} Cerpen Remaja Rahasia Rose - Bambang Irwanto Ripto

Cerpen Remaja Rahasia Rose

 Cerpen Remaja Rahasia Rose - Rose masih setia menungguku. Padahal sudah berkali-kali aku menyuruh Rose pulang saja. Aku kan, bukan anak kecil lagi. Aku sudah hapal jalan dan bisa pulang sendiri. Sekali-kali aku ingin sendiri.

cerpen remaja rahasia rose bambang irwanto
Rahasia Rose - Desain Canva


     “Ayo, kita pulang!” ajak Rose tiba-tiba. “Sebentar lagi akan hujan.”

     Aku menatap langit. Benar juga kata Rose. Awan-awan hitam tampak mengantung di langit. Sejak tadi matahari sudah bersembunyi di balik awan.

     Aku langsung menggeleng. Aku masih mau di sini menunggu sore. Mendung kan, tak berarti hujan. Seperti syair lagu yang sering aku dengar, saat Rose menyetel CD di mobil.

     Aku mendorong-dorong tubuh Rose, menyuruhnya pulang duluan saja.

     Mata Rose membulat, tapi bukan berarti dia marah, karena sinar matanya sangat teduh dan lembut. Aku balas menatap Rose.

     “Aku tidak bisa pulang tanpa kamu. Nanti Mamamu marah!” ujar Rose seakan tahu arti tatapanku itu.

     Tuh kan, selalu Mama yang jadi alasan Rose, agar ia bisa membuntutiku terus, ke mana pun aku pergi. Walau aku tahu, itu tugas Rose. Tapi jangan seketat ini, dong! Aku kan, juga perlu sedikit kebebasan, protesku dalam hati.

     Tanpa menunggu persetujuanku, Rose langsung mengajakku pulang. Aku kesal sekali.

     Kadang-kadang aku heran. Kenapa Rose mau menghabiskan waktu untukku. Rose itu masih muda dan cantik. Pasti masih banyak pekerjaan yang lebih baik untuknya.

     “Jangan cemberut, begitu, Manis! Besok kita masih bisa jalan-jalan lagi!” kata Rose dari balik kemudi sambil sesekali menatapku lewat kaca spion tengah mobil. “Tuh, lihat, hujan mulai turun! Seandainya kita masih di taman, pasti kita akan kehujanan. Kamu bisa sakit. Kalau begitu, Mamamu akan sedih.”

     Aku menatap keluar mobil. Benar juga. hujan turun semakin deras. 

     Akhirnya aku luluh juga dan tersenyum pada Rose.

     “Nah, gitu, dong!  Kamu bertambah manis!”

@@@

     ROSE... Nama Itu yang ia ucapkan waktu pertama kali bertemu denganku. Ia lalu menjabat tanganku sambil tersenyum hangat, Seperti ada yang mengalir dalam tubuhku.

     Aku tidak tahu latar belakang Rose. Rose tidak bernah bercerita padaku. Ia datang ke rumahku di suatu sore dan langsung bertemu Mama. 

     Mereka langsung akrab dan sesekali terlihat berbincang serius. Tidak lama, aku mendengar isak tangis Mama dan Rose. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan, sampai harus menangis seperti itu? Aku ingin bertanya, tapi aku tidak bisa.

     Setelah itu, Rose resmi jadi pengawal pribadiku. Tepatnya bodyguard wanita untukku. Ya, itu mungkin lebih tepat, karena ke mana pun aku pergi, Rose selalu mengawasiku.

     Jujur saja. Sebulan bersama Rose aku merasa senang. Ia baik dan tidak pernah marah. Walau harus aku akui, kadang-kadang aku membuatnya kesal.

     Tapi diam-diam aku sering memergoki Rose menangis. Entah kenapa? Lagi-lagi aku ingin bertanya, tapi tidak bisa.

@@@

     Sore itu, Rose mengajakku ke taman. Aku paling suka ke taman. Aku bisa melihat banyak hal. Rasanya bosan seharian di kamar terus.

     Seperti biasa, Rose selalu menjelaskan apa saja yang sedang aku lihat. Tentang awan, matahari, pohon, burung atau orang-orang yang sedang lalu lalang di sekitar taman.

     Padahal aku sudah tahu. Sudah berulang-ulang, Rose menjelaskan padaku. Misalnya, kalau awan putih berarti tidak hujan. Kalau awan hitam, berarti akan hujan.

     “Rose!” seorang laki-laki menyapa Rose, saat Rose sedang menerangkan tentang matahari padaku.

     Rose menoleh pada laki-laki itu. Aneh, Rose langsung ketakutan. Padahal laki-laki itu tidak berwajah seram. Malah wajahnya tampan, seperti Atalarik Syah, bintang sinetron idola Mbak Tum, pembantu rumah tangga di rumah.

     Rose seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi kenapa suaranya tidak keluar? Baru kali ini aku melihat Rose segugup itu.

     “Apa kabar, Rose?” Rose makin ketakutan sewaktu laki-laki itu mengulurkan tangan pada Rose.

     Buru-buru Rose mengajakku pulang. Aku jadi bingung. Ada apa dengan Rose. Awan tidak hitam, tidak akan turun hujan. Waktu yang tepat untuk berjalan-jalan. Kenapa Rose mengajakku pulang?

     “Tunggu, Rose!” laki-laki itu berusaha mengejar kami. Sebentar saja dia sudah menyusul. Tangannya mencengkram lengan kanan Rose.

     “Rose, kita harus bicara. Selama ini aku…”

     “Lepaskan!” teriak Rose. “Atau aku teriak copet!”

     Laki-laki segera melepas cengkramannya. “Oke, oke! Lain kali kita bisa bicara baik-baik.”

     “Jangan coba-coba mencariku! Atau kamu berurusan dengan polisi lagi!”

     Aku menatap Rose. Aku tidak mengerti dengan perubahan sikap Rose yang tiba-tiba itu. 

     “Tidak apa-apa, Sayang! Ayo, kita pulang!” Rose menenangkan aku dengan suara parau.

@@@

     Aku tidak sengaja mendengan percakapan Rose dan Mama. Waktu itu, aku ingin ke kamar mandi. Memang untuk urusan ke kamar mandi, aku tidak perlu bantuan Rose. Aku sudah besar dan malu kalau harus ditemani Rose juga.

     Tiba-tiba aku mendengar isak tangis. Aku tahu itu suara Rose. Diam-diam aku menajamkan pendengaranku.

     “Sudahlah, Rose! Bram hanya masa lalumu!” terdengar suara Mama.

     “Aku seolah-olah melihat hantu, Ma! Lukaku kembali mengangga.”

     Oh, aku baru tahu, kalau Rose memanggil Mama juga pada Mamaku.

     “Rose, pada saat kamu datang kemari, seharusnya kamu sudah siap dengan semua resiko yang akan terjadi.”

     “Aku tidak sanggup, Ma!”

     “Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

     “Mungkin aku akan pergi untuk menenangkan hati, Ma.”

     “Kamu tidak sayang pada anakmu, Rose?”

     “Justru aku pergi, karena sayang padanya, Ma! Aku tidak mau bersamanya di saat hatiku sedang lara. Aku tidak mau, dia ikut merasakan kesedihan hatiku ini, Ma.”

     Ooh, aku baru tahu kalau Rose punya anak. Kasihan Rose, pantas saja ia sering menangis. Pasti ia sedih memikirkan anaknya itu.

@@@

     Rose sudah pergi. Ia tidak pamit padaku. Aku sedih. Apalagi pengawal baruku, tidak sebaik Rose.

     Tapi tidak apa. Aku ikhlas melepas kepergian Rose.  Mungkin anaknya lebih membutuhkan Rose dibandingkan aku.

     Tepat dua minggu sejak kepergian Rose, seseorang datang mencarinya. aku mengintip dari jendela kamar. Aku mengenalnya. Laki-laki yang sedang berdiri di ambang pintu itu. Dia laki-laki yang membuat Rose ketakutan saat di taman.

     Bergegas aku keluar kamar lalu menuju ruang tamu, Aku bersembunyi di balik gorden. Aku ingin tahu, kenapa laki-laki itu datang ke rumahku?

     “Bram? Untuk apa kamu datang ke sini?” terdengar suara Mama saat membuka pintu rumah.

     “Saya mencari Rose, Tante! Saya ingin bicara padanya!”

     “Jangan pernah mencari Rose lagi! Apa belum cukup perlakuanmu pada, Rose?”

     “Tante, apa belum cukup saya menebus kesalahan saya. Sepuluh tahun saya habiskan di dalam penjara. Beri saya kesempatan, Tante! Selama ini, saya dihantui rasa bersalah.”

     “Terlambat. Rose sudah pergi! Sekarang lebih baik kamu pergi!” 

     Mama hendak menutup pintu, tapi laki-laki itu menahannya.

     “Tunggu, Tante! Saya ingin bertanya sesuatu.”

     “Apa lagi? Saya tidak akan memberikan sedikitpun infomarsi tentang Rose.”

     “Itu Tante, saya ingin tanya tentang anak yang dulu dikandung Rose! Bagaimana kabarnya?”

     “Itu bukan urusanmu!”

     “Tapi anak itu anak saya, Tante! Saya Ayahnya.”

     Mama terdiam. Tapi laki-laki itu terus mendesak Mama. Bahkan ia berlutut sambil memegang kaki Mama.

     “Baiklah, saya akan menceritakan semuanya! Masuklah!”

     Mama mengajak laki-laki itu duduk di ruang tamu.  Dan cerita itu pun mengalir deras bagai anak sungai.

     Waktu itu umur Rose baru 16 tahun. Rose adalah gadis remaja yang cantik dan periang. Banyak cowok naksir pada Rose. Dan akhirnya Rose menambatkan hatinya pada Bram, cowok tampan dan jago basket itu.

     Sayangnya, Rose dan Bram tidak bisa menjaga hubungan mereka. Gaya pacaran mereka terlalu jauh. Suatu malam, Bram secara paksa merengut kegadisan Rose,  sehabis menghadiri pesta ulang tahun teman sekelas mereka.

     Rose hamil dan mengandung pada saat dirinya belum siap. Rose terpaksa keluar dari sekolah. Rose malu dan akhirnya depresi. Berkali-kali Rose mencoba mengugurkan kandungannya. Bahkan sempat mencoba bunuh diri. 

     “Rose tidak sanggup merawat anaknya. Akhirnya Tante yang merawat. Sedangkan Rose kami masukkan ke pesantren untuk berobat.”

     “Jadi, anak itu bersama, Tante? Bolehkah saya bertemu dengannya?”

     “Kamu yakin?”

     Laki-laki yang bernama Bram itu mengangguk.

     “Baiklah, Tante sadar. Sampai kapan pun, anak itu tetap anakmu. Ada darahmu yang mengalir di dalam tubuhnya. Ikutlah!” Mama bangkit dari duduknya.

     Laki-laki bernama Bram itu mengikuti Mama.

     “Eh, sayang! Rupanya kamu bersembuny di balik gorden ini,” Mama membebaskan tubuhku dari belitan gorden. “Lain kali, jangan main-main dengan gorden lagi, ya!” Mama menasehatiku sambil mendorong kursi rodaku menjauh dari gorden. Mama lalu mengambil tissue dan segera melap liur yang membasahi bajuku.

     “Ini anakmu, Bram! Namanya Pelita. Umurnya 16 tahun!  Walau keadaannya tak sempurna, ia tetap bagai pelita yang akan terus menyinari hati saya dan Rose,” kata Mama sambi mengelus rambutku.

     Laki-laki bernama Bram itu langsung melongo menatapku tak percaya.

Bambang Irwanto


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen Remaja Rahasia Rose"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.