} Menyusuri Sejarah Dibalik Tugu Renville Kebumen - Bambang Irwanto Ripto

Menyusuri Sejarah Dibalik Tugu Renville Kebumen

Menyusuri Sejarah Dibalik Tugu Renville Kebumen – Membaca judulnya, pastinya teman-teman akan teringat atau mengaitkan dengan perjanjian Renville, ya? Ya, benar sekali. Tugu Renville ini dibangun untuk mengenangkan jasa pejuang kemerdekaan yang gugur saat bertempur melawan penjajah Belanda.



Saya sudah lama mengincar tugu ini untuk dikunjungi. Selain saya suka sesuatu yang berlatar belakang sejarah, saya juga ingin mengenalkan tulisan ini lewat postingan di media sosial. Karena biar bagaimanapun, Tugu Renville ini salah satu bukti peristiwa  bersejarah Bangsa Indonesia.

Makanya pas dari Bendungan Wadaslintang, senin 2 Desember 2019, saya sudah berencana ke Tugu Renville. Hanya memang, saya belum tahu letaknya tugu ini berada di mana.  Saya hanya tahunya sekitar kota Kebumen.



Nah, saat istirahat dan menikmati kembang tahu di jalan Pemuda, saya tanya Bapak parkir. Saya perlihatkan capturenya dari google map. Kata Bapak itu, wah ini di wilayah Buayan. Jadi dari Gombong terus lagi.



Saya tercenung sejenak. Buayan itu sebelah mana, ya? Rasa-rasanya sering lewat daerah Buayan. Tapi sekilas saja saya baca namanya. Tapi memang rasanya setelah Gombong.

Makanya, saya pun melajukan motor saya di siang bolong yang super panas ke arah Buayan. Saya tanya beberapa orang, tapi mereka pada tidak tahu, di mana Tugu Renville itu. Sampai akhirnya, saya bertanya kepapa seorang Bapak yang sedang membersihkan bagian depan tokonya. Eh, Bapak itu malah memberikan jawaban mengejutkan.



“Kalau desa tugu buayan ada, Mas. Itu Mas bisa lampu merah belok kanan ke arah karang Bolong. Atau bisa lewat pos polisi di dearah Ijo. Tapi kayaknya tugunya ga ada. Lagipula ini alamatnya Panjer kecamatan Kebumen. Panjer itu di Kebumen.”

Nah, lho.. Inyong jadi bingung atau biasanya Bambang Bimbang Marhambang hahaha. Ehm dari alamat di google Map memang membingungkan. Ini antara derah Buayan dan Panjer. Akhirnya saya pulang saja. Mumpung rumah saya sudah dekat hahaha.

Tapi rasa penasaran terus menganggu pikiran saya halah hahaha. Maka daya coba browsing lagi. Kali ini saya ancer-ancernya dari tugu Lawet Kebumen.



Alamak.. ternyata dari tugu Lawet sudah dekat sekali. Jadi saya diarahkan ke gang Menur. Nah dari situ sudah dekat. Oke, saya semangat lagi untuk mencari Tugu Renville.

Makanya kamis 5 Desember 2019, saya sengaja berangkat pagi-pagi dari rumah. Jadi ancer-ancer tugu lawet, jalan Pemuda, lalu masuk gang Menur lurus mentok lalu belok kanan. Kemudian lurus jalan, keluar gang, dan tembus gang lain yaitu gang Gereja. Nah loh.. Tugu Renville-nya mana?

Nah, pas dari gang Menur saya bingung. Kok tidak ada tanda-tanda keberadaan  tugu Renville? Padahal selepas Gang Menur sudah Gang Gereja.Untungkah ada seorang Bapak yang mau masuk rumahnya yang menenteng kresek berisi sarapan. Saya pun bertanya pada Bapak itu.

Bapak itu tersenyum sambil menjelaskan pada saya, “Jadi Mas lurus saja keluar gang ini sampai gang Gereja. Lalu belok kiri mentok, habis itu belok kiri lagi mentok rel kereta. Di sana Tugu-nya.

Hippi.. saya langsung girang. Ternyata tugu incaran saya sudah dekat. Saya pun mengikuti arahan Bapak tadi. Kurnag dari 3 menit, saya sudah menemukan Tugu Renville.

Jadi biar mudah, teman-teman kalau mau ke Tugu Renville patokan utamanya adalah Tugu Lawet. Teman-teman mau dari mana saja, pasti akan ketemu perempatan Tugu Lawet. Lalu masuk ke jalan Pemuda, setelah itu kanan jalan langsung masuk ke Gang Gereja (yang memang depannya ada gereja). Lurus sampai mentok jalan lalu belok kiri. Nah langsung terlihat Tugu Renville.

Pas sampai lokasi, saya agak terkejut. Sebelumnya dalam bayangan saya, Tugu Renville itu berada di sebuah tempat yang lapang dan teduh. Ternyata oh ternyata, kini berada di sisi rel kereta api. Sangat mepet. Takutnya akan retak karena getaran kereta api lewat terus menerus.



Jadi dalam sejarah Indonesia, ada dua perjanjian penting. Perjanjian Linggarjati dan perjanjian Renville. Keduanya sama yaitu soal batas wilayah Indonesia dan belanda.

Hanya Belanda selalu saja melanggar batas wilayah. Makanya banyak sekali terjadi pertempuran. Khusue Kebumen, ada juga tugu kemit yang menandakan pertenpuran karena Belanda melanggar perjanjian Linggarjati.



Perjanjian Renville sendiri ditandatangi pada 17 Januari 1948 di atas geladak  kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral USS Renville yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Perjanjian ini diadakan untuk menyelesaikan perselisihan perjanjian Linggarjati.



Dan saat saya browsng, ternyata Tugu Renville tidak hanya ada di kebumen. Tapi juga ada monumen Renville di daerah Banjarnegara, dan Tugu Renville di Sumatera Barat. Ini membuktikan Belanda dulu melanggar semua batas wilayah ya hehehe.

Lalu, karena perjanjian Renville ini berkaitan dengan perjanjian Linggarjati juga yang menyebabkan banyak tertempuran, makanya di ada juga Monumen Perjuangan 45 Kemit Karanganyar Kebumen. Di sanalah terjadi pertempuran juga antara pejuang Indonesia dengan tentara Belanda.



Tugunya tidak terlalu besar. Bentuknya persegi 5 setinggi sekitar 3 meter, dengan landasan dicat hitamNah di setiap sisinya melambangkan 5 sila-sila pancasila. tabg seadarah jarum jam dari depan Keadilan, Ketuhanan, Prikemanusiaan, kebangsaan, dan Keedaulatan Rakyat, Kebangsaan, Dengan landasan berwarna hitam. Ada semacam tempat pasang bendera di keempat sudutnya.

Di sisi bagian depan ada prasasti yang terdiri dari dua kalimat. Kalimat pertama bertuliskan “DISINI AKU MATI UNTUK IBU PERTIWI”. Sedangkan kalimat kedua, “HARAPANKU BERBAHAGIALAH NUSA BANGSAKU.”



Kalimat-kalimat ini sontak membuat mata saya berembun. Dalam sekali makna dari kalimat-kalimatnya. Ini adalah ungkapan hati seluruh pejuang yang bertempur saat itu. Intinya, kami rela berjuang, mempertaruhkan nyawa, demi kebahagian bangsa dan negara.

Lalu dua prasasti lainnya terdapat di dua sisi bagian belakang. Isi prasastinya sama, yaitu, “BUMI HANGUS DAN PENGHANCURAN BANGUNA  VITAL OLEH PEJUANG KEMERDEKAAN SEBAGAI JAWABAN PENGHIANATANPERJANJIAN RENVILLE 1947 OLEH BELANDA”.



Jadi maksudnya adalah, karena Belanda melanggar perjanjian Renville, maka Indonesia sangat marah. Makanya pejuang kemerdekaan mengambil tindakan dengan menghancurkan bangunan vital milik Belanda.

Saya pun terus mengamati Tugu Renville ini. Seperti biasa, bila saya mengunjungi monumen, tugu, benteng, dan banguna bersejarah lainnya, saya selalu membayangkan peristiwa yang terjadi di baliknya. Termasuk Tugu Renville iini. Saya membayangkan, di sinilah terjadi pertempuran hebat para pejuang kemerdekaan melawan Belanda.



Yang bikin saya bahagia, Tugu Renville ini tampak bersih. Sepertinya belum lama dicat baru. Padahal pas saya browsing, sempat tepengaruh juga dengan adany proyek rel ganda yang pas di dekatnya. Saya pun baca beritanya, tugu ini sempat penuh vandalisme dari anak-anak muda tak bertanggung jawab.

Setengah jam saya menghabiskan waktu di Tugu Renville ini. Puas rasanya sudah mengunjungi tugu bersejarah ini. Harapan saya, tugu ini harus selalu dijaga dan dirawat, agar terus ada dan bisa dilihta oleh anak cucu. Karena bagaimana pun, ini salah satu bukti perjalanan panjang sejarah Bangsa Indonesia.



Juga bagi generasi muda, hargailah tugu-tugu bersejarah, dengan tidak mencorat-coretnya. Bahkan perlu peran berbagai pihak untuk mengenalkan kepada anak-anak. Soalnya banyak orang-orang yang tidak tahu soal tugu ini. Agar tidak lupa akan sejarah bangsa sendiri. Seperti ucapan Presiden Soekarno, bangsa yang besar ialah bangsa yang tidak melupakan sejarah ya, Bangsa Indonesia besar karena sejarah panjangnya.

Bambang Irwanto

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Menyusuri Sejarah Dibalik Tugu Renville Kebumen "

  1. kebanyakan tugu dibuat karena ada hal yang bisa diceritakannya , sejaarhnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, Mbak Tira.
      Makanya saya selalu semangat mengunjungi tugu-tugu untuk mengulik juga sejarahnya.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.