} Rurri Ceria Lagi - Bambang Irwanto Ripto

Rurri Ceria Lagi

"Apa? Pindah rumah lagi?" Rurri beruang madu langsung terkejut.

"Iya, Kak. Tadi aku dengar kata Ayah. Tuh, Ayah dan Ibu lagi bersiap-siap," Murri, adik Rurri menjelaskan.

Internet Keluarga
(Desain : Canva)

Rurri langsung lemas. Kalau benar yang dikatakan Murri tadi, berarti ini sudah keempat kalinya mereka pindah.

"Ibu.. Ibu...! Ayah.. Ayah!” panggil Rurri.

"Ibu dan Ayah di kamar, Ri!" Sahut ibu.

Rurri bergegas masuk ke dalam kamar orangtuanya. Tampak ibu dan ayahnya sedang membereskan pakaian. Berarti benar kata Murri.

"Kita mau pindah ke mana lagi, Bu?" tanya Rurri.

"Ke kota Madukulo, Ri! Ayah akan ditugaskan di sana!" jawab ibu sambil terus memasukkan pakaian ke dalam koper.

"Wah, itu kan, bukan kota besar, Bu! Pasti sepi. Nanti bagaimana sekolah Rurri dan Murri?"

"Tenang saja! Ayah sudah mengatur semuanya. Lusa kita berangkat. Kali ini Ayah yang menjawab. “Ayo, segera beresi pakaianmu. Barang kita nanti menyusul dikirim ekspedisi.”

Rurri tidak berani bertanya lagi. Ia bergegas masuk ke kamarnya. Aah.. semoga saja pindahnya tidak jadi, harap Rurri dalam hati.

Dua hari kemudian, Rurri bersama keluarganya pindah ke kota Madukulo. Perjalanan sangat jauh, dan harus melalui jalan darat. Rurri dan Murri sampai kelelahan di perjalanan. Seperti dugaan Rurri, kota Madukulo tidak terlalu besar. Tapi kata Ayah, di sini ada pabrik madu besar. Ayah ditugaskan sebagai pengawas di sana.

"Aduh, kita bakalan tidak betah di sini, Mur! Tidak ada hiburan," keluh Rurri.

"Benar sekali, Kak. Sebentar saja, aku sudah bosan," tambah Murri

Rurri mengangguk setuju. Ia sebenarnya, tidak suka kalau ayahnya pindah-pindah tugas terus. Itu berarti, mereka harus pindah rumah lagi. Rurri harus beradaptasi lagi dengan teman baru dan lingkungan. Apalagi ini Madukulo jauh kalau mau ke mana-mana.

Esok harinya, Rurri tak bersemangat berangkat ke sekolah barunya. Ia jadi teringat dengan Kelli Kelinci, sahabatnya di sekolah lamanya dulu. Mereka setiap hari berangkat dan pulang sekolah bersama.

Usai berkenalan, Bu Tikmi Sapi menyuruh Rurri duduk di samping Dizi si anak kambing. Karena pelajaran sudah mulai, Mereka belum sempat mengobrol. Saat istirahat, Dizi mengajak  Rurri duduk di taman sekolah.

"Halo, namaku Dizi Pemaika," Dizi mengulurkan tangan mengajak salaman.

Dengan malas Rurri menjabat tangan Dizi. Tapi seketika ia ingat sesuatu. "Dizi Pamaika? Seperti nama penulis cerita anak di majalah anak Sayang Semua," Rurri menyebutkan majalah yang dilangganinya dulu.

Dizi tersenyum. "Itu memang aku. Kebetulan aku suka menulis cerita dan mengirimkan ke majalah Sayang semua."

Rurri langsung terkejut. Ia tidak menyangka akan satu kelas, bahkan sebangku dengan penulis cerita anak favoritnya.

"Aku kira, kamu tinggal di kota besar. Kok bisa kamu mengirim cerita anak dengan lancar?"

Baru saja Dizi mau menjelaskan, bel tanda masuk berbunyi.

"Nanti aku ceritakan, ya!" janji Dizi.

Rurri mengangguk, walau dia penasaran sekali.

Sayangnya, saat pulang sekolah, Rurri sudah dijemput dengan ibunya. Rurri pun harus bergegas pulang.

“Kalau begitu, besok kamu main saja ke rumahku. Aku tinggal di jalan Mangga no. 10,” pesan Dizi.

“Baiklah.. Aku akan ke rumahmu, ya!”

Hari minggu pun tiba. Setelah mandi dan sarapan, Rurri pergi ke rumah Dizi. Ternyata jaraknya tidak terlalu jauh. Nanti Rurri akan mengajak Dizi berangkat dan pulang sekolah bersama.

“Rurri, akhirnya kamu datang juga!” sambut Dizi. “Yuk, masuk!” 

Rurri mengikuti langkah Dizi. Tenyata rumah Dizi sangat nyaman. Barang-barang dalam rumahnya tertata rapi. Udara sejuk, karena banyak pepohonon di sekitar rumah Dizi.

"Eh, rumahmu sudah ada internet, ya?" Tanya Rurri tak percaya saat melihat box internet terpasang di dekat televisi di ruang keluarga.

internetnya Indonesia
Desain : Canva

"Sudah lama Papaku pasang, sejak aku tinggal di sini. Internetnya kencang, lho!”

Rurri penasaran. Ia membaca internet apa yang dipakai Dizi. IndiHome dari Telkom Grup. 

“Ini internet mana, Dizi?”

“Itu Internetnya Indonesia,” jawab Dizi. “Yuk, kita ke kamarku. Aku akan menunjukkan koleksi buku-buku ceritaku!”

Rurri semakin bersemangat. Dan saat masuk ke kamar Dizi, ia langsung takjub. Wow.. koleksi bacaan Dizi sangat banyak. Tertata rapi. Bahkan ada beberapa cerita yang dipigura dan dipajang di dinding kamar.

"Bagaimana proses menulismu, Dizi?”

Dizi lalu bercerita pada Rurri. Jadi awalnya, ia suka sekali membaca cerita. Lalu Ia ingin sekali bisa menulis juga. Ia pun belajar menulis, sampai akhirnya bisa. Setelah itu, ia mengirim naskah cerita ke majalah Sayang Semua lewat email.

“Karena internet IndiHome sangat lancar, maka naskah ceritaku segera diterima, Rurri!” Dizi menjelaskan. “Aku bisa menulis cerita apa saja, Cerita Tanpa Batas.”

Rurri jadi senang mendengar cerita Dizi. “Aku jadi ingin belajar menulis cerita juga, Dizi!”

“Kalau kamu mau, nanti aku ajarin. Apalagi bulan depan ada lomba Cerpen IndiHome. Nanti kita sama-sama ikut.”

“Asyik.. Terima kasih, Dizi.

“Sama-sama, Rurri!”

Tiba-tiba pintu kamar Dizi terbuka, lalu muncul mama Dizi dari balik pintu.

“Halo, Rurri! Saya mamanya Dizi. Kemarin Dizi sudah cerita tentang Rurri.” Mama Dizi menyapa dengan ramah.

“Terima kasih, Bibi! Saya baru pindah ke kota Madukulo ini.”

“Yuk, ke ruang keluarga. Bibi sudah siapkan es jeruk dan kue!” ajak mama Dizi.

Dizi segera menarik tangan Rurri menuju ruang keluarga. Sambil menikmati kue dan es jeruk, emreka menonton kartun.

“Wah, televisinya banyak acara anak-anak bagus, ya!” ucap Dizi.

“Kan, selain internet, IndiHome juga bisa televisi berlangganan,” jelas Dizi. 

“IndiHome juga Internet Keluarga, Ri! Pekerjaan Papaku juga jadi lancar. Bahkan Mamaku punya channel youtube. Kan Mamaku suka masak.”

“Pantas saja, kamu senang tinggal di kota Madukulo,” Rurri tersenyum malu.

Menjelang siang, Rurri pamit pulang. Saat sampai depan rumah barunya, Rurri heran. Ada beberapa Rusa dewasa yang memasang sesuatu. 

“Mereka lagi apa, Murri?” tanya Rurri penasaran.

“Katanya, Ayah pasang internet. Biar kita betah tinggal di sini!” jawab Murri.

“Wah.. coba aku lihat apa internetnya,” kata Rurri lalu berlari mendekat ke kotak internetnya. “Wah.. IndiHome. Seperti punya Dizi. Kita bisa belajar, mencari informasi, juga nonton bersama keluarga. Kata Dizi tadi, IndiHome Internet Keluarga.”

“Asyik...!” sorak Murri.

Rurri dan Murri pun lompat-lompat kegirangan. Sepertinya Rurri sudah ceria kembali. Ia pasti betah tinggal di kota Madukulo.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rurri Ceria Lagi"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.