} Tips Saat Mengajari Anak Menulis Cerita - Cerita Bambang Irwanto

Tips Saat Mengajari Anak Menulis Cerita

Tips Saat Mengajari Anak Menulis Cerita - Anak-anak rajin menulis itu sangat bagus. Saya pribadi, sangat bahagia bila ada anak yang posting di media sosialnya, kalau baru terbit buku barunya. Atau ada teman yang posting kalau anaknya berhasil menembus media atau penerbit.  karena bibit-bibit penulis Indonesia di masa datang sudah mulai hadir. Ini keren...



Karena menurut saya, mengajari anak menulis cerita itu tidak mudah. Butuh proses panjang juga dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak hanya dari diri anak itu sendiri, tapi juga harus dari keinginan dan usaha kita.

Nah, bagi teman-teman yang saat ini sedang mengajari buah hatinya menulis cerita anak, atau mungkin sedang mengajari murid-murid di sekolah, bisa menyimak tips sederhana dari saya. Tips ini saya susun berdasarkan pengalaman saya yang masih seuprit ya, teman-teman. Jadi bila ada kekurangan, mohon dimaafkan.

Inilah Tips Saat Mengajari Anak Menulis Cerita


Minat Anak

Pertama, saat akan mengajari anak menulis cerita, telusuri dulu minatnya. Apa memang berminat menulis cerita dari diri sendiri? Ikut-ikutan teman, atau malah karena keinginan orang tua.

Hal ini sangat penting, karena menulis itu didasari karena suka, enjoy menulis, dan akhirnya akan semangat menulis. Jangan karena ikut-ikutan teman, karena nanti setengah-setengah. Apalagi kalau memang hanya keinginan orang tua, dijamin baru belajar, akan langsung mentok, adan akhirnya tidak belajar menulis lagi. Jangan beranggapan, anak lain bisa nulis, masa anak sendiri tidak bisa?

Saya pun begitu. Saat akan menerima anak yang ikut kelas Kurcaci Pos, saya tanyakan dulu, apa anaknya memang minat menulis, dan ikut kelas karena ingin memang ingin belajar menulis sendiri? Kalau jawabannya ya, maka saya terima.


Suka Membaca

Menurut pengamatan saya, memang anak-anak yang belajar menulis dan akhirnya berhasil, adalah anak-anak yang memang  suka membaca. Dari suka membaca cerita, akhirnya timbul keinginan sendiri untuk menulis cerita. Sama seperti saya. Saya waktu kecil suka membaca cerita di majalah Bobo, dan akhirnya ingin bisa menulis cerita.

Soalnya menulis dan membaca itu adalah pasangan sejati. Orang suka membaca, belum tentu suka menulis. Tapi orang yang suka menulis, sudah pasti suka membaca. Apalagi saat proses menulis, otomatis ada proses membaca juga.

Dari membaca ini, tidak hanya menambah referensi ceirta anak-anak, tapi banyak hal yang membantu proses menulis mereka. Misalnya muncul ide dari cerita yang mereka baca, mempelajari bagaimana konflik cerita itu, bagaimana alurnya, sampai ending yang menarik.


Sabar

Mengajari anak menulis itu, butuh ekstra sabar 10X, dibandingkan saat mengajari menulis orang dewasa. Ini karena daya tangkap anak berbeda-beda, dan itu harus sangat kita maklumi. Ada anak yang sekali dijelaskan paham, ada yang berulang baru paham.

Makanya, kita harus benar-benar memahami karakter dan kemampuan anak yang diajari menulis cerita. Untuk orang tua yang mengajari anaknya menulis cerita, mungkin lebih mudah ya, karena sudah lebih mengenal. Namun untuk yang mengajari beberapa anak menulis cerita, itu harus mengenali semua anak. Jadi cara menghadapinya bisa disesuaikan. Tidak bisa disamakan.


Waktu

Waktu belajar menulis cerita pada anak tidak sama dengan orang dewasa. Setelah membuka kelas khusus anak-anak, saya jadi paham, kalau menulis cerita pada anak itu tidak boleh terlalu lama.

Ternyata rata-rata anak paling lama bertahan fokus itu hanya 1 jam. Di atas itu, banyak yang blank dan bosan. Kalau pun ada anak yang tahan sampai 2 jam, itu bisa dihitung dengan jari.

Makanya waktu maksimal mengajari anak menulis cerita itu, cukup 1 jam saja. Dalam sejam itu berikan materi singkat, padat, dan cepat. Kemudian selingi dengan pertanyaan dan pancingan ide, lalu lanjut praktik menulis.

Bisa juga bila memang waktunya 2 jam, pecah waktunya sejam-sejam. Lalu di antara jeda itu, lakukan hal lain. Misalnya mencari ide dengan mengikuti lingkungan sekitar kelas. Tapi ini bisa diterapkan di kelas ofline, ya. Untuk kelas online, cukup satu jam saja.

Jadi Teman Sharing

Saat mengajar anak menulis cerita, usahakan posisi kita bukan sebagai guru, tapi teman sharing menulis. Guru dan teman sharing itu berbeda, karena posisi kita sama dengan anak-anak. Hanya karena kita yang lebih tahu soal menulis, jadi kita sharing kepada mereka. Teman sharing membuat anak-anak nyaman. Makanya anak-anak yang ikut kelas Kurcaci itu memanggil saya, Kak atau Kakak. Sedangkan orang dewasa malah memanggil Pak hehehe.

Jadi tugas kita bukan mencarikan ide cerita mereka, menentukan konflik, sampai akhirnya dibantu menulis cerita. Tugas kita memancing agar ide anak-anak keluar, lalu membantu mengarahkan cara mengembangkan cerita, dan anak-anak menulis ceritanya sendiri.

Saat anak menjelas sesuatu yang kurang pas, jangan katakan itu salah, tapi kurang pas. Mungkin lebih baik begini, lebih pas begini, dan pas akan lebih menarik. Pancing kembali anak apakah ada ide lain yang lepas.


Terus Memberi Semangat

Anak itu saat belajar menulis cerita memang masih tergantung mood. Jadi saat mood bagus, mereka semangat menulis. Tapi kapan mood mereka turun, maka proses menulisnya akan tertunda.

Untuk kelas Kurcaci Pos khusus kelas anak, itu waktu sharingnya saya suruh mereka yang menentukan. Jadi kalau mereka minta sharing, pasti mood menulisnya sedang bagus. Jadi otomatis saat shairng akan lancar.

Makanya tugas kita untuk selalu memberi semangat kepada anak. Misalnya mood bagus terus, tapi ternyata hasil menulisnya belum sesuai, harus terus diberi semangat. Berikan pengertian kalau menulis itu juga proses. Begitu juga saat ada naskah belum berhasil lolos, terus pompa semangatnya.

Karena memang pada dasarnya anak itu belajar menulis cerita dari keinginan sendiri, maka Insya Allah anak itu akan kembali menulis. Apalagi sudah ada dukungan dari orang-orang terdekatnya.

Nah, demikianlah tips aat Mengajari Anak Menulis Cerita dari saya. Semoga bermanfaat, ya! Salam semangat menulis.

Bambang Irwanto




Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Tips Saat Mengajari Anak Menulis Cerita"

  1. Metodenya bisa diterapkan kalo nanti sy jd guru lg & menemukan siswa yg minat menulis cerita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan, Mbak Widya.
      Semoga bermanfaat tips-nya ya, Mbak. Terus semangat menulis, Mbak.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.