertawa renyah.
        Alisku sedikit terangkat. Sejenak kutatap wajah tampannya. "Maksudmu apa, sih?" tanyaku, lalu menghirup aroma kapucino yang mengepul dari cangkir yang kupegang. sruput... nikmat sekali, saat lidahku merasakan kopi kesukaanku  itu.
          Prabu memamerkan senyum kharismatiknya. Ya, aku menyebutnya begitu. Karena senyum itulah, yang dulu membuat aku jatuh cinta padanya. Dulu.
         "Ya, pertemuan kita ini. Kita bisa bertemu, karena usaha kita untuk bertemu, kan," tukas Prabu. “Kamu bayangkan saja! Untuk apa aku menempuh perjalanan  dari Bandung ke Jakarta, hanya untuk bertemu denganmu beberapa jam saja?”
         Aku mengangguk mengerti. Prabu memang baru satu jam tiba dari Bandung. Dari stasiun Gambir, dia langsung meluncur ke Kafe Pelangi di daerah Sudirman ini.

Tapi menurutku, pertemuan kami ini sebuah keajaiban. Ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Tanpa sim salabim atau abrakadabra, tiba-tiba aku menemukan akun FB-nya, di suatu sore saat aku sedang mengecek facebook. Dan hanya dalam hitungan detik, aku sudah mengirimkan pesan pertemanan untuknya. Kemudian tidak lama Prabu mengkonfirmasi dan dilanjutkan chating via inbox, bbm, whatapps, lalu dilanjutkan janjian bertemu.

“Kamu kok bengong saja? Masih nggak percaya bertemu denganku, ya?” goda Prabu sambil mengerlingkan matanya yang setajam elang.

Aku sedikit kikuk.

“Mungkin,” jawabku. “Kita kan sudah lama banget nggak ketemu. Tapi aku tetap nggak lupa wajahmu.”

Prabu tertawa. Gigi-giginya masih putih dan berderet rapi. Salah satu daya tariknya.

 “Tentu, dong! Aku kan masih setampan yang dulu,” Prabu menepuk dadanya dan aku mengakuinya itu. “Tapi jujur saja, Mir! Aku sedikit terkejut bertemu denganmu. Kamu berubah. Padahal baru dua tahun kita nggak bertemu. Mungkin udara Jakarta, sudah mengubah sedikit wajahmu.”

Aku tertawa kecil. “Mungkin karena bedakku merek terkenal.”

Lalu memori nostalgia itu berputar kembali. Terpampang jelas gambar seorang cowok kelas 1 SMU, yang  tampan nan memesona. Prabu Maharganta. Namanya keren, sekeren orangnya dan reputasinya. Ketua osis dan jago basket yang digemari cewek-cewek satu SMP, termasuk aku. Karena selain menebarkan senyum mautnya, Prabu juga mengantungkan asa setinggi langit pada setiap cewek.

“Bengong lagi... bengong lagi...!” Prabu mencolek lenganku. “Masa aku jauh-jauh datang hanya melihatmu bengong terus. Plis.. berikan aku senyum termanismu!”

Aku berusaha memberikan senyum termanisku. “Maaf. Aku ke toilet dulu, ya!”



“Jangan lama-lama! Nanti tempatmu diganti orang lain. Aku tidak suka menunggu,” lagi-lagi Prabu tertawa renyah.

Aku mengangguk lalu melangkah menuju toilet di sisi kanan belakang kafe Pelangi. Aku tidak suka menunggu. Tiba-tiba Kata-kata Prabu itu tergiang di kedua telingaku.

Aku ingat. Ingat sekali dan tidak akan pernah lupa ucapan Prabu itu

***

Pagi itu dingin sekali. Karena semalam hujan turun deras. Sisa-sisa hujan masih bergantungan di dedaunan saat aku berangkat ke sekolah. Sebenarnya aku malas, tapi hari ini ada beberapa ulangan. Lebih malas kalau harus ulangan susulan.

 “Mirna...” langkahku terhenti saat suara yang paling populer di sekolah memanggilku.

Aku berhenti melangkah, lalu menoleh ke belakang. Prabu tampak berlari menghampiriku. Untuk pertama kalinya, senyum manisnya itu ia berikan padaku. Dan sejak pagi itu, aku menyebut senyum kharismatik.

“Ada apa?” tanyaku heran.

“Ehm, nanti siang jalan, yuk!”

Dadaku langsung bergemuruh. Rasanya aku ingin melompat ke awan, lalu menari bersama peri-peri. Semalam aku tidak bermimpi apa-apa. Tidurku awal dan nyenyak. Mungkin karena siangnya sepulang sekolah, aku membantu Ibu memasak hidangan pesanan Bu Widya yang akan hajatan.

“Kemana?” tanyaku pelan sambil mencubit lenganku. Aku takut hanya bermimpi.

“Nanti saja ya, sepulang sekolah. Biar suprais,” jawab Prabu berahasia. “Tapi kamu mau ikut kan?”

“Tentu saja mau,” aku tidak perlu waktu lama untuk menerima ajakannya.

Prabu tersenyum senang. “Ingat ya, sepulang sekolah, aku tunggu di tempat parkiran. Jangan telat! Aku tidak suka menunggu!”

Hari itu, rasanya waktu lama berlalu. Sebentar-bentar, aku melirik jam tangan murahan seharga 25 ribu yang aku beli di pasar malam yang melingkar di lenganku. Aku ingin cepat-cepat lonceng tanda waktu pulang berbunyi.

“Kamu kenapa sih, Mir? Gelisah banget?” tanya Sisi, teman sebangkuku.

Aku menatap wajah manis Sisi. Hanya dia yang selama ini dekat denganku. Mungkin tidak ada salahnya aku berbagi berita gembira ini.

Aku dekatkan bibirku ke telinga Sisi. Seperti dugaanku, Sisi langsung melonjak kaget.

“Oh My God.. beneran?” Sisi menatapku tak percaya. Mungkin dia pikir aku hanya mengigau di siang bolong.

Aku mengangguk sambi memamerkan senyumku yang tak semanis madu.

“Kamu pake ramuan apa?” goda Sisi sambil mencubit pinggangku. Tidak terasa sakit, karena lemak sudah sejak lama senang berada di sana.

Aku tertawa getir.  Walau sudah terbiasa mendengar ucapan seperti itu, tapi hatiku belum kebal. Masih ada nyeri yang langsung menyusup, menembus relung hatiku yang paling dalam. Aku seperti melayang, saat keluar kelas dan menuju parkiran motor.

        Senyum kharismatik Prabu langsung menyambut, begitu aku sampai di parkiran motor sekolah.

        “Aku kira kamu nggak jadi.”

        “Jadi, dong! Kan sudah janji,” aku memamerkan senyumku yang tak semanis madu itu. “Sebenarnya kita mau ke mana?”

        “Ikut saja. Nanti juga kamu tahu,” jawab Prabu sambil memberi isyarat aku segera naik ke boncengan motornya.

       Motor yang dikendarai Prabu melaju menembus kepadatan kota Bandung. Debu-debu yang berterbangan dan panas terik, terasa bagai sapuan angin yang menyejukkan hatiku. Aku tidak tahu Prabu membawaku kemana, karena hatiku terlalu melayang menembus langit ke tujuh. Tahu-tahu, Prabu menghentikan motornya di sebuah rumah yang halamannya penuh ilalang. Rumah kosong. Untuk apa Prabu membawaku ke sini? Pertanyaan itu segera menyergapku. Menghentikan buaian indah seorang puteri khayangan.

       “Ayo masuk!” Prabu memegang lengan tangan kananku lalu menyeretku masuk.

       “Mau apa kamu?” tanyaku sambil menarik baju seragam sekolahnya kuat-kuat. Satu kancing bajunya terlepas. Dada bidang Prabu sedikit terlihat.

        Dan di dalam rumah kosong itu, harga diriku luluk lantak tak tersisa. Di depan 6 anggota genk-nya di sekolah, Prabu mempermalukan aku.

         “Kembali diaryku!” teriakku disela-sela isak tangisku. Rupanya Prabu yang menemukan diaryku yang terjatuh dan sudah membaca semua isinya.

          “Jadi, kamu naksir padaku, ya! nggak salah tuh? Apa kata dunia?” ejek Prabu sambil tertawa durjana.

          “Kumohon kembalikan!” pintaku.

         Prabu mengoyang-goyangkan diary curahan hatiku itu “Boleh saja. Tapi kamu harus push up 50 kali, sit up 50 dan lari keliling di halaman rumah 50 kali. Cepat! Aku tidak suka menunggu!”

 

***

       Ada perih di sudut hatiku. Mataku sudah mengabur sejak tadi, lalu disusul butir-butir bening yang tak kuasa kutahan. Aku hancur saat itu dan merasa tak berharga hidup di bumi.

        Aku membuka tasku, mengambil beberapa lembar tissue untuk menghapus airmataku. Tiba-tiba tanganku menyentuh kertas surat berwarna pink itu. Kertas yang selalu aku bawa, kemana pun aku pergi.

        Pelan-pelan aku membuka kertas surat yang terlipat itu. Kertasnya sudah berubah warna, namun Aroma wangi kertas surat itu masih tercium hidungku. Seakan masa laluku manis dan tanpa luka.

       Jangan menganggap dirimu hina

       Karena Tuhan menciptakan kita tak ada yang sempurna.

      Isinya dua kalimat. Namun mampu menguatkan hatiku untuk tetap bangkit. Karena setelah kenaikan kelas dua, aku memutuskan meninggalkan Bandung dan pindah ke Jakarta. Mengubur semua masa laluku. Namun tetap mengingat si pengirim surat pink,  seorang cowok mungil berkacamata, teman sekelasku.

         Aku menatap wajahku di cermin. Aku berbeda dari dua tahun lalu, gumamku mencoba tersenyum. Semua itu aku raih tidak instan.

***

         Lama baru aku keluar dari toilet, karena sibuk menata kembali kepingan hatiku yang berantakan. Tapi sulit sekali. Karena kepingan-kepingan kisah lalu itu datang kembali yang meluluk lantakkan hatiku.



            “Kamu lama sekali. Hampir saja aku pergi, karena aku nggak suka menunggu,” sambut Prabu.

           Aku tersenyum hambar lalu duduk di hadapannya.  “Dan aku tidak suka ucapanmu itu?”

            “Maksudmu apa?” kening Prabu berkerut.

            “Aku selalu mengingat ucapanmu itu sampai kapanmu. Karena kamu tidak suka menungguku saat push up 50 kali,sit up 50 kali dan keliling lapangan 50 kali Kan? Dan karena kamu tidak suka menunggu, kamu meninggalkan aku begitu saja yang terkapar pingsan dan nyaris meregang nyawa.”

              Prabu menatapku tajam. Dari ujung rambut sampai ujung kaki “Jadi kamu Mirna...”

              Aku tersenyum dengan sudut bibirku. “Ya, aku bukan Mirna Anggraini, gadis cantik ketua cheeleders.  Aku Mirnasih, gadis gendut yang pernah naksir padamu dan sengaja kau campakkan bagai sampah.”

              Prabu terkejut. “Oh, jadi..jadi.. kamu ingin menuntut balas padaku?” sikap pongahnya masih seperti 2 tahun yang lalu. Sikap pongah yang jadi tameng untuk menutupi semua kesalahannya.

               Aku tersenyum sinis. “Aku tidak mau mengotori hidupku dengan membalas perbuatan jahat yang kau lakukan padaku. Aku mengundangmu ke Jakarta, hanya ingin membuktikan padamu, kalau aku mampu bangkit. Karena semua manusia sama berharganya.”

                “kenapa kamu nggak membalas dendammu? Bukankah aku sudah ada hadapanmu?” tanya Prabu sinis.

               Aku menggeleng. “Untuk apa? Tuhan sudah membalas perbuatanmu padaku. Seharusnya kaki kiri palsumu itu, bisa mengurangi kesombonganmu.”

             Lagi-lagi Prabu terkejut. “Bagaimana kamu tahu tentang kecelakaan itu?”

             Aku tertawa lepas bebas. Sebebas elang yang terbang di langit biru. “Apa susahnya mencari info tentangmu?” ejekku.

              Prabu terdiam menatap lantai kafe pelangi.

               “Habiskan makanan di meja itu! Lalu pulanglah ke Bandung. Biar aku yang traktir,” kataku sambil bergegas meninggalkan Prabu.

             Langit sore menyambutku saat keluar dari kafe pelangi. Aku harap setelah ini, hatiku telah sembuh dari goresan masa lalu. Aku ingin menata hidupku lebih baik lagi.

           “Hai, Mirna!” di depan kafe seorang pria mungil berkacamata melambaikan tangan padaku.

           Aku bergegas menghampirinya.  Dia krisnu, sang pengirim surat pink dua kalimat itu. Yang membuatku berusaha menurunkan berat badanku. . Aku yang memintanya untuk menemuiku weekend ini di Jakarta. Bahkan Krisnu satu satu kereta, hanya lain gerbong dengan Prabu. Dua tahun ini, kami lancar berkomunikasi.

            “Aku ada hadiah untukmu, Nu!”

             Krisnu nyengir. “Apa?”

             “Hatiku sudah terbuka untukmu,” kataku lalu tersenyum, walau senyumku tak semanis madu.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Goresan Hati"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.