} Tugu Lawet Ikonnya Kota Kebumen - Cerita Bambang Irwanto

Tugu Lawet Ikonnya Kota Kebumen

Tugu Lawet Ikonnya Kota Kebumen - Setiap kota pasti ada ikon. Biasanya berbentuk tugu atau monumen. Biasanya lagi, tugu atau monumen itu dibangun berdasarkan sesuatu yang sangat khas di kota itu, atau bahkan dari satu peristiwan. Nah kalau di kota Kebumem, ikonnya adalah Tugu Lawet.


Mungkin bagi teman-teman yang pernah mampir ke Kebumen, pastinya sudah pernah melihat Tugu Lawet ini. Letaknya di pusat kota Kebumen, tepatnya di simpang 4 dekat pasar Tumenggungan. Tugu Lawet ini juga merupakan bundaran untuk putaran kendaraan. Jadi seperti Bundaran HI.

Jadi Tugu Lawet diapit oleh 4 jalan. Pertama jalan Pahlawan yang mengarah ke alun-alun Kebumen, jalan Kusuma yang mengarah ke utara Kebumen tembus jalan Sarbini, jalan Ahmad Yani yang mengarah ke kutowinangun terus sampai Purworejo, dan terakhir jalan Pemuda yang mengarah ke Stasiun kereta api Kebumen.


Kehadiran tugu Lawet itu tentunya tidak sekedar hadir. Tugu lawet itu sangat erat kaitannya dengan potensi Kebumen sebagai penghasil sarang Burung Walet. Teman-teman pasti pada tahu ya, kalau sarang walet itu harganya sangat mahal. Makanya secara tidak langsung meningkatkan taraf hidup masayarat kebumen.

Atas dasar itulah, Bupati Supeno Suryodiprojo yang memimpim Kebumen di kurun waktu 1965-1975 berinisiatif membangun Tugu Lawet. Tugu setinggi 10 meter ini dan terbuat dari beton, dirancang oleh Bapak Giok Twan atau yang akrab disapa Teguh Twan.

Begitulah kaitan erat antara kota Kebumen dan burung walet. Makanya burung walet ini tidak hanya jadi ikon di tugu, diterapkan di berbegai tempat dan media di sekitar Kebumen. Misalnya di banyak sekali gambar burung walet dii alun-alun kebumen. Kemudian burung walet juga diterapkan pada motif batik kebumen,

Burung Walet Pada Blangkon khas Kebumen (Foto : Bambang Irwanto)

Lanjut soal tugu Lawet. Tugu ini menggambarkan aktivitas serta perjuangan para pengunduh sarang burung walet yang banyak terdapat di gua-gua selatan daerah Ayah dan Buayan.  Bentuk Tugu Lawet yang tidak beraturan menggambarkan kontur karang pesisir selatan Kebumen yang memang terjal. Dan burung walet itu memang suka membuat sarang di langit-langit gua yang akan sangat susah dijangkau manusia.

Ada dua burug walet raksasa di puncak tugu. Lalu ada 5 orang yang sedang berjuang mengunduh sarang burung walet. Mereka hanya mengenakan celana pendek untuk menunjukkan kesederhanaan waktu itu. Tapi kok namanya Tugu Lawet ya, bukan Tugu Walet? Soalnya orang sini sudah fasih menyebutnya burung lawet.

Dan memang, saat saya memperhatikan Tugu lawet ini, tersirat jelas kalau lima patung yang digambarkan dalam tugu itu sedang berjuang mengunguh sarang burung walet. Kondisi medan yang terjal, pastinya membuat mereka mempertaruhkan nyawa juga. Apalagi dengan peralatan seadanya. Makanya tidak mengherankan ya, kalau sarang burung walet harganya sangat mahal. Ya karena itu tadi. Susah dan penuh perjuangan untuk mendapatkannya.

                               

O,iya. Tugu Lawet  ini juga sering disebut Tugu Kupu Tarung. Jadi ceritanya, Jadi ceritanya, zaman dahulu terjadi pertempuran antara Temunggung Kolopaking dan kupu Tarung.Makanya tugu Lawet disebut juga Tugu Kuputarung, sedangkan nama pasar yang dekat tugu dinamai pasar Temunggungan dari asal gelar Temunggung.

Saat saya berada di dekat Tugu Lawet untuk kesekian kalinya pada hari kamis, 3 Desember 2019, Tugu Lawet ada perubahan lagi pada sekitarnya. Jadi tahun 2017, Tugu Lawtet mengalami renovasi. Tapi hanya bagian sekitarnya saja yaitu adanya penambahan air mancur dan besi yang seperti berbentuk bunga  teratai. Sedangkan untuk catnya, dilakukan pengecatan ulang.

Hanya perubahan ini agak menuai protes. Besi-besi yanga da di sekitar, dianggap membahayakan pengguna jalan. Soalnya Tugu Lawet ini memang tempat berputar kendaraan dari 4 simpang. Terus jalannya kan tidak terlalu lebar seperti putaran bundaran HI. Kemudian catnya itu, karena ce;ana yang digunakan patung itu dicat warna-warna terang.


Makanya sekarang, besi berbentuk bunga teratai sudah tidak ada lagi. Air mancur pun katanya tidak aktif. Lalu menurut saya, ini lebih natural catnya. Soalnya kemarin, itu celana para pencari sarang walet dicat warna-warni.

Hanya... memang sebagai ikonnya kota kebumen, pastinya orang-orang ingin juga selfie di depan Tugu Lawet ini. Hanya itu sudah sekali dilakukan. Kendaraan yang lalu lalang, pastinya membahayakan keselamatan juga. Alih-alih mau selfie, malah ketabrak hehehe.

Makanya sampai sekarang, saya belum punya foto selfie di depan Tugu Walet. Bisa dibayangkan kan, agak ribet bagi saya yang sering selfie mengandalkan bantuan tripod. Tapi kalau difotoin juga harus sabar, agar fotonya jangan bocor hehehe.

Selain itu, bagi yang tidak mempunyai mental seleb, tidak bakal pede selfie di sana. Bakalan ditonton pengendara hahaha. Sebagai putaran kendaran, pastinya Tugu Lawet ini selalu ramai di jam kerja. Padahal Tugu Lawet ini sangat keren, karena bisa dijepret dari berbagai sudut berbeda.

Makanya saat ini Kebumen sedang membangun satu tugu lagi. Pas saya ke sana, tugunya memamh belum rampung. Saat saya baca di papan, namanya tugu lanjutan tugu lawet. Malah sesuai yang saya baca, memang pernah diadakan lomba desain tugu. Bisa jadi, tugu yang sedang dibangun ini adalah pemenang lomba desain itu.

Tugu lanjutan Tugu Lawet

Dari pandangan saya, ini tugunya berbentuk kupu-kupu. Apa karena nama lain tugu lawet ini adalah kuputarung ya? Atau mengarah pada Taman kupu-kupu di daerah Alian? Saya kurang jelas. Pas saya tanya salah satu Bapak yang bertugas, dia nyengir saja nyuekin saya hahaa.

Yang pasti, saat saya browsing, tugu baru ini memang nantinya untuj fasilitas umun. Untuk memecah keramaian agar tidak berpusat di alun-aluns aja. Soalnya, di dekat tugu ada pusat kuliner malam kebumen di pasar Temenggungan. Harapannya nantinya akan ramai dikunjungi masayarat, bahkan wisatawan.

Semua harapan dan doa saya aminin saja. Harapan saya, Tugu Lawet harus terus ada, ada sudah melekat dengan Kebumen. Boleh ada perubahan, asalkan semuanya menjadi lebih baik. Aamiin.

Bambang Irwanto

Subscribe to receive free email updates:

26 Responses to "Tugu Lawet Ikonnya Kota Kebumen"

  1. Aku baru tahu walet itu nama aliasnya lawet di Kebumen. Pantas saja nama tugunya Tugu Lawet
    Dan suka dengan penampakan yang terakhir, kelihatan natural memang ya
    Hm penasaran juga dengan penampakan tugu baru, apakah anmanya Tugu kupu Putih? Ku tunggu cerita Mas Bambang selanjutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Dian. Makanya pernah saya tanyakan juga. Itu burung lawet apa sama dengan burung walet? hahaha.
      Dan memang sebelum meninggal, Bapak Teguh meminta tugunya dibuat senatural mungkin saja, termasuk dicat putih.

      Siap, Mbak Dian. Saya juga penasaran dengan tugu lanjutan ini hehehe.

      Delete
  2. Walahhh dicuekin itu rasanya perih toh mas. Bapak itu mungkin gak tau, kalo yang nanya ini adalah artis kebumen.
    Tugu lawet isinya walet. Serasa dibolakbalik namanya mas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. benar sekali, Mbak. padahal kalau tau saya artis, pastiBapak itu ngajak foto bareng dan minta tanda tangan hahaha.
      Sama sih, Mbak. Mau sebut walet atau lawet. Tapi lidah orang Kebumen sudah biasa sebut Lawet.

      Delete
  3. Hihihi bener-bener kak. Susah atuh ya kalau mau selfie di tugu itu. Soalnya lalu lalang jalan. Yang ada selain bikin kecelakaan bisa bikin macet jalan ama diteriakin orang-orang ya hihihi 😂. Itu tingginya berapa ya tugunya? Perasaan tadi ga ada di atas tulisannya ya. Makasih kak tulisannya. Baca ini kayak lagi belajar sejarah aku. Aku juga baru tahu klo kota kebumen itu ciri khasnya burung walet ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, Mbak Yeni. Alih-alih mau selfie, malah idih malu, deh! hahaha.
      Tingginya 10 meter, Mbak Yeni. Dan sudah saya tuliskan.

      Delete
  4. Lawet dan Walet, masih nyambung juga ya kalau dibolak-balik. Aku belum pernah ke Kebumen, dan dari tulisan ini baru tahu kalau kota itu terkenal dengan usaha Sarang Burung Waletnya. Makasih ya mas, jadi lebih menghargai kalau nanti ada kesmepatan nyicipin sarang burung wallet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, 5 hurufnya dibolak-balik hehehe.
      Tapi zaman keemasan sarang burung walet mungkin dulu ya, Mbak.
      Sekarang mungkin sudah berkurang, karena sering diburu juga.

      Delete
  5. SAlut diriku sama dirimu mba eh mas Bambang.
    Satu tugu bisa dibuat jadi satu tulisan.
    Kalo aku mungkin cuma dua baris kata saja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awas iseng lagi ya, Mbak Vivi. denda bakso 5 mangkuk hahaha.
      Jadi kalau bahannya sedikit, kita kaitkan saja dengan sejarahnya, Mbak. Info-info penting seputarnya. karena kan semua saling terkait. pembaca pun ingin mengetahui apa saja seputar tugu itu.

      Delete
  6. Kukira gambar paling atas ada orang-orangan beneran loh mas, patung. haha. Sayangnya air mancurnya udah nggk aktif lagi ya, kayaknya bakal nyegerin aja klo misal pengendara lewat situ trus ada air airnya gitu.. apa mungkin air mancurnya menganggu konesentrasi pengendara ya kok udah nggk diaktifin lgi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena dijadikan bundaran putaran lalu lintas, maka agak riskan bagi pengendara juga, Mas Suga. Misalnya besi berbentuk bunga itu kan agak keluar. Lalu mungkin air mancur itu membasahi jalan. Kalau kendaraan yang bannya agak gundul, bahaya juga. belum kalau hujan.
      Ini masalahnya, areanya tidak luas. jadi kalau mau dipercantik dengan penambahan ini itu, memang agak riskan. Makanya dibangun tugu tambahan baru.

      Delete
  7. Belom pernah mampir atau main ke kebumen aku ..ada tapi temen online yang disana juga...jadi kalau mampir kesana bisa berfoto disini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajib mampir, Mbak. karena wisata kebumen sangat banyak dan memikat. Pokoknya puas wisata kalau ke Kebumen hehehe.

      Delete
  8. Wah, jadi ikonnya kota kebumen ya, emang keren sih tugunya, secara filosofi bagus, artistiknya juga oke, penempatannya pas di jantung kota pulak, makin keren lah. Kapan-kapan semoga saya bisa melihat langsung tugu ini. Amin......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, Mas Rori. Pokoknya kalau main ke Kebumen puas, Mas. Banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi.

      Delete
  9. Pemerintah Kota Kebumen keren bikin tugu lagi dan perhatian. Di kota kecil saya ada juga tugu tetapi kurang historis, hi hi.
    Saya pernah baca artikel majalah Intisari lawas soal bersabung nyawa di sarang walet. Seram, banget karena sangat berisiko memanen sarang walet itu bagi pengunduh walet. Nyawa taruhannya. Apalagi ketinggiannya sanmgat tak terkira, pakai jalinan tangga rotan yang asal bikin.
    Harga walet memang mahal. Terutama walet yang bersarang liar di tebing curam itu.
    Lain kali bikin tulisan tentang cara beternak sarang burung walet yang menghasilkan. Pengen tahu juga bisakah sarang walet didapat dengan cara lebih aman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang, Mbak Rogyati. Saya pun pernah nonton di Jejak Petualangan Trans 7, bagaimana para pencari sarang walet ini bertarung nyawa. Burung walet pintar bikin sarangnya di tempat susah, dengan arus deras di bawahnya.

      Insya Allah akan saya tulis ya, Mbak. Cari info dan narasumber dulu hehehe.

      Delete
  10. Kalau enggak baca enggak bakal tahu itu yang naik2 ternyata patung juga.
    Owalah jd di sana tu terkenal juga dengan sarang walet eh lawetnya ya?
    Konon katanya mihil ya pak krn sarang walet khasiatnya banyak hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang harganya sangat mahal, Mbak April. Soalnya khasiatnya banyak. Selain itu, karena memang sudah dicari.

      Delete
  11. tugunya benar benar heroik.sarang walet pantas dihargai mahal karena perjuangan untuk mendapatkanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Dona. Tugu lawet memang berkaitan dengan penghasilan Kebumen dari sarang burung walet. Selain itu, ada kisahnya juga pertarungan Tumenggung Kolopaking dan Kupu Tarung.

      Delete
  12. Aslinya tadi mau tanya apakah terjadi typo dari Tugu Walet menjadi Tugu Lawet. Ternyata warga memang menyebutnya lawet, ya. Tuguya bagus, lho. Sangat menceritakan kondisi zaman dahulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Susi. karena lidah ornag Kebumen sudah fasih menyebut Lawet, jadi ya burung lawet dan tugu lawet hehehe.

      Delete
  13. Tugaunya gede banget ya.

    Jadi lawet itu sama dengan walet by Kak? Baru tau saya.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.