} Kesejukan di Bendungan Mrica - Cerita Bambang Irwanto

Kesejukan di Bendungan Mrica

Kesejukan di Bendungan Mrica Banjarnegara - Saya awalnya tidak ada rencana mau ke bendungan Mrica ini. Hanya pas browsing soal waduk, saya dapat info dan baru tahu di Banjarnegera ada bendungan juga. Makanya, pas hari rabu, 11 Desenber 2019, waktu saya iseng saja naik motor dari Gombong - Sempor -terus ke Banjarnegara, saya suprais karena tiba-tiba di perjalanan melihat plang bertuliskan "Obyek Wisata Waduk Mrica".



Wah, mantap.. kejutan yang tak terduga, gumam saya dalam hati. Maka tanpa ragu, saya langsung membelokkan motor saya ke arah masuk Bendungan Mrica ini. Yang bikin saya heppi, karena letak bendungan ini ternyata dekat dengan jalan raya.

Saya pun mulai menyusuri dengan pelan jalanan beraspal tapi tidak terlalu mulus itu. Tidak sampai sekitar 200 meter, saya membaca sebuah plang lagi bertuliskan “Dermaga Perahu”. Dan saat semakin mendekat, saya melihat memang loket penjualan tiket. Ada juga tanah lapang yang cukup luas untuk parkir kendaraan. Pikir saya, pasti ini pintu masuk ke Bendungan Mrica.



Tapi kok sepi dan tutup. Hanya tampak dua orang Bapak yang sedang beristirahat sehabis sepedaan. Pikir saya lagi, mungkin memang belum buka, ya! Jadi saya memutuskan lanjut saya dulu sampai mentok jalan. Hitung-hitung mengenal lokasi dulu hehehe.



Ternyata, pas mentok, jalanan itu bercabang. Belok kiri sepertinya menuju sebuah jalan keluar area jalan bendungan, sedangkan yang satu ternyata menuju bendungan. Saya pun membelokkan motor saya ke arah kiri.

Wah pas mentok ada dua  jalan bercabang lagi. Ke kiri itu area vital PLTA, sedangkan ke kanan mengarah ke bendungan. Tampak di sisi jalan ada tembok sebatas leher saya. Nah, dari sini, saya bisa melihat area bendungan. Lalu jalanan ini mentoknya ke mana ya?



Saya pun melajukan motor mengikuti jalan. Owalah... ternyata jalan ini mengarah ke pintu masuk bendungan. Jadi loket tadi itu memang loket yang langsung ke dermaga perahu. Cihui... saya pun bisa masuk ke Bendungan Mrica.



Pas saya mendekati loket, seorang Bapak langsung menghampiri saya. "Mau masuk, Pak?" tanyanya.
"Iya, Pak!” jawab saya.
"Baik bayar restribusi dulu, ya!"

Bapak itu pun lalu masuk ke dalam loket, kemudian memberikan saya dua lembar tiket. Satu tiket masik seharga 3 ribu dan   tiket parkir 2 ribu. Total 5 ribu. Seperti biasa, tiketnya pas di hati dan kantong saya hahaha.



Nah, saya lalu bingung nih, tempat parkirnya di mana, ya? Saya pun bertanya pada Bapak Penjaga loket itu. Ternyata kendaraan bisa masuk, dan parkirnya di area wisata saja. Asyik.. keren nih, tidak perlu jalan kaki. Lumayan bisa menghemat tenaga. Soalnya perjalanan saya kan lumayan jauh hehehe.

Saya pun mulai melajukan motor saya.  Pemandangan pohon hijau langsung menyapa saya. Sejauh mata saya memandang, hijau royo-royo. Mata saya langsung sejuk. Dan saya langsung girang pas lihat banyak pohon beringin favorit saya buat pose-pose hahaha. Dengan akar menjuntainya, seakan-akan memanggil saya untuk segera pemotretan di sana. Sabar.. saya muter-muter dulu Hahaha.




Tidak terlalu jauh melajukan motor dari loket tadi, saya menemukan jalanan bercabang. Di area ini ternyata banyak jalanan bercabang dua. Tidak apa sih, asal jangan cintamu padanya saja yang ebrcabang dua hahaha. Saya pun coba belok ke kiri dulu yang jalannya agak menanjak. Oh, ternyata jalanan ini mengarah ke taman dengan berbagai fasilitasnya, termasuk toilet.



Area di atas cukup luas. Hanya sayangnya, fasilitas yang ada sudah lama tidak dicat, jadi terlihat kusam. Terus beberapa atap itu internitnya sudah ada yang berlubang. Hanya kebersihan tetap terjaga, karena tampak ada seorang Bapak sedang menyapu area.




Padahal dari atas sini keren lho, duduk-duduk sambil menikmati pemandangan bendungan, plus pemandangan hutan hijau. Malah kalau mau turun ke bawah juga bisa, soalnya ada tangga penghubung. Jadi tidak perlu mutar jauh lagi.



Saya pun bergegas turun lagi. Saya penasaran jalan yang satunya menuju mana ya? Maka saya susuri jalan itu. Sayang, jalanannya tidak mulus. Batu-batu kecil seperti berhamburan di jalanan.

Pelan-pelan saya terus menyusuri. Nah, jalanan ini diapit oleh 2 view. Sisi satu hutan hijau dan satu sisi bendungan. Saya terus saja melajukan motor. Dan ternyata... kok saya sampai di loket yang tadi hahaha. Persis bola dunia hahaha. Ternyata, jalanan ini mengitari hutan hijau yang puncaknya tadi dijadikan taman dan fasilitas lainnya.



Saya pun memutuskan putar balik lagi. Saya kembali ke jalan yang diapit hutan dan bendungan. Nah,  di sini saya berhenti untuk melihat pemandangan bendungan.

Ternyata struktur alam bendungan Mrica ini berbeda dengan Bendungan Sempor atau Bendungan Wadaslintang yang banyak bebatuan dan latar bukit. Bendungan Mrica ini menurut saya, tidak terlalu menonjol keindahan alamnya.



Keistimewaanya adalah adanya hutan hijau ini yang berada di depannya. Jadi untuk keperluan foto, masih jauh dibandingkan bendungan sempor atau wadadlinang. Ini menurut saya ya, tidak tahu menurut Mas Anang atau Papa Bebi Romeo hahaha.



Tampak ada tangga yang turun menuju dermaga-dermaga buat naik perahu, bahkan adi sana ada loketnya juga. Hanya karena debit air sedikit, ya tidak bisa. Sisi bendungan malah ditumbuhi banyak rumput. Tampak banyak juga orang yang memancing. Ada juga warga setempat mencari rumput untuk makanan ternak.



Setelah beristrihat sejenak, saya pun siap-siap melakukan pemotretan hahaha. Saya pun menuju lokasi yang tadi sudah saya incar dan saya tandai. Pastinya ya, pohon beringin yang jadi pemikat saya.

Hanya kali ini saya ada kendala sedikit, pemirsa. Jadi saya memamg bawa tripod, tapi... saya tidak bawa tempat taruh pencepit hape atau taruh kamera di bold head tripod. Kemarin saya memang pasang di kamera, dan saya lupa copot kembali. Saya tahunya, pas mau selfie di Tugu Renville di daerah Joho kecamatan Bawang tadi.



Tapi untungnya... (masih untung ya, namanya juga orang jawa hahaha) saya masih bawa gorilla pod yang selalu satu tas dengan tripod. Jadi saya akal-akali, walau tidak bisa seluasa pakai penjepit kamera hape yang biasa. Apalagi kondisi tempat pemotretan yang sedikit terjal. Rumput dan tanaman juga masih baca, karena semalam kayaknya hujan. Jadi agak licin hehehe.




Tapi itu bukan masalah besar bagi seorang model profesial seperti saya wkwkwkwkw. Semua bisa disiasati. Saya pun dengan cepat langsung ganti baju, lalu asyik pose-pose. Lumayan... karena view-nya sudah sangat mendukung. Setidaknya saya bisa menunjukkan salah satu sisi keindahan bendungan Mrica ini. Jadi harapannya, lewat foto saya, orang jadi tertarik untuk ke sini.




Secara keseluruhan, Bendungan Mrica ini keren untuk tempat wisata. Pas untuk seluruh anggota keluarga. Tiketnya juga sangat pas untuk semua kalangan.

Di Bendungan Mrica tidak hanya bisa lihat bendungan, tapi juga merasakan kesejukan. Bisa olahraga misalnya lari atau naik sepeda. Bahkan kalau pas debit air bendungan banyak, bisa perahu.



Catatannya, jalanan diperbaiki saja, agar akses lebih lancar. Fasilitas umun yang rusak diperbaiki. Kemudian dicat kembali, agar kesannya lebih segar dan baru. Terus biar lebih memikat, bisa ditambah wahana selfie yang kekinian. Pengunjung pasti akan senang datang ke Bendungan Mrica Banjarnegara ini. Intinya menyesuaikan dengan kebutuhan tempat wisata zaman now, tapi tidak mengubah tempat wisatanya. Selamat jalan-jalan, teman-teman.

Bambang Irwanto

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kesejukan di Bendungan Mrica "

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.