} Jalan-Jalan Tipis ke Malioboro - Bambang Irwanto Ripto

Jalan-Jalan Tipis ke Malioboro

 Awalnya, saya  sama sekali tidak ada rencana mau ke jalan pas hari rabu 3 November 2021. Pas subuh, bangun, lalu kelar salat subuh saya intip ke luar rumah lewat jendela. Eh kok terang ya cuacanya.



Mendadak saya langsung pengin jalan, sekadar cuci mata. Apalagi mata saya minggu ini agak kriyep-kriyep, dan butuh lihat yang ijo-ijo. Tapi bukan lemper atau cendol ya hahaha.. Soalnya setiap pagi, selalu mendung lalu gerimis. Mending tidur lagi kan... hahaha.

Langsung saya bergerak gercap. Ambil ransel, masukin baju ganti, kamera, Tripod lainnya, berangkat. Tujuan saya ingin eksplor daerah Purworejo. Walau pernah ke sana, tapi baru sempat eksplor alun-alun saja hehehe.


Drama di Pagi Hari

Pukul setengah 6 pagi, saya sudah melajukan motor. Walau bensin masih ada setengah, saya membelokkan motor ke pom bensin. Isi 10 ribu saja dulu. Nanti gampang isi lagi.

Eh, belum juga meninggal Pom bensin, kok perut agak mules ya. Saya pun memutuskan balik ke toilet dulu. Daripada gelisahan sepanjang jalan  hahaha. Habis itu legaaaaa... Lanjut perjalanan. 

Saya pun mulai mengaktifkan kamera brica saya. Ceritanya mau motovlog, tapi khusus yang lokasi yang keren saja. Matahari pagi menyambut saya. Warna jingganya cantik sekali. 

Alhamdulillah perjalanan lancar dan saya sudah memasuki. Kota kebumen. Tapi pas di alun-alun, baterai kamera saya sudah lowbat. Alamak... Padahal seingat saya, sudah saya chas full lalu tidak saya gunakan. 

Sebenarnya bisa saja saya chas dulu pakai powerbank. Tapi bakalan menyita waktu. Akhirnya saya memutuskan tidak. Lanjut motovlog dan menikmati perjalanan saja. 

Walau sedikit kecewa tidak bisa motovlog, tapi saya tetap menikmati perjalanan kali ini. Suasana pagi ini cerah sekali. Saya terus. melajukan motor saya melewati daerah Kutowinangun, Prembun, lalu pukul 7 kurang, saya sudah sampai di daerah Kutoarjo. 

Saya memutuskan mampir ke salah satu penjual sarapan. Ada nasi rames, nasi uduk dan lontong sayur. Saya pilih nasi uduk saja dengan lauk orek tempe, bihun, irisan telur dadar, tempe goreng dan kerupuk. Cukup 7 ribu saja. 


Ganti Tujuan

Perut kenyang, saya melanjutkan perjalanan. Suasana sudah mulai ramai, karena bersamaan dengan berangkat orang kantor dan anak sekolahan. Saya pun mulai memasuki daerah Purworejo. Namun sebelum masuk kotanya, kok saya berbelok saya ke arah Yogya hehehe.

Jadi sekadar info kepada pemirsa hahaha, saya itu memang ingin sekali naik motor dari Kebumen ke Yogya. Soalnya belum pernah. Walau saya sering ke Yogya, selalu naik bus atau kereta. Jadi ada rasa penasaran hehehe.


Selfie-Selfie Mulai...

Beberapa kilometer melajukan motor, saya berhenti karena tertarik taman Pendowo yang menampilkan 5 sosok patung dewa. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah... selfie hahaha. Hanya... karena letaknya di sisi lampu merah, jadi saya tidak mengeluarkan tripod, dan bergaya seadanya saja hehehe. 



Lanjut perjalanan dan melewati daerah Bagelen. Wow.. Saya terpincut dengan taman Bagelen yang didominasi durian. Dan memang daerah ini terkenal dengan duriannya. Selfie lagi. Kali ini saya menggunakan gorilla pod yang ditaruh di atas jok motor... Buncissssss.



Matahari semakin tinggi dan udara mulai panas. Tapi saya terus semangat melajukan motor saya. Soalnya ini pengalaman baru buat saya. Dan naik motor itu ada keuntungannya. Walau badan pegal dikit hahaha, tapi saya bisa mampir di tempat-tempat yang asyik. Nah, salah satunya bandara baru yogya di daerah Kulonprogo.



Awalnya saya cuma berhenti dan. Memotret di depan saja. Tapi kok ada. patung keren itu. Makanya saya berhenti. Pas saya cari infonya, patung selamat datang ini bernama Hamemayu Hayuningrat yang berarti Ibu Bumi Bapak Angkasa. Keren Sekali. Lagi, gorilla pod jadi andalan hehehe. 

Baru sebentar melajukan motor, Saya mampir ke pomom bensin tidak jauh dari bandara. Seperti baru buka. Karangan bunga banyak berjejer. Yang isi bahan bakar masih sepi. Hanya sayangnya, mereka kurang siap dengan uang kembalian. Jadi butuh beberapa menit. Kalau antrean panjang, lumayan juga tuh. 


Drama lagi...

Lanjut lagi perjalanan. Pas di pertigaan saya agak. Galau. Ke kiri menuju kota Wates dan lurus ke arah bantul. Dan saya malah lurus hahaha. Hanya.. semakin lama, saya baru ngeh, kok jalanan tidak lebar?  Bus-bus besar juga tidak ada lewat. Tapi saya pede saja, karena berpikir pasti ada jalan tembus. 

Pas. Pertigaan, ada plang yang belok ke kiri menuju Yogya. Saya pun belok dan melaku di daerah Sentolo. Saya mulai tenang, karena yakin nih, sudah pas jalurnya. Akhirnya, sampai ketemu tugu dan kembali ke jalan besar. Horeeee... Bertemu lagi bus. Akhirnya saya ikuti jalan sampai malioboro.


Malioboro... Kulo Te’ko

Matahari semakin terik saat saya memarkir motor di kawasan Malioboro. Tiketnya 3000 dan langsung dibayar begitu masuk. Setelah itu saya memutuskan menyusuri Malioboro. Target saya cuma. Selfie-selfie. Di dua titik, di plang jalan Malioboro dan titik nol. Niat benar ya.. hahaha.

Pertama, saya menuju titik 0 dulu, karena lebih dekat dengan tempat parkir motor. Tampak sudah banyak pengunjung yang pose-pose di sana. Benteng ditutup, karena ada perbaikan. 

Saya pun langsung memasang kamera pada tripod. Timer pas kalau 10 detik, biar tidak perlu berlari, walau jaraknya dekat. Saya pun mulai beraksi. Walau dilihatin pengendara yang nunggu lampu hijau, saya pede saja tuh. Namanya juga mantan cover boy wkwkwkw.





Kelar di titik 0, saya berjalan santuy menuju plang jalan Maliboro. Kali ini saya ambil plang yang di tengah jalan Malioboro saja. Tidak terlalu ramai orang yang selfie di sini. Sebentar saja saya sudah selesai. Kembali.. buncisss. Eh walau pakai masker, senyum tetap hahaha.



Saya pun memutuskan menyusuri jalan Malioboro. Saya tertarik foto dengan patung prajurit kerajaan yang berada di perbatasan zona. Sepertinya, di waktu-waktu kemarin, kawasan Malioboro ini dibatasi tiap zona. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah ramai.



Malioboro. Sudah ramai. Waktu makan siang sudah tiba. Para penjual sudah ramai menggelar. Dan saya pun berniat mencari makanan. Namun kok belum ketemu yang sreg, karena sebenarnya, saya itu lagi ingin makan sate padang hahaha.



Akhirnya saya tergoda beli lunpia isi sayur dan telur puyuh satunya seharga 6 ribu dan saya membeli 2 biji. Saya pun mencari bangku kosong, duduk, menikmati lunpia, sambil melihat suasana jalan Malioboro. Ternyata makam lunpia 2 biji kenyang juga hahaha. Kayaknya saya tidak perlu makan siang dulu.


Perjalanan Pulang

Setengah jam kemudian, saya memutuskan meninggalkan Malioboro, dan pulang. Mungkin karena tujuan saya naik motor dar Kebumen ke Yogya sudah tercapai, jadi tidak ada keinginan lagi untuk menyusuri kota Yogya. Soalnya sebelumnya sudah pernah.

Dan ternyata, saya kok salah belok lagi ke daerah Bantul hahaha. Tapi saya tetap pede saja, karena saya yakin ada jalan tembusannya. Dan memang selama ini, saya kalau ngebolang jarang mengandalkan map. Saya lebih suka lihat plang jalan atau bertanya pada warga sekitar.

Pas di dearah Sedayu, saya kok tertarik melihat plang bertuliskan “Memorial Jendral Besar Soeharto”. Aya lalu ingat, sepertinya Pak Soeharti memang lahirnya di daerah itu. Karena hanya berjarak 500 meter, maka saya memutuskan berbelok.



Sayangnya lokasi sepi, saya jadi agak ragu untuk masuk. Saya hanya mengintip dari luar lewat pintu gerbang yang terbuka sedikit. Tampak patung seluruh badan Pak Soeharto di depan. Mungkin next saya akan mampir.

Perjalanan saya lanjutkan. Dan benar feeling saya. Akhirnya kembali saya dipertemukan dengan jalur sebelumnya saat saya menuju Yogya. Hore.. bertemu bus-bus besar lagi hahaha.Saya sempat tergoda mampir ke. Pantai Galah, tapi takut kesorean, saya pun lanjut terus. 

Akhirnya sampai di daerah Petanahan. Saya tergoda mampir mencoba es. Pisang ijo. Ternyata yang jual orang Jawa. Secara rasa dan penyajian sudah mirip, ya. Hanya ukuran pisang ijonya agak kecil, karena katanya disesuaikan harganya. Terus sirupnya pakai yang Nikki Sari.Pastinya sudah mencari sirup DHT khas Makassar.



Sebelum pukul 3 sore, saya sudah sampai di rumah. Hati senang walaupun tak beli bakpia hahaha. Next saya mau touring lagi. Pastinya dengan persiapan yang matang.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Jalan-Jalan Tipis ke Malioboro"

  1. perjalanan yang nggak diduga-duga alias spontan aja ya mas
    aku penasaran sama daerah Prembun, namanya unik soalnya.
    ngeliat foto es pisang ijo jadi mikir apa besok aku beli juga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Nuna. Justru yang spontan, malah sering berhasil, Mbak. Yang saya rencanakan, malah malas jalan hahaha.
      Prembun itu salah satu kecamatan di Kebumen, Mbak.
      Jadi kalau ke Yogya dan lewat jalur kota, pasti lewati hehehe.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Bila berkenan, silakan meninggal jejak manisnya di komentar. Dilarang copas seluruh isi tulisan di blog ini tanpa seizin saya. Bila ingin dishare atau diposting kembali, harap mencantumkan sumbernya. Diharap tidak memasukan link hidup di komentar, ya. Maaf sekali akan saya hapus. Terima kasih dan salam semangat menulis.