Aku nggak percaya
dengan keajaiban," kata Prabu sambil tertawa renyah.
Alisku sedikit terangkat. Sejenak kutatap
wajah tampannya. "Maksudmu apa, sih?"
tanyaku, lalu menghirup aroma kapucino yang mengepul dari cangkir yang kupegang.
sruput... nikmat sekali, saat lidahku merasakan kopi kesukaanku itu.
Prabu memamerkan senyum kharismatiknya. Ya,
aku menyebutnya begitu. Karena senyum itulah, yang dulu membuat aku jatuh cinta padanya. Dulu.
"Ya, pertemuan kita ini. Kita bisa bertemu, karena usaha kita untuk bertemu, kan," tukas Prabu. “Kamu bayangkan saja! Untuk apa aku menempuh perjalanan dari Bandung ke Jakarta, hanya untuk bertemu
denganmu beberapa jam saja?”
Aku mengangguk mengerti. Prabu memang baru satu
jam tiba dari Bandung. Dari stasiun Gambir, dia langsung meluncur ke Kafe
Pelangi di daerah Sudirman ini.
Tapi menurutku,
pertemuan kami ini sebuah keajaiban. Ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Tanpa
sim salabim atau abrakadabra, tiba-tiba aku menemukan akun FB-nya, di suatu
sore saat aku sedang mengecek facebook. Dan hanya dalam hitungan detik, aku
sudah mengirimkan pesan pertemanan untuknya. Kemudian tidak lama Prabu
mengkonfirmasi dan dilanjutkan chating via inbox, bbm, whatapps, lalu
dilanjutkan janjian bertemu.
“Kamu kok bengong saja?
Masih nggak percaya bertemu denganku, ya?” goda Prabu sambil mengerlingkan
matanya yang setajam elang.
Aku sedikit kikuk.
“Mungkin,” jawabku. “Kita
kan sudah lama banget nggak ketemu. Tapi aku tetap nggak lupa wajahmu.”
Prabu tertawa.
Gigi-giginya masih putih dan berderet rapi. Salah satu daya tariknya.
“Tentu, dong! Aku kan masih setampan yang
dulu,” Prabu menepuk dadanya dan aku mengakuinya itu. “Tapi jujur saja, Mir!
Aku sedikit terkejut bertemu denganmu. Kamu berubah. Padahal baru dua tahun
kita nggak bertemu. Mungkin udara Jakarta, sudah mengubah sedikit wajahmu.”
Aku tertawa kecil. “Mungkin
karena bedakku merek terkenal.”
Lalu memori nostalgia
itu berputar kembali. Terpampang jelas gambar seorang cowok kelas 1 SMU, yang tampan nan memesona. Prabu Maharganta. Namanya
keren, sekeren orangnya dan reputasinya. Ketua osis dan jago basket yang
digemari cewek-cewek satu SMP, termasuk aku. Karena selain menebarkan senyum
mautnya, Prabu juga mengantungkan asa setinggi langit pada setiap cewek.
“Bengong lagi... bengong
lagi...!” Prabu mencolek lenganku. “Masa aku jauh-jauh datang hanya melihatmu
bengong terus. Plis.. berikan aku senyum termanismu!”
Aku berusaha memberikan
senyum termanisku. “Maaf. Aku ke toilet dulu, ya!”
“Jangan lama-lama! Nanti
tempatmu diganti orang lain. Aku tidak suka menunggu,” lagi-lagi Prabu tertawa
renyah.
Aku mengangguk lalu
melangkah menuju toilet di sisi kanan belakang kafe Pelangi. Aku tidak suka menunggu. Tiba-tiba
Kata-kata Prabu itu tergiang di kedua telingaku.
Aku ingat. Ingat sekali
dan tidak akan pernah lupa ucapan Prabu itu
***
Pagi itu dingin
sekali. Karena semalam hujan turun deras. Sisa-sisa hujan masih bergantungan di
dedaunan saat aku berangkat ke sekolah. Sebenarnya aku malas, tapi hari ini ada
beberapa ulangan. Lebih malas kalau harus ulangan susulan.
“Mirna...” langkahku terhenti saat suara yang
paling populer di sekolah memanggilku.
Aku berhenti
melangkah, lalu menoleh ke belakang. Prabu tampak berlari menghampiriku. Untuk
pertama kalinya, senyum manisnya itu ia berikan padaku. Dan sejak pagi itu, aku
menyebut senyum kharismatik.
“Ada apa?” tanyaku
heran.
“Ehm, nanti siang
jalan, yuk!”
Dadaku langsung
bergemuruh. Rasanya aku ingin melompat ke awan, lalu menari bersama peri-peri.
Semalam aku tidak bermimpi apa-apa. Tidurku awal dan nyenyak. Mungkin karena
siangnya sepulang sekolah, aku membantu Ibu memasak hidangan pesanan Bu Widya
yang akan hajatan.
“Kemana?” tanyaku
pelan sambil mencubit lenganku. Aku takut hanya bermimpi.
“Nanti saja ya,
sepulang sekolah. Biar suprais,” jawab Prabu berahasia. “Tapi kamu mau ikut
kan?”
“Tentu saja mau,”
aku tidak perlu waktu lama untuk menerima ajakannya.
Prabu tersenyum
senang. “Ingat ya, sepulang sekolah, aku tunggu di tempat parkiran. Jangan
telat! Aku tidak suka menunggu!”
Hari itu, rasanya
waktu lama berlalu. Sebentar-bentar, aku melirik jam tangan murahan seharga 25
ribu yang aku beli di pasar malam yang melingkar di lenganku. Aku ingin cepat-cepat
lonceng tanda waktu pulang berbunyi.
“Kamu kenapa sih,
Mir? Gelisah banget?” tanya Sisi, teman sebangkuku.
Aku menatap wajah
manis Sisi. Hanya dia yang selama ini dekat denganku. Mungkin tidak ada
salahnya aku berbagi berita gembira ini.
Aku dekatkan
bibirku ke telinga Sisi. Seperti dugaanku, Sisi langsung melonjak kaget.
“Oh My God..
beneran?” Sisi menatapku tak percaya. Mungkin dia pikir aku hanya mengigau di
siang bolong.
Aku mengangguk
sambi memamerkan senyumku yang tak semanis madu.
“Kamu pake ramuan
apa?” goda Sisi sambil mencubit pinggangku. Tidak terasa sakit, karena lemak
sudah sejak lama senang berada di sana.
Aku tertawa
getir. Walau sudah terbiasa mendengar
ucapan seperti itu, tapi hatiku belum kebal. Masih ada nyeri yang langsung
menyusup, menembus relung hatiku yang paling dalam. Aku seperti melayang, saat
keluar kelas dan menuju parkiran motor.
Senyum kharismatik Prabu langsung menyambut, begitu aku sampai di
parkiran motor sekolah.
“Aku kira kamu nggak jadi.”
“Jadi, dong! Kan sudah janji,” aku memamerkan senyumku yang tak semanis
madu itu. “Sebenarnya kita mau ke mana?”
“Ikut saja. Nanti juga kamu tahu,” jawab Prabu sambil memberi isyarat
aku segera naik ke boncengan motornya.
Motor yang dikendarai Prabu melaju menembus kepadatan kota Bandung.
Debu-debu yang berterbangan dan panas terik, terasa bagai sapuan angin yang
menyejukkan hatiku. Aku tidak tahu Prabu membawaku kemana, karena hatiku
terlalu melayang menembus langit ke tujuh. Tahu-tahu, Prabu menghentikan
motornya di sebuah rumah yang halamannya penuh ilalang. Rumah kosong. Untuk apa
Prabu membawaku ke sini? Pertanyaan itu segera menyergapku. Menghentikan buaian
indah seorang puteri khayangan.
“Ayo masuk!” Prabu memegang lengan tangan kananku lalu menyeretku masuk.
“Mau apa kamu?” tanyaku sambil menarik baju seragam sekolahnya
kuat-kuat. Satu kancing bajunya terlepas. Dada bidang Prabu sedikit terlihat.
Dan di dalam rumah kosong itu, harga diriku luluk lantak tak tersisa. Di
depan 6 anggota genk-nya di sekolah, Prabu mempermalukan aku.
“Kembali diaryku!” teriakku
disela-sela isak tangisku. Rupanya Prabu yang menemukan diaryku yang terjatuh
dan sudah membaca semua isinya.
“Jadi, kamu naksir padaku, ya! nggak salah
tuh? Apa kata dunia?” ejek Prabu sambil tertawa durjana.
“Kumohon kembalikan!” pintaku.
Prabu mengoyang-goyangkan diary
curahan hatiku itu “Boleh saja. Tapi kamu harus push up 50 kali, sit up 50 dan
lari keliling di halaman rumah 50 kali. Cepat! Aku tidak suka menunggu!”
***
Ada perih di sudut hatiku. Mataku sudah mengabur sejak tadi, lalu
disusul butir-butir bening yang tak kuasa kutahan. Aku hancur saat itu dan
merasa tak berharga hidup di bumi.
Aku membuka tasku, mengambil beberapa lembar tissue untuk menghapus
airmataku. Tiba-tiba tanganku menyentuh kertas surat berwarna pink itu. Kertas
yang selalu aku bawa, kemana pun aku pergi.
Pelan-pelan aku membuka kertas surat yang terlipat itu. Kertasnya sudah
berubah warna, namun Aroma
wangi kertas surat itu masih tercium hidungku. Seakan masa laluku manis dan tanpa luka.
Jangan
menganggap dirimu hina
Karena Tuhan
menciptakan kita tak ada yang sempurna.
Isinya dua
kalimat. Namun mampu menguatkan hatiku untuk tetap bangkit. Karena setelah
kenaikan kelas dua, aku memutuskan meninggalkan Bandung dan pindah ke Jakarta.
Mengubur semua masa laluku. Namun tetap mengingat si pengirim surat pink, seorang cowok mungil berkacamata, teman
sekelasku.
Aku menatap wajahku di cermin. Aku
berbeda dari dua tahun lalu, gumamku mencoba tersenyum. Semua itu aku raih
tidak instan.
***
Lama baru aku keluar dari toilet,
karena sibuk menata kembali kepingan hatiku yang berantakan. Tapi sulit sekali.
Karena kepingan-kepingan kisah lalu itu datang kembali yang meluluk lantakkan
hatiku.
“Kamu lama sekali. Hampir saja aku
pergi, karena aku nggak suka menunggu,” sambut Prabu.
Aku tersenyum hambar lalu duduk di
hadapannya. “Dan aku tidak suka ucapanmu
itu?”
“Maksudmu apa?” kening Prabu
berkerut.
“Aku selalu mengingat ucapanmu itu
sampai kapanmu. Karena kamu tidak suka menungguku saat push up 50 kali,sit up
50 kali dan keliling lapangan 50 kali Kan? Dan karena kamu tidak suka menunggu,
kamu meninggalkan aku begitu saja yang terkapar pingsan dan nyaris meregang
nyawa.”
Prabu menatapku tajam. Dari ujung
rambut sampai ujung kaki “Jadi kamu Mirna...”
Aku tersenyum dengan sudut
bibirku. “Ya, aku bukan Mirna Anggraini, gadis cantik ketua cheeleders. Aku Mirnasih, gadis gendut yang pernah naksir
padamu dan sengaja kau campakkan bagai sampah.”
Prabu terkejut. “Oh, jadi..jadi.. kamu ingin menuntut balas padaku?” sikap
pongahnya masih seperti 2 tahun yang lalu. Sikap pongah yang jadi tameng untuk
menutupi semua kesalahannya.
Aku tersenyum sinis. “Aku tidak
mau mengotori hidupku dengan membalas perbuatan jahat yang kau lakukan padaku.
Aku mengundangmu ke Jakarta, hanya ingin membuktikan padamu, kalau aku mampu
bangkit. Karena semua manusia sama berharganya.”
“kenapa kamu nggak membalas
dendammu? Bukankah aku sudah ada hadapanmu?” tanya Prabu sinis.
Aku menggeleng. “Untuk apa?
Tuhan sudah membalas perbuatanmu padaku. Seharusnya kaki kiri palsumu itu, bisa
mengurangi kesombonganmu.”
Lagi-lagi Prabu terkejut.
“Bagaimana kamu tahu tentang kecelakaan itu?”
Aku tertawa lepas bebas. Sebebas
elang yang terbang di langit biru. “Apa susahnya mencari info tentangmu?”
ejekku.
Prabu terdiam menatap lantai kafe
pelangi.
“Habiskan makanan di meja itu!
Lalu pulanglah ke Bandung. Biar aku yang traktir,” kataku sambil bergegas
meninggalkan Prabu.
Langit sore menyambutku saat
keluar dari kafe pelangi. Aku harap setelah ini, hatiku telah sembuh dari
goresan masa lalu. Aku ingin menata hidupku lebih baik lagi.
“Hai, Mirna!” di depan kafe seorang pria
mungil berkacamata melambaikan tangan padaku.
Aku bergegas menghampirinya. Dia krisnu, sang pengirim surat pink dua
kalimat itu. Yang membuatku berusaha menurunkan berat badanku. . Aku yang
memintanya untuk menemuiku weekend ini di Jakarta. Bahkan Krisnu satu satu
kereta, hanya lain gerbong dengan Prabu. Dua tahun ini, kami lancar
berkomunikasi.
“Aku ada hadiah untukmu, Nu!”
Krisnu nyengir. “Apa?”
“Hatiku sudah terbuka untukmu,”
kataku lalu tersenyum, walau senyumku tak semanis madu.



0 Response to "Goresan Hati"
Post a Comment
Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.