} Berburu Jajanan Langka di Pasar Pereng Kali Kemit Grenggeng Karanganyar Kebumen. - Cerita Bambang Irwanto

Berburu Jajanan Langka di Pasar Pereng Kali Kemit Grenggeng Karanganyar Kebumen.

Berburu Jajanan Langka di Pasar Pereng Kali Kemit Grenggeng Karanganyar Kebumen - Sejak saya tahu ada Pasar Pereng Kali Kemit grenggeng Karanganyar Kebumen, maka saya selalu menyempatkan ke sana. Pokoknya, saya sudah lingkari tanggal di kalender hari minggu yang pas jatuhnya minggu legi atau minggu manis. Selalu ada sensasi berbeda, setiap menyambangi pasar jajanan tradisional yang diadakan setiap 35 hari sekali ini.



Nah, di bulan Oktober ini, Pasar Pereng Kali jatuh pada hari minggu 13 Oktober 2019. Makanya, sejak sabtu malam, saya sudah kepoin akun instagram Pasar Pereng Kali, karena setiap diadakan, temanya pasti berbeda. Ternyata tema kali ini adalah nostalgia. Wih... siap-siap ikut bersenandung nih. Nantikanlah aku di Teluk Bayur... hahaha



Pukul setengah 7 pagi, saya sudah siap berangkat menuju lokasi. Kok pagi banget Mas Bambang yang tampan rupawan, lucu, imut, dan menggemaskan? Apa pasarnya sudah buka? Atau kerena jauh lokasinya?

Baca Juga : Serunya Mengunjungi Pasar Pereng Kali Kemit

Tidak kepagian kok. Soalnya Pasar Pereng Kali sudah buka sejak pukul 6 pagi, lalu tutup hanya sampai pukul 12 siang. Makanya harus cepat datangnya. Telat dikit jajanan incaran akan habis. Tinggal nangis deh, di bawah pohon bambu hahaha.

Lima belas menit kemudian,  saya sudah sampai di lokasi. Jaraknya dekat sih, dari rumah saya. Malah saya lewat jalur belakang, tanpa harus melewati jalan raya. Bebas pakai helm hahaha.

Setelah parkir motor dan bayar 3 ribu, saya pun langsung bergegas ke lokasi yany jaraknya 100 meter dari parkiran. Tuh kan... pengunjung sudah banyak. Soalnya bukan saya saja yang menunggu Pasar Pereng Kali ini, tapi banyak orang juga. Bahkan ada yang sengaja datang dari luar Kebumen. Yang masih wilayah kebumen, tapi agak jauh, biasanya datang rombongan. Pakai bus 3/4 atau mikrolet.



Tidak lama, saya sudah sampai di gerbang Pasar Pereng Kali. Sebelum masuk, tukar uang kepeng dulu, biar bisa jajan sana sini. 1 kepeng itu seharga 2 ribu rupiah ya, teman-teman. Jadi makanan yang dijual di sini, memang paling murah 2 ribu.


Sssttt.. kali ini misi saya berbeda. Kalau sebelum-sebelumnya saya ke Pasar Pereng Kali ini untuk meliput suasananya sekaligus foto-foto, kali ini saya berburu jajanan pasar yang jarang ditemui sehari-hari. Biar nuansa tulisan saya berbeda. Jadi, walau pas di jalan saya baru ngeh kalau tripod saya ketinggal, saya tidak terlalu masalah. Lupakan acara selfie-selfie tampan rupawan dulu hahaha.



Kelar menukar uang kepeng, saya pun mulai menjelajah mencari jajanan. Nah, rata-rata makanan yang ada sering saya jumpai sehari-hari. Seperti arem-arem, sate ayam, risol, nasi bakar dan lainnya. Makanya sesuai misi, saya pun menyusuri jajanan langka incaran saya.

Dan inilah jajanan langka yang saya temui di Pasar Pereng Kemit :


Clorot



Pertama mata saya menangkap sesuatu yang bentuknya unik. Panjang kayak corong dari lilitan daun janur. Isinya warna cokelat. Ternyata kue ini namanya Clorot. Terbuat dari tepung beras dan gula merah. Dan sepertinya pakai santan kelapa. Seperti jenang ketan, sih.

Cara mengolah sama kayak jenang. Setelah adonan masak, saat masih panas dimasukkan ke slongsongan dari daun kelapa tadi. Rasanya manis dan gurih. Aroma dari daun janur, membuat kue Clorot ini harum. Harganya 1 kepeng per biji.


Jenang Titis



Karena namanya Jenang Titis, jadi saya kira ini terbuat dari tepung beras juga, sama kayak Clorot. Ternyata.. Jenang Titis ini dari tepung ganyong. Nah, ganyong itu sejenis umbi-umbian yang diolah jadi tepung. Proses membuat tepungnya juga panjang.

Cara buatnya sama sih, kayak buat jenang. Nah, biar lebih mantap, diberi potongan kelapa muda. Setelah masak, baru ditaruh di daun. Rasanya agak kenyel-kenyel. Lalu ada sensasi kres-kres dari kelapa muda. Harganya 1 kepeng per biji.


Cenpora



Saya baru pertama kali lihat jajanan ini. Perpaduan warna merah putihnya sangat memikat. Saya pun langsung bertanya apa namanya. Ternyata Cenpora. Eh, pas Mbak penjualnya menyebutkan nama jananannya, ada Ibu-Ibu malah ngakak. Entap apa yang merasukimu, Bu? hahaha

Cenpora ini terbuat dari tepung ketan dan parutan kelapa muda, lalu ada taburan gula pasir juga. Biar menarik, diberi pewarna makanan. Pas saya coba, ini kayaknya masih ‘saudara jauh’ dari Wingko Babat hahaha. Rasanya manis gurih.


Cenil



Saya itu sudah lama tidak makan Cenil. Makanya pas lihat, langsung terpikat hahaha. Saya jadi ingat nyanyi saya pas kecil dulu. Makan Cenil bikin Cenal Cenul...karena rasanya kenyal kenyul  hahaha



Cenil ini kata penjualnya terbuat dari tepung aci  atau kanji. Jadi rasanya kenyel-kenyel. Ditambah taburan gula pasir dan parutan kelapa muda, Cenil ini makin nikmat saat disantap. Harganya sepincuk 1 kepeng  saja.


Lupis



Sekilas model lupis ini kayak buras di Makassar. Hanya bedanya, buras itu dari beras dan santan. Kalau Lupis ini dari beras ketan. Apalagi karena dibungkus daun pisang, itu aromanya harum sekali.



Rasanya yang gurih berpadu dengan manisnya gula jawa. Makin lengkap dengan sensasi kres..kres.. dari kelapa muda. Sepincuk hanya 1 kepeng


Lepet



Lepet ini mengingatkan saya pada makanan sama rasa hanya beda model pas saya masih tinggal di Makassar, yaitu leppe-leppe yang selalu disajikan pas lebaran. Disantap dengan abon ikan atau Bajabu. Hanya Leppe-leppe modelnya panjang. Sama dari ketan dan santan dan dibungkus daun kelapa.

Lepet yang digantung ini sangat memikat saya. Makanya langsung saya beli. Saya langsung membayangkan betapa nikmatnya disantap dengan abon ikan atau rendang hahaha. Lepet serenteng isi 6 biji, harganya 3 kepeng atau 6 ribu


Bubur Kombinasi



Begitu lihat deretan wadah berisi aneka, saya langsung mampir. Pas saya tanya namanya ke penjualnya, Mbak penjualnya bilang, "Namanya bubur kombinasi, soalnya banyak macam. Tapi saya juga menyebutnya bubur Jaipong."

Bubur Jaipong? Memang buatnya sambil nari Jaipong, Mbak?

Eh.. si Mbak malah ngakak.



Tapi benar, bubur kombinasi ini sangat lengkap. Setidaknya ada 8 macam. Mulai dari ketan hitam, bubur candil, bubur sumsum, sagu mutiara, bubur kacang ijo, bubur jagung, dan agar-agar. Ini masih ditambah santan kelapa dan gula merah.



Rasanya memang mantap. Apalagi dinikmati pakai es. Segar banget. Harganya 3 kepeng atau 6 ribu. Menikmati Bubur Kombinasi ini, tidak hanya segar, tapi juga menyehatkan. Pas deh, kalau disantap bulan puasa.


Es Kayu Merah



Nah, ini dia pamungkans dari penjelahan saya mencari jajanan langka di Pasar Pereng Kali Kemit,  yaitu Es Kayu Merah. Pas saya tanya, apa ini sama dengan kayu manis? Kata Bapak penjualnya, sama Mas. Hanya kalau kayu manis kan untuk bumbu. Tapi sebenarnya kayunya merah juga.

Saya pun penasaran ingin mencoba "racikan rahasia" dari Bapak ini. Soalnya katanya, minuman ini bisa menurunkan kolesterol. Jadi kalau kolesterolnya sudah tinggi, bisa dicampur kolang-kaling. Dan racikan ini tercipta dari pengalaman si Bapak yang dulunya punya kolesterol tinggi juga.



Pas saya coba, rasanya mirip-mirip mocha. Mungkin ada karena campuran gula merah. Dan memang makin mantap, pas ditambah dengan susu kental manis. Tapi kayaknya, makin mantap kalau ditemani pisang goreng hahaha.



O, iya. Minuman ini bisa dinikmati pakai es atau tidak ya. Jadis sesuai selera saja. Harga  es Kayu Merah ini 2 kepeng. Tapi kalau pakai susu jadi 3 kepeng. Mau bungkus dibawa pulang juga boleh hehehe.

Nah itu dia jajanan  langka di Pasar Pereng Kali.  Jadi kalau teman-teman pas ke Kebumen dan pas minggu legi, sempatkan mampir ke Pasar Pereng Kali Kemit Grenggeng Karanganyar kebumen. Selamat jalan-jalan, teman-teman.

Bambang Irwanto

Subscribe to receive free email updates:

34 Responses to "Berburu Jajanan Langka di Pasar Pereng Kali Kemit Grenggeng Karanganyar Kebumen."

  1. wow! Ngeliat semua makanannnya bikin kami jadi laper nih mas. Kayaknya seru juga nih sarapan jajanan tradisional yang udah jarang banget ditemui di zaman sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang seru, Kak. Aplagi suasana di tengah rimbunan bambu. ditemani live musik lagi hehehe.

      Delete
  2. aku gagal fokus ama jajanan clorot itu, mungkin diambil dari nama tikus clorot kali yaa . . .

    eh lama kelamaan diperhatikan miril dodol.
    salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal.
      Memang seperti dodol atau dalam bahasa jawa disebut jenang.

      Delete
  3. ini kulineran jaman dulu ya, haha

    aku baru tau loh kalau itu namanya clorot
    yang masih kutemui sekarang ini ya cenil, bubur, lapis. udah itu doang. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, makanya saya sengaja berburu jajajan langka ini. Soalnya kalau hari biasa, nemunya yang standar saja hehehe.

      Delete
  4. Aku penasaran sama Kepeng itu macem mana bentuknya ya mas? heheee
    Jadi mayoritas harganya 1 kepeng atau 2ribu ya. Murce dah ini, bisa sekalian nostakgia jajanan dulu hehe.
    Tapi di pasar sering sih nemuin kayak lupis, cenil, bubur kombinasi yg beda-beda sih, tapi seringnya jenang grendul sama bubur sum-sum mas, ada disitu, hehee.
    Jadi nanti 35 hari kedepan udah beda lagi temanya ya mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Rohmah. Jadi uang kepengnya dari anyaman pandan. dan setiap diadakan, tema berbeda, Mbak.
      Untuk jelasnya, Mbak klik saja link yang ada di postingan menuju postingan khusus suasana Pasar Pereng kali, Mbak.

      Delete
  5. clorot itu bentuknya gmn mas? banyak makanan yg baru denger namanya euy setelah baca ulasannya mas. penasara pengen ngerasain saya nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu fotonya sudah ada Mbak. Jadi bentuknya seperti corong yang terbuat dari daun janur. Rasanya seperti dodol atau jenang.

      Delete
  6. Semua jajanan pasar tradisional yang aku suka. Jadi inget dulu di belakang kampus di Depok ada pasar kayak gini juga tiap minggu pagi. Jajanannya aja yang beda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Saya juga jadi nostalgia. Soalnya beberapa makanan, memang saya santap sejak masih kecil hehehe.

      Delete
  7. Pasar di bawah rimbunan bambu lagi ngetrend ya Mas, sekarang, soalnya saya lihat di beberapa daerah mulai menggalakan juga, paling nggak di Jawa Tengah. Jadi pengin beli makanan di sana deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang Kang Ali. Suasana rimbunnya bambu itu memang eksotis, Kang. Makanya saya usahakan selalu ke sini setiap diadakan hehehe

      Delete
  8. Banyak yaa jajanannya... Saya familiarnya sm cenil, lupis sm lepet. Yummie...enak² semua yaa Mas Bambang. Keren ulasannya nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak, Mbak Mia. Belum jajanan yang umum. kayak risol, martabak, getuk dan lainnya. Makanya saya senang ke sini, Mbak.

      Delete
  9. Aih marake ngiler iki, semua jajanan saya suka. Beda dikit kalo di Palembang lupis itu di bungkus bentuknya segitiga dan yang Lepet itu namanya disini Bongkol.Selebihnya sama aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti memang ada makanan yang sama, hanya bentuk dan namanya berbeda ya, Mbak Dona. Kayak di sini kue ayumas, di Makassar namanya bandang balojo hehehe.

      Delete
  10. Pasti rame dan ditunggu ya, lawong 35 hari sekali. hehe. Lo mas, lupisnya Dijual terpisah ya? biasanya udah masuk anggota cenil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas. Pasar yang sangat dinanti hehehe.
      Dipisah, Mas. Tapi kalau ada yang mau campur, boleh saja. Jadi sesuai selera Mas.

      Delete
  11. Jajanan yang baru ku dengar itu clorot, jenang titis, dan cempora. Dan kliatan enak skali ya mas. Sepertinya kue jadul khas Kebumen ya. Aku mah lebih suka jajan pasar tradisional drpd kueh2 kekinian itu hihihi karena pasti enaknya dan murah meriah juga hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bentuknya khas, dan rasanya enak, Mbak Tika. Apalagi langka. Jarang sekali didapat hari-hari biasa. Makanya saya sengaja berburu, Mbak hehehe.

      Delete
  12. Ini konsepnya mirip kayak Pasar Papringan di Tulung Agung.
    Abis baca ini tambah yakin ini pengen datang ke Kebumen. Pasar pasar kayak gini tuh yang paling aku suka buat dikunjungi. Apalagi kalau jualan jajan jadoel. Aargh... Kagan nahan. Bisa kalap aku dibuatnya.
    Dari semua jajanan, aku pengen nyobain cenpora. Baru tahu dan lihat. Kalau yg lain udah pernah aku coba. Kalau makan jajanan pasar begini, udah enak harganya juga murah meriah.

    Fiks ini, kalau ke Kebumen saya harus seduaikan jadwalnya. Sekalian nyobain kuliner Kebumen di postingan sebelumnya.
    Aargh... Nggak sabar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyam Mas Fano. Makanya pasar Pereng Kali sudah jadi tujuan wisata. orang sengaja mengepaskan waktu ke Kebumen dengan pelaksanaan Pasar pereng Kali.
      Jadi siap-siap dijaga minggu legi ya, Mas. Jangan sampai lolos hahaha.

      Delete
  13. Pasarnya 35 hari sekali? Berarti selapan hari, ya? Tiap Minggu Legi, gitu? Malah tanya-tanya, karena ga ada keterangan mengapa 35 hari. Hihihi...
    memang beberapa pasar tradisional pakai sistem hari pasaran seperti itu.
    eh iya, semua makanan di atas saya kenal dan namanya sama. Tapi beberapa memang harus cari di pasar, dengan rasa pasaran. Yang di sini kelihatan lebih bersih dan lebih sedep.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Susi. Jadi diadaakan setiap 35 hari sekali, setiap minggu legi. dan memang minggu legi itu, selalu jatuhnya tiap 35 hari.
      Dan postingan ini khusus memang memburu jajanan. Karena Pasar Pereng sudah saya ulas di postingan sebelumnya hehehe.

      Delete
  14. Seru banget ya bisa berburu jajanan pasar yg sudah hampir jarang ditemui. Saya paling suka lupis kak. Kl disini udah gak pernah saya liat orang jual lupos selain saat bulan puasa aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru, Mbak Elva. Makanya saya semangat berburu.
      Dan tahun lalu, pas puasa dan pas minggu legi, pasar ini malah tutup hehehe.

      Delete
  15. Pak saya gak mudeng, "kepeng" apaan ya pak, uang receh atau uang2an yang khusus buat jajan di acara tersebut?
    Wah bener2 banyak jajanan tradsional ya. Itu bubur kombinasi lama banget tak makan. Dulu di deket rumah ada org Madura jual enak banget buburnya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi soal uang kepeng itu, sebenarnya sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya khusus jalan-jalan ke Pasar pereng, Mbak April. Dan ada link-nya di artikel ini hehehe.

      Tapi uang kepengnya ini, terbuat dari anyaman bambu, Mbak. pokoknya beda dan unik hehehe.

      Delete
  16. menggungah selera semua cemilan nya itu mas bambang.
    kalau disini ada mbak cenil yang jualan masih keliling. lengkap lagi isian dan temanteman cenilnya . masih harga 5000 disini.
    langsung kepengen cenil kan jadinya. besok beli ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Iya, Mbak Yulia. Pokoknya kalau ke sini, saya pasti selalu semangat. Dan memang tukang Cenil pun sudah tidak ada yang lewat, Mbak.
      Makanya kalau pun pengin, harus berburu ke pasar pagi hehehe.

      Delete
  17. Ya ampun ternyata masih banyak jajanan yg belum aku tahu, ckckck cuma ada beberapa tp dikit bgt yg udah aku tahu, seru ya klo ada jajanan kayak gini numplek jd 1 event, jd bs cobain semua 😁

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.