Pernah merasa setelah melewati minggu yang sangat melelahkan, tiba-tiba ingin membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan? Atau setelah menerima gaji dan menyelesaikan pekerjaan besar, muncul keinginan untuk makan di restoran mahal, belanja, atau langsung merencanakan liburan?
Fenomena ini sering disebut “revenge
spending”, yaitu kecenderungan mengeluarkan uang sebagai bentuk pelampiasan
setelah mengalami periode yang terasa berat atau penuh tekanan. Istilah ini
memang lebih populer di media dan dunia pemasaran daripada sebagai diagnosis
psikologis resmi. Namun, perilakunya dapat dikaitkan dengan beberapa konsep
yang telah diteliti dalam psikologi konsumen, seperti compensatory
consumption, retail therapy, dan impulse buying.
Lantas, kenapa kerja keras justru bisa
membuat seseorang ingin boros?
1. Merasa “Berhak” Mendapat Hadiah Setelah Kerja Keras
Salah satu alasan paling sederhana adalah
munculnya perasaan bahwa diri sendiri pantas mendapatkan penghargaan.
Setelah menyelesaikan pekerjaan yang
melelahkan, seseorang mungkin berpikir, “Saya sudah bekerja keras, jadi tidak
apa-apa membeli ini.” Pembelian kemudian bukan sekadar aktivitas ekonomi,
tetapi menjadi bentuk self-reward. Bagi sebagian orang, apalagi para
pekerja di ibu kota, bentuk penghargaan tersebut bisa sederhana, seperti
membeli makanan favorit atau bunga dari toko bunga
Jakarta, sementara yang lain mungkin memilih barang dengan harga
lebih tinggi sebagai simbol pencapaian.
Konsep ini berkaitan dengan compensatory
consumption, yaitu konsumsi yang dilakukan untuk merespons tekanan emosional,
ketidaksesuaian antara kondisi yang diinginkan dan kenyataan, atau ancaman
terhadap identitas diri. Sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkan pada 2025
menjelaskan bahwa konsumsi kompensatoris dapat muncul ketika seseorang berusaha
mengatasi emotional distress atau self-discrepancy.
Artinya, membeli barang setelah bekerja
keras tidak selalu berarti seseorang tidak mampu mengendalikan keuangan. Dalam
kondisi tertentu, pembelian tersebut bisa menjadi cara psikologis untuk
mengatakan, “Saya berhasil melewati masa sulit.”
2. Belanja Bisa Menjadi Cara Memperbaiki Mood
Pernah merasa lebih senang setelah
memasukkan barang ke keranjang belanja? Ada alasan psikologis di balik
pengalaman tersebut.
Penelitian mengenai impulse buying
menunjukkan bahwa kondisi emosional dapat berhubungan dengan keputusan
pembelian spontan. Meta-analisis terhadap 231 sampel dan lebih dari 75.000
konsumen menemukan bahwa kondisi mood dan kemampuan pengendalian diri merupakan
bagian dari proses psikologis yang berkaitan dengan pembelian impulsif.
Penelitian lain juga menemukan bahwa mood
repair dan mood monitoring dapat memengaruhi nilai belanja hedonis,
yang kemudian berhubungan dengan kecenderungan melakukan pembelian impulsif.
Karena itu, setelah melewati hari yang
penuh tekanan, aktivitas seperti membeli pakaian, gadget, makanan favorit, atau
memesan perjalanan dapat terasa seperti “jalan keluar” sementara dari
rutinitas. Bahkan, bagi orang yang mengikuti pasar aset digital, keinginan
memanjakan diri setelah memperoleh pemasukan atau menyelesaikan pekerjaan juga
bisa muncul dalam bentuk mengecek nilai investasi cryptocurrency
indonesia sebelum menentukan seberapa besar dana yang ingin
digunakan untuk hiburan. Namun, keputusan finansial tetap sebaiknya didasarkan
pada perencanaan, bukan sekadar suasana hati sesaat.
3. Bukan Hanya Belanja, Liburan Juga Bisa Menjadi Pelampiasan
Revenge spending tidak harus berbentuk
barang. Pengeluaran untuk pengalaman seperti staycation, konser, makan di
tempat mahal, atau liburan juga dapat menjadi bentuk konsumsi kompensatoris.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam
jurnal Sustainability pada 2025 secara khusus meneliti hubungan antara
stres akibat pekerjaan dan compensatory tourism consumption. Studi tersebut
menggunakan kerangka compensatory consumption theory untuk melihat
bagaimana tekanan pekerjaan berkaitan dengan kecenderungan melakukan konsumsi
pariwisata sebagai kompensasi.
Ini menjelaskan mengapa seseorang yang
sudah lama bekerja tanpa mengambil cuti bisa tiba-tiba ingin pergi jauh ketika
memiliki waktu dan uang. Liburan memberikan sesuatu yang terasa hilang selama
bekerja: waktu untuk diri sendiri, kebebasan, pengalaman baru, atau kesempatan
untuk beristirahat.
4. Stres Bisa Membuat Keinginan Berbelanja Semakin Sulit
Dikendalikan
Masalahnya muncul ketika self-reward
berubah menjadi kebiasaan untuk menghadapi setiap tekanan.
Tinjauan ilmiah terhadap 16 studi
mengenai stres dan compulsive buying-shopping disorder menemukan adanya
hubungan antara tingkat stres yang dirasakan dan gejala perilaku belanja
bermasalah. Namun, peneliti juga menekankan bahwa hasil penelitian masih
beragam dan sebagian besar bukti belum cukup untuk menyimpulkan hubungan
sebab-akibat secara pasti.
Dengan kata lain, stres memang dapat
menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan perilaku belanja bermasalah,
tetapi tidak berarti setiap orang yang stres otomatis akan menjadi boros.
5. Kenapa Setelah Belanja Kadang Malah Menyesal?
Sensasi menyenangkan dari revenge
spending biasanya bersifat sementara. Setelah transaksi selesai, seseorang bisa
kembali menghadapi kenyataan bahwa uang yang tersedia berkurang.
Tinjauan penelitian tentang dampak
setelah pembelian impulsif menemukan bahwa impulse buying dapat
berkaitan dengan konsep seperti mood repair, kegagalan pengendalian
diri, disonansi kognitif, hingga munculnya emosi negatif setelah pembelian.
Inilah
yang menciptakan siklus: stres → ingin memberi hadiah pada diri sendiri →
belanja atau liburan → merasa senang sementara → menyesal karena pengeluaran →
kembali stres.
Karena itu, revenge spending sebenarnya
bukan sekadar persoalan “boros atau tidak boros”. Ada kebutuhan emosional yang
mungkin sedang berusaha dipenuhi melalui uang.
Bagaimana Menghindari Revenge Spending?
Bukan berarti seseorang harus berhenti
memberikan hadiah kepada diri sendiri. Justru, self-reward dapat dibuat
lebih terencana.
Misalnya, setelah menerima gaji, tentukan
sejumlah dana khusus untuk hiburan atau keinginan pribadi. Dengan begitu,
seseorang tetap bisa makan di restoran favorit atau merencanakan liburan tanpa
mengorbankan kebutuhan utama.
Cara lainnya adalah memberi jeda sebelum
melakukan pembelian besar. Tanyakan pada diri sendiri: “Saya benar-benar
membutuhkan ini, atau saya hanya ingin merasa lebih baik setelah minggu yang
berat?”
Jika jawabannya adalah yang kedua, cari
alternatif yang tidak selalu membutuhkan pengeluaran besar, seperti olahraga,
bertemu teman, menikmati hobi, atau mengambil waktu istirahat.
Pada akhirnya, keinginan untuk “balas dendam” kepada rutinitas setelah bekerja keras adalah hal yang cukup manusiawi. Yang perlu diperhatikan bukan keinginan untuk menikmati hasil kerja, melainkan apakah pengeluaran tersebut membantu mencapai keseimbangan hidup atau justru menciptakan masalah finansial baru.






Memang garis batas antara self-reward dan self-destruction dalam hal keuangan itu tipis banget ya. Dulu rasanya bagi saya semua self-reward. Tapi, setelah dipikir lagi, saya bisa belanja gila-gilaan ketika lagi emosi. Kalau lagi tenang, keuangan tertata. Memang yang pelru dikendalikan itu emosi diri juga.
ReplyDeleteSering banget jatuh pada jebakan beginian. Sel Reward berlebihan dan ternyata emang harus dijeda ya sebelum blanja blanji keterlaluan.
ReplyDeleteBener sih. Kalau habis kerja keras dan bikin stres, rawan boros. Soalnya kayak membiarkan diri untuk "menikmati" hasil padahal kadang terasa berlebihan. Makanya nggak heran kalau self reward kebanyakan malah bikin kantong boncos.
ReplyDeleteSemua yang disebutkan pada artikel pun emang related sih, fakta. Kalau nggak kuat-kuat mengendalikan arus kas, atau pengeluaran, bisa-bisa nggak punya tabungan. Makasih sudah diingatkan supaya self reward lebih terkendali dan terukur.
Aku relate banget sama bahasan revenge spending ini :)))|
ReplyDeleteKadang setelah melewati masa serba menahan diri, rasanya memang pengin kasih “hadiah” buat diri sendiri. Tapi tulisan ini ngingetin bahwa menikmati hasil kerja keras juga perlu tetap pakai rem, supaya rasa senangnya nggak berubah jadi penyesalan di kemudian hari. Suka dengan sudut pandangnya, karena ternyata self-reward dan tetap waras soal finansial itu bisa jalan bareng.
Nah, ini saya banget ...huhuhu Kadang saat lihat barang lucu atau merasa sedang butuh “self-reward”, rasanya pengin langsung checkout. Tapi begitu barangnya sudah sampai, baru mikir, “Sebenarnya ini butuh banget nggak sih?” Apalagi kalau akhirnya cuma disimpan dan jarang dipakai, rasa nyeselnya makin terasa. Tulisan tentang revenge spending ini jadi pengingat untuk lebih bijak sebelum belanja, supaya self-reward jangan sampai berubah menjadi self-regret
ReplyDeleteKaaakkk, ini valid banget! huhuhu apalagi kalau reward-nya itu buku :-D Kalau barang lain memang setelah beli itu cenderung ada rasa menyesal kenapa nggak ditabung aja ya/ tapi kalau beli barang dalam rupa buku-buku rasanya besok nggak jajan pun nggak apa-apa hahaha. Pengen nyoba tips di atas untuk memberi jeda ^^
ReplyDeleteIntinya biar ga shopaholic adalah pengendalian diri, ya. Kalau kita disiplin hanya berbelanja sesuai anggaran dan mengambil jeda untuk berpikir sebelum benar-benar keluar uang, InsyaAllah mengurangi penyesalan dan stres berikutnya
ReplyDeletesetuju banget, belanja bisa memperbaiki mood
ReplyDeleteAwalnya saya juga gak paham, mengapa sesudah cape kerja atau mengalami tekanan berat di rumah, rasanya jadi nyaman kembali sesudah belanja
Walau cuma belanja bulanan di supermarket atau belanja printilan kalung dan gelang ^^
Intinya management keuangannya harus teratur dan tepat sasaran ya Mas.. Apalagi in this economy kaya sekarang beli sesuatu yang akhirnya di sesali jadi bikin merasa bersalah. Self rewards sah-sah aja dan manusiawi asalkan tepat menempatkan pos-posnya yg mmana benar2 dibutuhkan atau lainnya hanya sekedar ingin
ReplyDeleteIni aku banget lho, Pak. Habis kerja keras bagai kuda, rasanya semua mau dibeli. Alasannya sih self reward.
ReplyDeleteBegitu sudah kebeli, bukannya senang malah menyesal. Apalagi pas tahu duitku berkurang dan sebenarnya aku nggak butuh barang itu.
Lalu, aku mulai berandai-andai kalau nggak beli barang itu aku bisa pakai uangnya untuk membeli barang yang memang kubutuhkan. Hehehe...
impulse buy berkedok self reward istilahnya ya.